Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Ilustrasi HIV AIDS. (Foto: Freepik)
Samarinda - Kasus HIV di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin mengkhawatirkan. Penyakit yang sering dianggap sepele ini disebut sebagai pandemi tersembunyi yang perlu diwaspadai, karena angkanya terus meningkat, terutama di kalangan komunitas tertentu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan bahwa HIV/AIDS sering terabaikan, padahal sudah menjadi bagian dari penyakit masyarakat.
Ia menyebut, penularan HIV paling banyak terjadi di komunitas tertentu, terutama melalui hubungan seksual yang tidak sehat.
"Yang paling banyak terkena HIV adalah komunitas tertentu," ujar Jaya Mualimin.
Ia menjelaskan, kasus-kasus baru juga ditemukan pada ibu hamil, di mana penularan bisa terjadi dari suami yang ternyata memiliki perilaku berisiko, seperti berhubungan seks dengan sesama lelaki.
Hal ini sejalan dengan data di Kota Samarinda, bahwa kasus HIV masih didominasi oleh kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Untuk menekan laju penularan, Dinkes Kaltim mengusung konsep 3-0, yaitu Zero Infeksi Baru, Zero Orang Positif yang Tidak Diobati, dan Zero Diskriminasi.
Tiga Langkah Strategis Atasi HIV, pertama Zero Infeksi Baru yakni langkah ini bertujuan mencegah penularan baru. Edukasi tentang bahaya penularan melalui hubungan seksual tidak sehat terus digencarkan. Meskipun tidak melarang perilaku, penting untuk mengedukasi penggunaan kondom secara konsisten.
Kedua, Zero Orang Positif yang Tidak Diobati terdapat pasien HIV yang sudah terdiagnosis wajib mendapatkan pengobatan. Dengan pengobatan rutin, virus dalam tubuh bisa ditekan sehingga tidak aktif dan tidak menularkan.
“Ketiga, Zero Diskriminasi. Jaya Mualimin menegaskan, penderita HIV tidak boleh didiskriminasi. Mereka harus mendapatkan akses kesehatan dan pengobatan yang layak,” jabarnya.
Secara terpisah, Kota Balikpapan menempati urutan kedua tertinggi di Kaltim dengan 167 kasus. Kepala Dinkes Balikpapan menyebut, HIV/AIDS bisa menjadi "bom waktu" jika tidak ditangani sejak dini. Penyakit ini sering kali muncul akibat perilaku berisiko seperti seks tidak aman.
Sementara itu di Samarinda, Dinkes setempat terus mengintensifkan skrining. Sepanjang 2024, ditemukan 527 kasus baru dari 47 ribu orang yang diperiksa. Hingga pertengahan 2025, 223 kasus baru terdeteksi dari 20 ribu orang yang dites. Ismid Kusasih menekankan pentingnya deteksi dini agar penderita tidak jatuh pada kondisi AIDS.
Selain upaya pencegahan, ada harapan baru dari sisi medis. Menurut Jaya Mualimin, vaksin untuk HIV sudah ditemukan dan sedang dikembangkan.
“Diharapkan, kehadiran vaksin ini bisa menjadi solusi efektif untuk mencegah penularan di masa depan,” tuturnya.
Upaya lain yang dilakukan Dinkes Kaltim adalah skrining rutin, termasuk untuk calon pengantin. Skrining ini dinilai sangat penting untuk mencegah penularan dari orang tua ke anak.
“Jika calon pengantin terdeteksi positif, mereka akan diberikan pengobatan dan sosialisasi agar dapat menjalani kehidupan normal dan aman,” tutupnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Ilustrasi HIV AIDS. (Foto: Freepik)
Samarinda - Kasus HIV di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin mengkhawatirkan. Penyakit yang sering dianggap sepele ini disebut sebagai pandemi tersembunyi yang perlu diwaspadai, karena angkanya terus meningkat, terutama di kalangan komunitas tertentu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan bahwa HIV/AIDS sering terabaikan, padahal sudah menjadi bagian dari penyakit masyarakat.
Ia menyebut, penularan HIV paling banyak terjadi di komunitas tertentu, terutama melalui hubungan seksual yang tidak sehat.
"Yang paling banyak terkena HIV adalah komunitas tertentu," ujar Jaya Mualimin.
Ia menjelaskan, kasus-kasus baru juga ditemukan pada ibu hamil, di mana penularan bisa terjadi dari suami yang ternyata memiliki perilaku berisiko, seperti berhubungan seks dengan sesama lelaki.
Hal ini sejalan dengan data di Kota Samarinda, bahwa kasus HIV masih didominasi oleh kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Untuk menekan laju penularan, Dinkes Kaltim mengusung konsep 3-0, yaitu Zero Infeksi Baru, Zero Orang Positif yang Tidak Diobati, dan Zero Diskriminasi.
Tiga Langkah Strategis Atasi HIV, pertama Zero Infeksi Baru yakni langkah ini bertujuan mencegah penularan baru. Edukasi tentang bahaya penularan melalui hubungan seksual tidak sehat terus digencarkan. Meskipun tidak melarang perilaku, penting untuk mengedukasi penggunaan kondom secara konsisten.
Kedua, Zero Orang Positif yang Tidak Diobati terdapat pasien HIV yang sudah terdiagnosis wajib mendapatkan pengobatan. Dengan pengobatan rutin, virus dalam tubuh bisa ditekan sehingga tidak aktif dan tidak menularkan.
“Ketiga, Zero Diskriminasi. Jaya Mualimin menegaskan, penderita HIV tidak boleh didiskriminasi. Mereka harus mendapatkan akses kesehatan dan pengobatan yang layak,” jabarnya.
Secara terpisah, Kota Balikpapan menempati urutan kedua tertinggi di Kaltim dengan 167 kasus. Kepala Dinkes Balikpapan menyebut, HIV/AIDS bisa menjadi "bom waktu" jika tidak ditangani sejak dini. Penyakit ini sering kali muncul akibat perilaku berisiko seperti seks tidak aman.
Sementara itu di Samarinda, Dinkes setempat terus mengintensifkan skrining. Sepanjang 2024, ditemukan 527 kasus baru dari 47 ribu orang yang diperiksa. Hingga pertengahan 2025, 223 kasus baru terdeteksi dari 20 ribu orang yang dites. Ismid Kusasih menekankan pentingnya deteksi dini agar penderita tidak jatuh pada kondisi AIDS.
Selain upaya pencegahan, ada harapan baru dari sisi medis. Menurut Jaya Mualimin, vaksin untuk HIV sudah ditemukan dan sedang dikembangkan.
“Diharapkan, kehadiran vaksin ini bisa menjadi solusi efektif untuk mencegah penularan di masa depan,” tuturnya.
Upaya lain yang dilakukan Dinkes Kaltim adalah skrining rutin, termasuk untuk calon pengantin. Skrining ini dinilai sangat penting untuk mencegah penularan dari orang tua ke anak.
“Jika calon pengantin terdeteksi positif, mereka akan diberikan pengobatan dan sosialisasi agar dapat menjalani kehidupan normal dan aman,” tutupnya.
(Sf/Rs)