Seputar Kaltim

    Wawali Balikpapan Tegaskan Reformasi Olahraga, Pembinaan Lokal Jadi Prioritas

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 Februari 2026 pukul 11:46 WITA

    Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menegaskan arah baru pembangunan olahraga dengan menitikberatkan pembinaan usia dini berbasis potensi lokal. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menegaskan arah baru pembangunan olahraga dengan menitikberatkan pembinaan usia dini berbasis potensi lokal. Salah satu langkah tegas yang diambil adalah menghentikan praktik jual-beli pemain, khususnya dalam cabang olahraga sepak bola.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Balikpapan ditargetkan memiliki tim sepak bola kelompok usia U-12 dan U-16 yang seluruh pemainnya berasal dari hasil pembinaan lokal.

    “Maka itu, keberhasilan prestasi olahraga tidak boleh dibangun secara instan,” ucap Wawali Bagus saat dihubungi awak media, Selasa (3/2/2026).

    Ia menekankan pentingnya sistem pembinaan jangka panjang yang dimulai sejak usia anak-anak, dengan manajemen yang tertata dan berintegritas.

    “Melalui KONI dan Balikpapan All Star, sistem pembinaan akan dibenahi. Askot PSSI Balikpapan akan kami panggil untuk menyusun program yang benar. Kami ingin membangun fondasi, bukan sekadar hasil cepat,” jelasnya.

    Bagus menegaskan, anggaran olahraga yang bersumber dari APBD harus dimanfaatkan untuk mendukung pembinaan atlet muda, bukan untuk mendatangkan pemain dari luar daerah.

    “KONI harus menyampaikan ke seluruh cabang olahraga agar tidak ada lagi jual-beli pemain. Anggaran itu untuk fasilitas, perlengkapan, dan pembinaan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

    Dirinya menilai, kualitas pembinaan sangat bergantung pada peran pelatih yang memiliki program kerja jelas, berbasis data, serta berorientasi jangka panjang, tanpa campur tangan kepentingan non-olahraga.

    “Olahraga tidak boleh dibawa ke ranah politik. Ini murni untuk prestasi. Kalau semua stakeholder bergerak bersama, Balikpapan bisa menemukan bibit atlet yang benar-benar potensial,” tegasnya.

    Ia juga menyinggung kejayaan sepak bola Kaltim di masa lalu yang melahirkan sejumlah pemain nasional, sebagai bukti keberhasilan pembinaan usia dini yang konsisten.

    “Dulu Kaltim dikenal sebagai gudangnya playmaker. Nama-nama seperti Aji Ridwan, Bima Sakti, Fahri Husaini, hingga Ponaryo Astaman lahir dari sistem pembinaan yang kuat,” kenangnya.

    Diharapkan semangat pembinaan seperti yang pernah diterapkan oleh sekolah sepak bola legendaris, seperti SSB Mandau, dapat kembali dihidupkan di Balikpapan. Menurutnya, pembinaan ideal harus dimulai sejak usia 10 hingga 16 tahun dengan program yang terukur dan berkesinambungan.

    Komitmen tersebut, lanjutnya, akan disampaikan kepada Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, agar kebijakan pembinaan yang benar diterapkan, tidak hanya pada sepak bola, tetapi juga seluruh cabang olahraga.

    “Niat kami jelas, memajukan olahraga Balikpapan dan mengembalikan kejayaannya. Dengan pembinaan yang benar, saya yakin prestasi itu akan kembali,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wawali Balikpapan Tegaskan Reformasi Olahraga, Pembinaan Lokal Jadi Prioritas

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    03 Februari 2026 pukul 11:46 WITA

    Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menegaskan arah baru pembangunan olahraga dengan menitikberatkan pembinaan usia dini berbasis potensi lokal. (Foto: dok/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menegaskan arah baru pembangunan olahraga dengan menitikberatkan pembinaan usia dini berbasis potensi lokal. Salah satu langkah tegas yang diambil adalah menghentikan praktik jual-beli pemain, khususnya dalam cabang olahraga sepak bola.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Balikpapan ditargetkan memiliki tim sepak bola kelompok usia U-12 dan U-16 yang seluruh pemainnya berasal dari hasil pembinaan lokal.

    “Maka itu, keberhasilan prestasi olahraga tidak boleh dibangun secara instan,” ucap Wawali Bagus saat dihubungi awak media, Selasa (3/2/2026).

    Ia menekankan pentingnya sistem pembinaan jangka panjang yang dimulai sejak usia anak-anak, dengan manajemen yang tertata dan berintegritas.

    “Melalui KONI dan Balikpapan All Star, sistem pembinaan akan dibenahi. Askot PSSI Balikpapan akan kami panggil untuk menyusun program yang benar. Kami ingin membangun fondasi, bukan sekadar hasil cepat,” jelasnya.

    Bagus menegaskan, anggaran olahraga yang bersumber dari APBD harus dimanfaatkan untuk mendukung pembinaan atlet muda, bukan untuk mendatangkan pemain dari luar daerah.

    “KONI harus menyampaikan ke seluruh cabang olahraga agar tidak ada lagi jual-beli pemain. Anggaran itu untuk fasilitas, perlengkapan, dan pembinaan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

    Dirinya menilai, kualitas pembinaan sangat bergantung pada peran pelatih yang memiliki program kerja jelas, berbasis data, serta berorientasi jangka panjang, tanpa campur tangan kepentingan non-olahraga.

    “Olahraga tidak boleh dibawa ke ranah politik. Ini murni untuk prestasi. Kalau semua stakeholder bergerak bersama, Balikpapan bisa menemukan bibit atlet yang benar-benar potensial,” tegasnya.

    Ia juga menyinggung kejayaan sepak bola Kaltim di masa lalu yang melahirkan sejumlah pemain nasional, sebagai bukti keberhasilan pembinaan usia dini yang konsisten.

    “Dulu Kaltim dikenal sebagai gudangnya playmaker. Nama-nama seperti Aji Ridwan, Bima Sakti, Fahri Husaini, hingga Ponaryo Astaman lahir dari sistem pembinaan yang kuat,” kenangnya.

    Diharapkan semangat pembinaan seperti yang pernah diterapkan oleh sekolah sepak bola legendaris, seperti SSB Mandau, dapat kembali dihidupkan di Balikpapan. Menurutnya, pembinaan ideal harus dimulai sejak usia 10 hingga 16 tahun dengan program yang terukur dan berkesinambungan.

    Komitmen tersebut, lanjutnya, akan disampaikan kepada Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, agar kebijakan pembinaan yang benar diterapkan, tidak hanya pada sepak bola, tetapi juga seluruh cabang olahraga.

    “Niat kami jelas, memajukan olahraga Balikpapan dan mengembalikan kejayaannya. Dengan pembinaan yang benar, saya yakin prestasi itu akan kembali,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)