Travel

    Puncak Rasul, Kuliner Kesultanan yang Sarat Makna Budaya Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    25 September 2026 pukul 14:23 WITA

    Puncak Rasul. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Puncak Rasul menjadi salah satu kuliner tradisional Berau yang erat kaitannya dengan sejarah dan budaya Kesultanan Berau. Selain menjadi hidangan dalam acara tertentu, kuliner berbahan dasar ketan ini memiliki filosofi yang menggambarkan nilai kehidupan masyarakat.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pelestarian kuliner tradisional menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya daerah agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

    "Kami dari Disbudpar selama ini berupaya mencari cara bagaimana kita melestarikan budaya kita, dalam hal ini budaya terkait dengan makanan ataupun kuliner," ujar Yudha.

    Dirinya juga menjelaskan, Puncak Rasul biasanya disajikan oleh masyarakat Banua di lingkungan kerabat kedua kesultanan. Hidangan ini hadir dalam berbagai kegiatan, seperti acara syukuran, peringatan hari besar Islam hingga acara tertentu yang bersifat sakral.

    "Puncak Rasul ini biasanya disajikan pada acara-acara tertentu, misalnya acara syukuran, kemudian peringatan hari besar Islam, Maulid, Isra Mi'raj ataupun acara-acara sakral tertentu," jelasnya.

    Menurutnya, Puncak Rasul juga memiliki keterkaitan dengan masyarakat kesultanan. Istilah tersebut berasal dari kata "Ra" yang berarti rakyat dan "Sul" yang berarti kesultanan, sehingga dimaknai sebagai rakyat kesultanan.

    Selain sejarah penyajiannya, ia menyampaikan bahwa Puncak Rasul memiliki filosofi melalui tiga warna yang menjadi bagian dari kuliner tersebut, yakni kuning, merah dan putih.

    "Warna kuning itu simbol kerajaan kita Berau, berarti keagungan dan kehormatan. Merah simbol pengabdi kerajaan yang mengayomi dan melindungi masyarakatnya. Sedangkan putih melambangkan kerukunan masyarakat di Kabupaten Berau," tuturnya.

    Ia menilai, makna yang terkandung dalam Puncak Rasul membuat kuliner tersebut tidak hanya menjadi hidangan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Berau. Karena itu, pengenalan kepada generasi muda dinilai penting agar nilai sejarah dan filosofi di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan.

    "Jadi bukan hanya sekadar makanan, tetapi ada nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Ini yang harus kita kenalkan kepada generasi muda agar mereka mengetahui dan memahami bahwa Berau memiliki kekayaan kuliner yang juga menjadi bagian dari identitas budaya kita," katanya.

    Terakhir, Yudha menyampaikan bahwa filosofi tersebut juga terlihat dari bahan utama Puncak Rasul, yakni ketan. Sifat ketan yang lengket dimaknai sebagai simbol kuatnya hubungan dan kerukunan antarmasyarakat.

    "Bahan utamanya dari ketan, maknanya karena ketan itu bersifat lengket. Artinya, kerukunan masyarakat menjadi simbol dari bahan kuliner Puncak Rasul ini," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Travel

    Puncak Rasul, Kuliner Kesultanan yang Sarat Makna Budaya Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    25 September 2026 pukul 14:23 WITA

    Puncak Rasul. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Puncak Rasul menjadi salah satu kuliner tradisional Berau yang erat kaitannya dengan sejarah dan budaya Kesultanan Berau. Selain menjadi hidangan dalam acara tertentu, kuliner berbahan dasar ketan ini memiliki filosofi yang menggambarkan nilai kehidupan masyarakat.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pelestarian kuliner tradisional menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya daerah agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

    "Kami dari Disbudpar selama ini berupaya mencari cara bagaimana kita melestarikan budaya kita, dalam hal ini budaya terkait dengan makanan ataupun kuliner," ujar Yudha.

    Dirinya juga menjelaskan, Puncak Rasul biasanya disajikan oleh masyarakat Banua di lingkungan kerabat kedua kesultanan. Hidangan ini hadir dalam berbagai kegiatan, seperti acara syukuran, peringatan hari besar Islam hingga acara tertentu yang bersifat sakral.

    "Puncak Rasul ini biasanya disajikan pada acara-acara tertentu, misalnya acara syukuran, kemudian peringatan hari besar Islam, Maulid, Isra Mi'raj ataupun acara-acara sakral tertentu," jelasnya.

    Menurutnya, Puncak Rasul juga memiliki keterkaitan dengan masyarakat kesultanan. Istilah tersebut berasal dari kata "Ra" yang berarti rakyat dan "Sul" yang berarti kesultanan, sehingga dimaknai sebagai rakyat kesultanan.

    Selain sejarah penyajiannya, ia menyampaikan bahwa Puncak Rasul memiliki filosofi melalui tiga warna yang menjadi bagian dari kuliner tersebut, yakni kuning, merah dan putih.

    "Warna kuning itu simbol kerajaan kita Berau, berarti keagungan dan kehormatan. Merah simbol pengabdi kerajaan yang mengayomi dan melindungi masyarakatnya. Sedangkan putih melambangkan kerukunan masyarakat di Kabupaten Berau," tuturnya.

    Ia menilai, makna yang terkandung dalam Puncak Rasul membuat kuliner tersebut tidak hanya menjadi hidangan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Berau. Karena itu, pengenalan kepada generasi muda dinilai penting agar nilai sejarah dan filosofi di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan.

    "Jadi bukan hanya sekadar makanan, tetapi ada nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Ini yang harus kita kenalkan kepada generasi muda agar mereka mengetahui dan memahami bahwa Berau memiliki kekayaan kuliner yang juga menjadi bagian dari identitas budaya kita," katanya.

    Terakhir, Yudha menyampaikan bahwa filosofi tersebut juga terlihat dari bahan utama Puncak Rasul, yakni ketan. Sifat ketan yang lengket dimaknai sebagai simbol kuatnya hubungan dan kerukunan antarmasyarakat.

    "Bahan utamanya dari ketan, maknanya karena ketan itu bersifat lengket. Artinya, kerukunan masyarakat menjadi simbol dari bahan kuliner Puncak Rasul ini," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)