Seputar Kaltim

    Waspada La Nina, BMKG Prediksi Musim Hujan di Kaltim Berlangsung Panjang hingga Pertengahan 2026

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 Desember 2025 pukul 11:54 WITA

    Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor dan Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Warga Kalimantan Timur diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, menyusul prakiraan Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, yang memprediksi fenomena La Nina lemah akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. 

    Kondisi ini diprediksi akan memperpanjang periode musim hujan di Bumi Etam, yang kini telah memasuki puncaknya di beberapa wilayah.

    Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya La Nina lemah yang akan memengaruhi cuaca regional. 

    "Wilayah Kalimantan Timur sudah berada dalam periode musim hujan, dan karena kita berada di ekuator, durasi musim hujan kita memang lebih panjang dibandingkan musim kemarau," terang Riza di Samarinda, Selasa (2/11/2025). 

    Ia menambahkan, jika di Jawa musim kemarau dan hujan masing-masing sekitar enam bulan, di Kaltim musim kemarau paling lama hanya tiga bulan, kecuali jika ada faktor El Nino kuat yang memperpanjangnya.

    Lebih lanjut, Riza memaparkan bahwa musim hujan ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan Juni 2026, yang berarti masyarakat akan menghadapi periode hujan yang panjang, bahkan bisa mencapai 6 hingga 7 bulan ke depan. 

    "Inilah mengapa kita mengadakan sharing session dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta stakeholder terkait, agar kita siap menghadapi dampak-dampak potensi bencana hidrometeorologi," tegasnya.

    Fenomena La Nina ini, menurut Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto, secara umum akan menambah distribusi uap air di Indonesia, termasuk di wilayah Kaltim. 

    "Makin ke arah Desember tentu trennya adalah naik (curah hujan). Akan tetapi beberapa waktu lalu ini kan dipengaruhi oleh siklon tropis yang kecenderungannya adalah justru mengurangi beberapa wilayah di Kaltim," jelas Kukuh. 

    Ia mengingatkan, meskipun ada penurunan sementara akibat siklon tropis di beberapa wilayah seperti Kukar dan Kutim, secara umum La Nina akan meningkatkan intensitas hujan.

    Kukuh juga menyoroti peningkatan suhu rata-rata di Samarinda sebesar 1,5 derajat Celsius akibat perubahan lingkungan dan pembangunan permukiman, yang turut berkontribusi pada kenaikan jumlah kejadian cuaca ekstrem. 

    Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk proaktif mencari informasi cuaca terbaru melalui kanal-kanal resmi BMKG Samarinda di bmkgsamarinda.com, serta akun media sosial BMKG di Instagram, Facebook, dan X.

    "Masyarakat saya kira harus tahu kondisi lingkungannya masing-masing, daerah potensi bencana atau tidak, itu yang perlu dipahami," ujar Kukuh. 

    Ia juga menyarankan untuk memahami peta evakuasi yang dibuat oleh BPBD dan berpartisipasi dalam upaya menjaga alam dengan menanam pohon sebagai mitigasi jangka panjang. 

    Menghadapi musim hujan yang panjang ini, koordinasi intensif antara BMKG dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana. 

    BMKG sendiri terus memantau dinamika atmosfer setiap hari, bahkan setiap sepuluh hari mereka melakukan pembaruan informasi agar masyarakat mendapatkan data yang paling akurat. 

    "Informasi itu harus update, jangan hari ini kita dapat, kita pakai beberapa hari atau beberapa bulan ke depan," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Waspada La Nina, BMKG Prediksi Musim Hujan di Kaltim Berlangsung Panjang hingga Pertengahan 2026

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 Desember 2025 pukul 11:54 WITA

    Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor dan Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Warga Kalimantan Timur diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, menyusul prakiraan Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, yang memprediksi fenomena La Nina lemah akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. 

    Kondisi ini diprediksi akan memperpanjang periode musim hujan di Bumi Etam, yang kini telah memasuki puncaknya di beberapa wilayah.

    Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya La Nina lemah yang akan memengaruhi cuaca regional. 

    "Wilayah Kalimantan Timur sudah berada dalam periode musim hujan, dan karena kita berada di ekuator, durasi musim hujan kita memang lebih panjang dibandingkan musim kemarau," terang Riza di Samarinda, Selasa (2/11/2025). 

    Ia menambahkan, jika di Jawa musim kemarau dan hujan masing-masing sekitar enam bulan, di Kaltim musim kemarau paling lama hanya tiga bulan, kecuali jika ada faktor El Nino kuat yang memperpanjangnya.

    Lebih lanjut, Riza memaparkan bahwa musim hujan ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan Juni 2026, yang berarti masyarakat akan menghadapi periode hujan yang panjang, bahkan bisa mencapai 6 hingga 7 bulan ke depan. 

    "Inilah mengapa kita mengadakan sharing session dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta stakeholder terkait, agar kita siap menghadapi dampak-dampak potensi bencana hidrometeorologi," tegasnya.

    Fenomena La Nina ini, menurut Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto, secara umum akan menambah distribusi uap air di Indonesia, termasuk di wilayah Kaltim. 

    "Makin ke arah Desember tentu trennya adalah naik (curah hujan). Akan tetapi beberapa waktu lalu ini kan dipengaruhi oleh siklon tropis yang kecenderungannya adalah justru mengurangi beberapa wilayah di Kaltim," jelas Kukuh. 

    Ia mengingatkan, meskipun ada penurunan sementara akibat siklon tropis di beberapa wilayah seperti Kukar dan Kutim, secara umum La Nina akan meningkatkan intensitas hujan.

    Kukuh juga menyoroti peningkatan suhu rata-rata di Samarinda sebesar 1,5 derajat Celsius akibat perubahan lingkungan dan pembangunan permukiman, yang turut berkontribusi pada kenaikan jumlah kejadian cuaca ekstrem. 

    Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk proaktif mencari informasi cuaca terbaru melalui kanal-kanal resmi BMKG Samarinda di bmkgsamarinda.com, serta akun media sosial BMKG di Instagram, Facebook, dan X.

    "Masyarakat saya kira harus tahu kondisi lingkungannya masing-masing, daerah potensi bencana atau tidak, itu yang perlu dipahami," ujar Kukuh. 

    Ia juga menyarankan untuk memahami peta evakuasi yang dibuat oleh BPBD dan berpartisipasi dalam upaya menjaga alam dengan menanam pohon sebagai mitigasi jangka panjang. 

    Menghadapi musim hujan yang panjang ini, koordinasi intensif antara BMKG dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana. 

    BMKG sendiri terus memantau dinamika atmosfer setiap hari, bahkan setiap sepuluh hari mereka melakukan pembaruan informasi agar masyarakat mendapatkan data yang paling akurat. 

    "Informasi itu harus update, jangan hari ini kita dapat, kita pakai beberapa hari atau beberapa bulan ke depan," pungkasnya.

    (Sf/Rs)