Cari disini...
Teknologi
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengingatkan masyarakat agar tidak menyerahkan kemampuan berpikir dan berkarya sepenuhnya kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia menyoroti penggunaan AI dalam berbagai karya, mulai dari tulisan, lagu hingga karya akademik.
AI dapat digunakan untuk memperkaya karya. Namun, kemampuan manusia dalam memilih kalimat dan mengembangkan gagasan tetap harus digunakan.
“Boleh kita menggunakan alat itu dalam rangka memperkaya, tetapi literasi kita ini yang memang harus kita banggakan. Kalimat yang kita pilih tidak kita serahkan semua kepada AI,” ujar Ardiansyah saat menghadiri kegiatan Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026.
Ia juga menyoroti penggunaan AI dalam dunia akademik. Teknologi tersebut tidak semestinya mengambil alih proses pembuatan skripsi, tesis maupun disertasi.
Ardiansyah kemudian menekankan pentingnya kemampuan menulis, berbicara dan berpikir yang berasal dari diri sendiri.
“Original written, original speaking, original thinking itu harus dari dalam diri kita sendiri, bukan dibantu oleh alat,” tambahnya.
Ia juga menyinggung penggunaan AI dalam pembuatan lagu. Teknologi tersebut dapat menghasilkan suara yang terdengar sempurna, tetapi Ardiansyah menilai suara yang digunakan tetap harus memiliki ciri khas dan berasal dari suara asli.
Ardiansyah mencontohkan lagu Mars Kutim yang disebutnya telah memiliki hak kekayaan intelektual. Ia mengaku pernah melihat orang membuat versi baru Mars Kutim.
“Sempat saya lihat orang membuat Mars Kutim versi baru. Saya tunggu-tunggu, kalau banyak yang like, mau saya gugat. Kenapa? Karena kita sudah mendapatkan hak kekayaan intelektual. Oleh karenanya, saya terima kasih sekali tidak ada yang mencoba merubah Mars Kutim tadi dengan suara AI. Ya, harus suara khas, suara asli,” katanya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Teknologi

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengingatkan masyarakat agar tidak menyerahkan kemampuan berpikir dan berkarya sepenuhnya kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia menyoroti penggunaan AI dalam berbagai karya, mulai dari tulisan, lagu hingga karya akademik.
AI dapat digunakan untuk memperkaya karya. Namun, kemampuan manusia dalam memilih kalimat dan mengembangkan gagasan tetap harus digunakan.
“Boleh kita menggunakan alat itu dalam rangka memperkaya, tetapi literasi kita ini yang memang harus kita banggakan. Kalimat yang kita pilih tidak kita serahkan semua kepada AI,” ujar Ardiansyah saat menghadiri kegiatan Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026.
Ia juga menyoroti penggunaan AI dalam dunia akademik. Teknologi tersebut tidak semestinya mengambil alih proses pembuatan skripsi, tesis maupun disertasi.
Ardiansyah kemudian menekankan pentingnya kemampuan menulis, berbicara dan berpikir yang berasal dari diri sendiri.
“Original written, original speaking, original thinking itu harus dari dalam diri kita sendiri, bukan dibantu oleh alat,” tambahnya.
Ia juga menyinggung penggunaan AI dalam pembuatan lagu. Teknologi tersebut dapat menghasilkan suara yang terdengar sempurna, tetapi Ardiansyah menilai suara yang digunakan tetap harus memiliki ciri khas dan berasal dari suara asli.
Ardiansyah mencontohkan lagu Mars Kutim yang disebutnya telah memiliki hak kekayaan intelektual. Ia mengaku pernah melihat orang membuat versi baru Mars Kutim.
“Sempat saya lihat orang membuat Mars Kutim versi baru. Saya tunggu-tunggu, kalau banyak yang like, mau saya gugat. Kenapa? Karena kita sudah mendapatkan hak kekayaan intelektual. Oleh karenanya, saya terima kasih sekali tidak ada yang mencoba merubah Mars Kutim tadi dengan suara AI. Ya, harus suara khas, suara asli,” katanya.
(Sf/Rs)