Cari disini...
Travel
Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Festival Erau Adat Kutai 2026 kembali digelar di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), berlangsung selama delapan hari, mulai 20-27 September 2026.
Selain menjadi agenda budaya tahunan, rangkaian Erau juga menghadirkan sejumlah prosesi adat yang memiliki nilai sakral bagi Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura.
Bagi pengunjung dari lokal maupun luar daerah, wajib mengetahui waktu pelaksanaan serta tata krama sebelum datang menyaksikan rangkaian prosesi Erau.
Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Hal itu dinilai penting, mengingat sejumlah prosesi memiliki ketentuan adat yang perlu dihormati oleh setiap pengunjung.
Berdasarkan jadwal rundown kegiatan yang dibuat panitia, pembukaan Erau Adat Kutai berlangsung pada 20 September 2026 yang ditandai dengan pendirian Tiang Ayu di Museum Mulawarman.
Rangkaian kegiatan sakral dilanjutkan dengan Beluluh Sultan dan Bepelas yang digelar selama beberapa hari.
Beluluh Sultan merupakan salah satu prosesi adat dalam rangkaian Erau yang dilakukan Sultan Kutai Kertanegara Ing Martadipura.
Dalam prosesi itu, Sultan menjalani ritual setiap sore sebagai bentuk pembersihan diri secara spiritual sebelum maupun selama menjalankan rangkaian ritual adat Erau.
Prosesi tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap dapat mengganggu Sultan selama pelaksanaan ritual adat.
“Sebelum pembukaan Erau, ada Beluluh pertama yang dilaksanakan di Kedaton. Kemudian setelah pembukaan Erau, setiap sore Sultan melaksanakan Beluluh,” ujar Wakil Ketua Panitia Pelaksana Erau Adat Kutai 2026, Derry, Rabu (23/9/2026).
“Sebelum pelaksanaan Beluluh, ada ritual yang dilakukan oleh dewa. Kalau kita menyebutnya di sini, ada Besawai, kemudian membaca mantra, mengundang Sangiyang, Kejuntayan, Kemungulan dan sebagainya. Artinya roh-roh leluhur dipanggil untuk melakukan ritual-ritual leluhur itu sendiri,” tambahnya.
Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Setelah itu, prosesi sakral dilanjutkan dengan kegiatan Bepelas yang dilaksanakan setiap malam selama Erau berlangsung.
Prosesi Bepelas dimaknai sebagai bentuk pemujaan terhadap sukma atau aura Sultan selama menjalankan rangkaian ritual adat.
Dalam pelaksanaannya, Sultan menginjakkan kaki pada Tapak Leman dan Gong Raden Galuh. Setiap injakan tersebut disertai bunyi ledakan yang jumlahnya mengikuti malam pelaksanaan.
Pada malam pertama, terdengar satu kali ledakan. Kemudian malam kedua dua kali ledakan, malam ketiga tiga kali dan seterusnya sesuai dengan rangkaian pelaksanaan Bepelas.
Prosesi Bepelas dilaksanakan setiap malam selama Erau, namun terdapat pengecualian pada malam Jumat. Pada malam tersebut, prosesi diliburkan dan kembali dilaksanakan pada malam berikutnya.
“Karena kita menghormati malam Jumat. Selain itu, masyarakat kita yang mayoritas Muslim biasanya mengisi malam Jumat dengan kegiatan keagamaan, seperti membaca Yasin, salawat maupun Maulid Al-Habsyi,” terangnya.
Saat mengikuti dan menyaksikan kegiatan Beluluh dan Bepelas, pengunjung juga diminta menjaga sikap dan ucapan.
Pengunjung tidak diperkenankan mengeluarkan kata-kata kasar, tidak sopan atau ucapan yang dapat mengganggu kekhidmatan prosesi adat.
Pengunjung juga perlu mengikuti arahan panitia dan tidak memasuki area yang telah ditentukan sebagai bagian dari ruang prosesi.
Pengambilan foto maupun video juga perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku selama kegiatan berlangsung.
“Jadi masyarakat yang datang kita harapkan bisa menjaga tata krama. Karena ini merupakan kegiatan adat yang sakral, jangan sampai ada ucapan atau tindakan yang mengganggu jalannya prosesi,” kata Derry.
Selain Beluluh dan Bepelas, masih terdapat sejumlah rangkaian adat lainnya yang dapat disaksikan masyarakat selama Erau Adat Kutai 2026.
Salah satu rangkaian yang menjadi bagian akhir pelaksanaan Erau adalah Ngulur Naga yang dijadwalkan pada 27 September 2026.
Dalam prosesi tersebut, dua naga akan diturunkan dan selanjutnya dibawa menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana menggunakan kapal.
Sebelum diberangkatkan, naga terlebih dahulu menjalani ritual tepong tawar. Ritual tersebut dilakukan sebagai bagian dari rangkaian adat sebelum perjalanan menuju Kutai Lama.
“Ritual tepong tawar itu dilakukan sebagai bentuk permohonan agar perjalanan membawa naga tidak mengalami gangguan,” jelasnya.
Selain itu, pengunjung juga perlu memahami tata krama saat mengikuti prosesi Belimbur. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian adat Erau yang dilakukan secara massal dengan saling menyiramkan air.
Meski berlangsung dalam suasana meriah, masyarakat tetap diminta menjaga batasan dan menghormati satu sama lain. Aksi pelecehan seksual dalam bentuk apa pun dilarang selama pelaksanaan Belimbur.
Pengunjung juga diharapkan tidak menjadikan tradisi saling menyiram air sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang melanggar kesopanan, menyentuh tubuh orang lain tanpa persetujuan maupun melakukan tindakan lain yang dapat merugikan peserta.
Karenanya, masyarakat yang mengikuti Belimbur diharapkan tetap menjaga sikap dan menghormati orang lain selama prosesi berlangsung.
Dengan mengetahui jadwal dan tata krama tersebut, pengunjung diharapkan dapat menikmati rangkaian Erau sekaligus tetap menghormati nilai adat dan kesakralan setiap prosesi yang berlangsung.
(Sf/Lo
Cari disini...
Travel

Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Festival Erau Adat Kutai 2026 kembali digelar di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), berlangsung selama delapan hari, mulai 20-27 September 2026.
Selain menjadi agenda budaya tahunan, rangkaian Erau juga menghadirkan sejumlah prosesi adat yang memiliki nilai sakral bagi Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura.
Bagi pengunjung dari lokal maupun luar daerah, wajib mengetahui waktu pelaksanaan serta tata krama sebelum datang menyaksikan rangkaian prosesi Erau.
Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Hal itu dinilai penting, mengingat sejumlah prosesi memiliki ketentuan adat yang perlu dihormati oleh setiap pengunjung.
Berdasarkan jadwal rundown kegiatan yang dibuat panitia, pembukaan Erau Adat Kutai berlangsung pada 20 September 2026 yang ditandai dengan pendirian Tiang Ayu di Museum Mulawarman.
Rangkaian kegiatan sakral dilanjutkan dengan Beluluh Sultan dan Bepelas yang digelar selama beberapa hari.
Beluluh Sultan merupakan salah satu prosesi adat dalam rangkaian Erau yang dilakukan Sultan Kutai Kertanegara Ing Martadipura.
Dalam prosesi itu, Sultan menjalani ritual setiap sore sebagai bentuk pembersihan diri secara spiritual sebelum maupun selama menjalankan rangkaian ritual adat Erau.
Prosesi tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap dapat mengganggu Sultan selama pelaksanaan ritual adat.
“Sebelum pembukaan Erau, ada Beluluh pertama yang dilaksanakan di Kedaton. Kemudian setelah pembukaan Erau, setiap sore Sultan melaksanakan Beluluh,” ujar Wakil Ketua Panitia Pelaksana Erau Adat Kutai 2026, Derry, Rabu (23/9/2026).
“Sebelum pelaksanaan Beluluh, ada ritual yang dilakukan oleh dewa. Kalau kita menyebutnya di sini, ada Besawai, kemudian membaca mantra, mengundang Sangiyang, Kejuntayan, Kemungulan dan sebagainya. Artinya roh-roh leluhur dipanggil untuk melakukan ritual-ritual leluhur itu sendiri,” tambahnya.
Sultan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Aji Muhammad Arifin saat mengikuti prosesi Beluluh Sultan (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Setelah itu, prosesi sakral dilanjutkan dengan kegiatan Bepelas yang dilaksanakan setiap malam selama Erau berlangsung.
Prosesi Bepelas dimaknai sebagai bentuk pemujaan terhadap sukma atau aura Sultan selama menjalankan rangkaian ritual adat.
Dalam pelaksanaannya, Sultan menginjakkan kaki pada Tapak Leman dan Gong Raden Galuh. Setiap injakan tersebut disertai bunyi ledakan yang jumlahnya mengikuti malam pelaksanaan.
Pada malam pertama, terdengar satu kali ledakan. Kemudian malam kedua dua kali ledakan, malam ketiga tiga kali dan seterusnya sesuai dengan rangkaian pelaksanaan Bepelas.
Prosesi Bepelas dilaksanakan setiap malam selama Erau, namun terdapat pengecualian pada malam Jumat. Pada malam tersebut, prosesi diliburkan dan kembali dilaksanakan pada malam berikutnya.
“Karena kita menghormati malam Jumat. Selain itu, masyarakat kita yang mayoritas Muslim biasanya mengisi malam Jumat dengan kegiatan keagamaan, seperti membaca Yasin, salawat maupun Maulid Al-Habsyi,” terangnya.
Saat mengikuti dan menyaksikan kegiatan Beluluh dan Bepelas, pengunjung juga diminta menjaga sikap dan ucapan.
Pengunjung tidak diperkenankan mengeluarkan kata-kata kasar, tidak sopan atau ucapan yang dapat mengganggu kekhidmatan prosesi adat.
Pengunjung juga perlu mengikuti arahan panitia dan tidak memasuki area yang telah ditentukan sebagai bagian dari ruang prosesi.
Pengambilan foto maupun video juga perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku selama kegiatan berlangsung.
“Jadi masyarakat yang datang kita harapkan bisa menjaga tata krama. Karena ini merupakan kegiatan adat yang sakral, jangan sampai ada ucapan atau tindakan yang mengganggu jalannya prosesi,” kata Derry.
Selain Beluluh dan Bepelas, masih terdapat sejumlah rangkaian adat lainnya yang dapat disaksikan masyarakat selama Erau Adat Kutai 2026.
Salah satu rangkaian yang menjadi bagian akhir pelaksanaan Erau adalah Ngulur Naga yang dijadwalkan pada 27 September 2026.
Dalam prosesi tersebut, dua naga akan diturunkan dan selanjutnya dibawa menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana menggunakan kapal.
Sebelum diberangkatkan, naga terlebih dahulu menjalani ritual tepong tawar. Ritual tersebut dilakukan sebagai bagian dari rangkaian adat sebelum perjalanan menuju Kutai Lama.
“Ritual tepong tawar itu dilakukan sebagai bentuk permohonan agar perjalanan membawa naga tidak mengalami gangguan,” jelasnya.
Selain itu, pengunjung juga perlu memahami tata krama saat mengikuti prosesi Belimbur. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian adat Erau yang dilakukan secara massal dengan saling menyiramkan air.
Meski berlangsung dalam suasana meriah, masyarakat tetap diminta menjaga batasan dan menghormati satu sama lain. Aksi pelecehan seksual dalam bentuk apa pun dilarang selama pelaksanaan Belimbur.
Pengunjung juga diharapkan tidak menjadikan tradisi saling menyiram air sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang melanggar kesopanan, menyentuh tubuh orang lain tanpa persetujuan maupun melakukan tindakan lain yang dapat merugikan peserta.
Karenanya, masyarakat yang mengikuti Belimbur diharapkan tetap menjaga sikap dan menghormati orang lain selama prosesi berlangsung.
Dengan mengetahui jadwal dan tata krama tersebut, pengunjung diharapkan dapat menikmati rangkaian Erau sekaligus tetap menghormati nilai adat dan kesakralan setiap prosesi yang berlangsung.
(Sf/Lo