Cari disini...
Seputar Kaltim
Wartawan di Kota Samarinda, saat melakukan wawancara dengan Gubernur Kaltim (2018-2023) Isran Noor (Dok Seputar Fakta)
Jurnalis jadi profesi yang pegang peran kunci dalam menyediakan informasi pada masyarakat. Bagi sebagian orang, profesi ini adalah sebuah impian. Contohnya adalah Wiwid Marhaendra Wijaya.
Dari pengakuannya, pria yang akrab disapa Wiwid itu berkata, telah berkeinginan jadi wartawan sejak Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, jadi jurnalis itu sangatlah asyik.
“Ya, jadi jurnalis itu enak, bisa kemana aja dan kenal dengan siapa saja,” terang Wiwid saat ditemui Seputar Fakta, Kamis (8/2/2024).
Sejak tahun 1997, pria berusia 52 tahun itu menggeluti profesi jurnalis. Berawal dari surat kabar Mimbar Masyarakat ia memulai karirnya. Dari segi teknis, Wiwid melihat perbedaan yang menjulang tinggi antara produksi berita yang dulu dan sekarang.
Wiwid mengatakan, alat komunikasi yang berkembang pesat saat ini sangat mempermudah kerja jurnalis. “Dulu, misal kita foto itu ga bisa langsung dilihat hasilnya. Jadi ngga tau ini bisa dipakai atau enggak. Tahunya nanti setelah dicetak,” tuturnya.
Lebih lanjut Wiwid bilang, keterbatasan alat komunikasi juga jadi penghambat untuk menemui narasumber.
“Dulu kita kalau sudah terlambat datang ke acara, susah. Misal liputan bola, kita ga tau ada apa sebelumny, pas tanya ke teman, taunya dibohongin,” ucapnya.
Beda halnya dengan era yang serba digital ini. Wiwid bilang, masa kini serba dimudahkan. Mudah dalam crosscheck data, janji temu narasumber, pengambilan gambar. Hanya saja, dari kemudahan itu informasi juga melaju dengan cepat. Sehingga ketika ada kesalahan, dengan mudah diketahui orang banyak. Sebab, jejak digital itu tak mudah lenyap.
“Wartawan sekarang harus lebih hati-hati. Harus bisa lebih berkualitas lagi di era yang serba mudah ini,” pesannya.
Seperti Wiwid, pengalaman serupa dibagikan Lili K Sismiati. Wanita berusia 75 tahun ini mengaku sudah menekuni dunia jurnalis sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Lili mengatakan, dulu menjadi seorang jurnalis sangat susah sekali. Karena dalam pendaftaran ada hal-hal yang harus diselesaikan, mulai dari kelengkapan berkas hingga harus mengikuti tes dan lainnya.
Hal ini, membuat proses masuk ke dunia wartawan tidak segampang seperti saat ini.
"Jadi saya mengikuti itu memang dengan susah payah, bukan kaya sekarang. Hari ini kita daftar, bisa langsung jadi jurnalis, tetapi kalau dulu endak bisa," kenang Lili saat ditemui awak seputarfakta.com, Kamis (8/2/2024).
Keterbatasan teknologi informasi kala itu, juga jadi tantangan tersendiri ketika menjalani profesi wartawan.
Ia mencontohkan, dulu tidak semua orang mempunyai telepon genggam. Lantaran, kala itu, telepon pintar masih tergolong barang mewah. Alhasil, untuk menulis berita, masih harus mengetik di tempat rental internet alias warnet.
Begitu pun untuk mengirim fotonya, kata dia, harus dicuci dulu sebelum mengirim ke editor.
"Makanya dulu tidak ada namanya online, hanya ada surat kabar," akunya.
Dirinya juga pesan kepada jurnalis sekarang, untuk bisa lebih mempelajari apa arti jurnalis itu. Jangan sampai melanggar rambu-rambu jurnalis itu sendiri.
"Sekarang gampang jadi jurnalis bisa menulis apapun, akan tetapi harus ada sekolahnya atau paling tidak memiliki sertifikat wartawan," jelasnya.
Kepada Seputar Fakta, Lili bercerita sebelum menjadi seorang jurnalis, Lili sendiri bekerja di sebuah ansurasi dari tahun 1993-2000. Karena sering berkumpul dengan jurnalis, akhirnya di tahun 2000 Lili mulai tertarik dan mulai bergabung dengan surat kabar bernama Intim Pos.
Kemudian seiring berjalannya waktu, Lili pun berpindah ke media Harapan rakyat mulai dari tahun 2003 sampai 2024 sekarang.
Lain dulu, lain sekarang. Hal ini yang kiranya menggambarkan perbedaan yang terjadi pada masa Wiwid san Lili bekerja sebagai wartawan dengan apa yang dialami banyak jurnalis saat ini. Salah satunya Yasmin Medina Anggia Putri.

Gadis kelahiran 1999 yang demikian tertarik pada dunia jurnalistik, mulai berkecimpung dalam pusaran jurnalistik sejak 2018. Ia meniti karir jurnalisnya lewat Kaltim Post, sebuah surat kabar berbasis di Kota Balikpapan dan Samarinda sebagai penulis halaman gaya hidup yang terbit seminggu sekali.
Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia kerap kali membeli majalah remaja kawanku. Dari situ ia berkeinginan untuk jadi wartawan, apalagi hobinya adalah membaca dan menulis.
“Pas lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) sempat mau masuk jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom) untuk mempermudah jalanku buat jadi wartwan, tapi ga direstui sama keluarga. Akhirnya aku pilih Sastra Inggris,” jelas Yasmin pada Seputar Fakta, Kamis (8/2/2024).
Selama kurang lebih lima tahun ia berkarir, tak dimungkiri pernah dihinggapi rasa takut. Menurutnya jurnalis perempuan lebih riskan mendapat perlakuan tidak mengenakan saat di lapangan.
Apalagi, mendengar cerita yang pernah dialami temannya. Seperti mendapat perlakuan tidak mengenakan dari narasumber, bahkan rekan seprofesinya. Mungkin bagi beberapa orang perlakuan itu dianggap biasa saja, dan berlaku juga sebaliknya.
“Bentuknya kaya tangannya dipegang, bahunya dielus-elus, dan itu menurutku itu ga etis aja si dilakukan karena kita kerja profesional. Kita minta informasi ke dia, harusnya sentuhan-sentuhan fisik itu ga ada,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yasmin merasa, terkadang hasil kerja dari wartawan perempuan dipandang tidak lebih baik dari pria. Ia mengaku pernah mengalaminya. Sempat merasa marah, itu pasti. Tapi, pada akhirnya ia sadar bahwa sebagai manusia tidak bisa mengendalikan manusia yang lain.
“Ya udah aj, karena akan selalu ada di manapun,” tuturnya.
Ia mengaku senang menjalani profesi ini. Bisa bertemu banyak orang dengan latarbelakang yang bermacam-macam. Apalagi saat melakukan wawancara dengan narasumber, ia merasa sedang bertukar pikiran. Yasmin bilang, sepanjang waktu berkarir ini, ia lebih suka terhadap isu gender, wanita, atau seksualitas.
Sementara itu di Kota Balikpapan, Adystie Nabila seorang perempuan muda berumur 20 tahun justru mengakui bahwa menjalani profesi wartawan terbilang menyenangkan.
Adys sendiri baru bekerja selama dua tahun sebagai awak redaksi portel media daring bernama Harianjurnal.com.
Sehari-hari, Adys ditugaskan untuk meliput berita pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan DPRD Kota Balikpapan. Bahkan hampir setiap hari dia datang untuk bertemu walikota, OPD hingga anggota dewan.
Meski terbilang baru, Adys merasa sudah nyaman dengan lingkungannya, mengingat banyak pengalaman yang diambil dari kawan-kawan jurnalis lainnya.
"Awal-awalnya saya tidak mengerti harus bagaimana, tapi karena disini banyak teman yang membantu, akhirnya sedikit-sedikit saya bisa mengerti dan mengikuti," akui Adys saat ditemui wartawan Seputarfakta.com.
Menurut Adys, menjadi seorang jurnalis merupakan hal yang sangat menyenangkan, selain memiliki pengalaman baru, juga dapat mengenal sosok pejabat hingga wali kota.
"Hal seperti ini, belum pernah saya dapat. Apalagi saya bekerja sebagai jurnalis dibimbing oleh orang yang sudah cukup lama, sehingga banyak sedikit bisa mengerti dan menyesuaikan dilapangan," jelasnya.
Ditanya apakah merasa aman tidak, ia mengakui, jika pekerjaannya saat ini masih aman, apalagi Balikpapan tidak seperti daerah-daerah lain yang sering demo berakhir ricuh.
"Paling sesekali ada demo di depan kantor Pemkot dan DPRD, itu pun tidak lama, karena semua kondusif dan diterima dengan baik," paparnya.
Memahami tantangan dan peluang dunia kewartawanan dulu dan kini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur (Kaltim) berkomitmen memberi perlindungan kepada insan wartawan.
Momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2024, digunakan PWI Kaltim untuk menegaskan komitmen utama, yakni perlindungan wartawan dan advokasi hukum, kemudian menekankan keamanan dan kaidah jurnalistik.
Plt Ketua PWI Kaltim, Achmad Shahab, menekankan pentingnya perlindungan bagi anggota PWI yang beroperasi di berbagai media, termasuk cetak, televisi, radio, dan platform online. "Kami memiliki lembaga pembela wartawan yang berfokus pada advokasi hukum dan perlindungan," ujar Achmad Shahab melalui telepon.
Lembaga ini berperan dalam membantu rekan-rekan yang terlibat dalam kasus hukum, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan. "Advokasi dilakukan melalui lembaga ini," tambahnya.
Achmad Shahab juga mengingatkan para wartawan untuk memperhatikan keamanan saat menjalankan tugas jurnalistik. "Jangan melakukan tindakan yang berbahaya. Jangan liputan sendiri, dan selalu antisipasi dari awal," paparnya.
Selain itu, pemahaman terhadap kaidah-kaidah jurnalistik juga menjadi pesan penting. "Wartawan harus menjalankan tugas dengan profesionalisme. Kode etik dan prinsip-prinsip jurnalistik harus dipahami," tegasnya.
Meskipun hingga tahun 2023 PWI Kaltim belum menerima laporan aduan kekerasan terhadap wartawan, tantangan tetap ada. Dengan semangat HPN 2024, PWI Kaltim berkomitmen untuk terus menjaga profesionalisme dan memperjuangkan kebebasan pers.
"Konfirmasi dari dewan kehormatan PWI, tidak ada teman-teman melaporkan. Ada kasus yang kemarin yang melibatkan kekerasan tetapi bukan anggota PWI, kami tidak terlalu cawe-cawe kesana," jelasnya.
Ia mengakui indeks kebebasan pers di Kaltim selama dua tahun kebelakangan ini selalu meningkat dan masuk dalam kategori prestasi. "Ini menandakan iklim kebebasan berbicara, iklim menyampaikan informasi sangat baik, jadi tinggal bagaimana ini bisa dipelihara dengan baik dari insan pers, narasumber maupun instansi," tutupnya.
Sementara itu, menurut data nasional dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 83 jurnalis, 5 kelompok jurnalis, dan 15 media menjadi korban berbagai serangan, mulai dari fisik, teror, digital, kriminalisasi, hingga kekerasan seksual. Jurnalis dan media yang meliput isu akuntabilitas dan korupsi paling banyak mengalami kekerasan, yaitu 33 kasus, diikuti oleh isu sosial dan kriminalitas (25 kasus) dan isu lingkungan dan konflik agraria (14 kasus).
Laporan AJI juga mengungkap, mayoritas pelaku kekerasan adalah aktor negara (36 kasus), disusul oleh aktor non-negara (29 kasus) dan yang tidak diketahui (24 kasus). Lima narasumber juga ditargetkan dengan kriminalisasi melalui UU ITE, KUHP, dan gugatan perdata. (Sf/Rs)
Tim Liputan
1. Maya Sari (Balikpapan)
2. Tria (Samarinda)
3. Maulana (Kalimantan Timur)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wartawan di Kota Samarinda, saat melakukan wawancara dengan Gubernur Kaltim (2018-2023) Isran Noor (Dok Seputar Fakta)
Jurnalis jadi profesi yang pegang peran kunci dalam menyediakan informasi pada masyarakat. Bagi sebagian orang, profesi ini adalah sebuah impian. Contohnya adalah Wiwid Marhaendra Wijaya.
Dari pengakuannya, pria yang akrab disapa Wiwid itu berkata, telah berkeinginan jadi wartawan sejak Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, jadi jurnalis itu sangatlah asyik.
“Ya, jadi jurnalis itu enak, bisa kemana aja dan kenal dengan siapa saja,” terang Wiwid saat ditemui Seputar Fakta, Kamis (8/2/2024).
Sejak tahun 1997, pria berusia 52 tahun itu menggeluti profesi jurnalis. Berawal dari surat kabar Mimbar Masyarakat ia memulai karirnya. Dari segi teknis, Wiwid melihat perbedaan yang menjulang tinggi antara produksi berita yang dulu dan sekarang.
Wiwid mengatakan, alat komunikasi yang berkembang pesat saat ini sangat mempermudah kerja jurnalis. “Dulu, misal kita foto itu ga bisa langsung dilihat hasilnya. Jadi ngga tau ini bisa dipakai atau enggak. Tahunya nanti setelah dicetak,” tuturnya.
Lebih lanjut Wiwid bilang, keterbatasan alat komunikasi juga jadi penghambat untuk menemui narasumber.
“Dulu kita kalau sudah terlambat datang ke acara, susah. Misal liputan bola, kita ga tau ada apa sebelumny, pas tanya ke teman, taunya dibohongin,” ucapnya.
Beda halnya dengan era yang serba digital ini. Wiwid bilang, masa kini serba dimudahkan. Mudah dalam crosscheck data, janji temu narasumber, pengambilan gambar. Hanya saja, dari kemudahan itu informasi juga melaju dengan cepat. Sehingga ketika ada kesalahan, dengan mudah diketahui orang banyak. Sebab, jejak digital itu tak mudah lenyap.
“Wartawan sekarang harus lebih hati-hati. Harus bisa lebih berkualitas lagi di era yang serba mudah ini,” pesannya.
Seperti Wiwid, pengalaman serupa dibagikan Lili K Sismiati. Wanita berusia 75 tahun ini mengaku sudah menekuni dunia jurnalis sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Lili mengatakan, dulu menjadi seorang jurnalis sangat susah sekali. Karena dalam pendaftaran ada hal-hal yang harus diselesaikan, mulai dari kelengkapan berkas hingga harus mengikuti tes dan lainnya.
Hal ini, membuat proses masuk ke dunia wartawan tidak segampang seperti saat ini.
"Jadi saya mengikuti itu memang dengan susah payah, bukan kaya sekarang. Hari ini kita daftar, bisa langsung jadi jurnalis, tetapi kalau dulu endak bisa," kenang Lili saat ditemui awak seputarfakta.com, Kamis (8/2/2024).
Keterbatasan teknologi informasi kala itu, juga jadi tantangan tersendiri ketika menjalani profesi wartawan.
Ia mencontohkan, dulu tidak semua orang mempunyai telepon genggam. Lantaran, kala itu, telepon pintar masih tergolong barang mewah. Alhasil, untuk menulis berita, masih harus mengetik di tempat rental internet alias warnet.
Begitu pun untuk mengirim fotonya, kata dia, harus dicuci dulu sebelum mengirim ke editor.
"Makanya dulu tidak ada namanya online, hanya ada surat kabar," akunya.
Dirinya juga pesan kepada jurnalis sekarang, untuk bisa lebih mempelajari apa arti jurnalis itu. Jangan sampai melanggar rambu-rambu jurnalis itu sendiri.
"Sekarang gampang jadi jurnalis bisa menulis apapun, akan tetapi harus ada sekolahnya atau paling tidak memiliki sertifikat wartawan," jelasnya.
Kepada Seputar Fakta, Lili bercerita sebelum menjadi seorang jurnalis, Lili sendiri bekerja di sebuah ansurasi dari tahun 1993-2000. Karena sering berkumpul dengan jurnalis, akhirnya di tahun 2000 Lili mulai tertarik dan mulai bergabung dengan surat kabar bernama Intim Pos.
Kemudian seiring berjalannya waktu, Lili pun berpindah ke media Harapan rakyat mulai dari tahun 2003 sampai 2024 sekarang.
Lain dulu, lain sekarang. Hal ini yang kiranya menggambarkan perbedaan yang terjadi pada masa Wiwid san Lili bekerja sebagai wartawan dengan apa yang dialami banyak jurnalis saat ini. Salah satunya Yasmin Medina Anggia Putri.

Gadis kelahiran 1999 yang demikian tertarik pada dunia jurnalistik, mulai berkecimpung dalam pusaran jurnalistik sejak 2018. Ia meniti karir jurnalisnya lewat Kaltim Post, sebuah surat kabar berbasis di Kota Balikpapan dan Samarinda sebagai penulis halaman gaya hidup yang terbit seminggu sekali.
Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia kerap kali membeli majalah remaja kawanku. Dari situ ia berkeinginan untuk jadi wartawan, apalagi hobinya adalah membaca dan menulis.
“Pas lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) sempat mau masuk jurusan Ilmu Komunikasi (Ilkom) untuk mempermudah jalanku buat jadi wartwan, tapi ga direstui sama keluarga. Akhirnya aku pilih Sastra Inggris,” jelas Yasmin pada Seputar Fakta, Kamis (8/2/2024).
Selama kurang lebih lima tahun ia berkarir, tak dimungkiri pernah dihinggapi rasa takut. Menurutnya jurnalis perempuan lebih riskan mendapat perlakuan tidak mengenakan saat di lapangan.
Apalagi, mendengar cerita yang pernah dialami temannya. Seperti mendapat perlakuan tidak mengenakan dari narasumber, bahkan rekan seprofesinya. Mungkin bagi beberapa orang perlakuan itu dianggap biasa saja, dan berlaku juga sebaliknya.
“Bentuknya kaya tangannya dipegang, bahunya dielus-elus, dan itu menurutku itu ga etis aja si dilakukan karena kita kerja profesional. Kita minta informasi ke dia, harusnya sentuhan-sentuhan fisik itu ga ada,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yasmin merasa, terkadang hasil kerja dari wartawan perempuan dipandang tidak lebih baik dari pria. Ia mengaku pernah mengalaminya. Sempat merasa marah, itu pasti. Tapi, pada akhirnya ia sadar bahwa sebagai manusia tidak bisa mengendalikan manusia yang lain.
“Ya udah aj, karena akan selalu ada di manapun,” tuturnya.
Ia mengaku senang menjalani profesi ini. Bisa bertemu banyak orang dengan latarbelakang yang bermacam-macam. Apalagi saat melakukan wawancara dengan narasumber, ia merasa sedang bertukar pikiran. Yasmin bilang, sepanjang waktu berkarir ini, ia lebih suka terhadap isu gender, wanita, atau seksualitas.
Sementara itu di Kota Balikpapan, Adystie Nabila seorang perempuan muda berumur 20 tahun justru mengakui bahwa menjalani profesi wartawan terbilang menyenangkan.
Adys sendiri baru bekerja selama dua tahun sebagai awak redaksi portel media daring bernama Harianjurnal.com.
Sehari-hari, Adys ditugaskan untuk meliput berita pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan DPRD Kota Balikpapan. Bahkan hampir setiap hari dia datang untuk bertemu walikota, OPD hingga anggota dewan.
Meski terbilang baru, Adys merasa sudah nyaman dengan lingkungannya, mengingat banyak pengalaman yang diambil dari kawan-kawan jurnalis lainnya.
"Awal-awalnya saya tidak mengerti harus bagaimana, tapi karena disini banyak teman yang membantu, akhirnya sedikit-sedikit saya bisa mengerti dan mengikuti," akui Adys saat ditemui wartawan Seputarfakta.com.
Menurut Adys, menjadi seorang jurnalis merupakan hal yang sangat menyenangkan, selain memiliki pengalaman baru, juga dapat mengenal sosok pejabat hingga wali kota.
"Hal seperti ini, belum pernah saya dapat. Apalagi saya bekerja sebagai jurnalis dibimbing oleh orang yang sudah cukup lama, sehingga banyak sedikit bisa mengerti dan menyesuaikan dilapangan," jelasnya.
Ditanya apakah merasa aman tidak, ia mengakui, jika pekerjaannya saat ini masih aman, apalagi Balikpapan tidak seperti daerah-daerah lain yang sering demo berakhir ricuh.
"Paling sesekali ada demo di depan kantor Pemkot dan DPRD, itu pun tidak lama, karena semua kondusif dan diterima dengan baik," paparnya.
Memahami tantangan dan peluang dunia kewartawanan dulu dan kini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur (Kaltim) berkomitmen memberi perlindungan kepada insan wartawan.
Momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2024, digunakan PWI Kaltim untuk menegaskan komitmen utama, yakni perlindungan wartawan dan advokasi hukum, kemudian menekankan keamanan dan kaidah jurnalistik.
Plt Ketua PWI Kaltim, Achmad Shahab, menekankan pentingnya perlindungan bagi anggota PWI yang beroperasi di berbagai media, termasuk cetak, televisi, radio, dan platform online. "Kami memiliki lembaga pembela wartawan yang berfokus pada advokasi hukum dan perlindungan," ujar Achmad Shahab melalui telepon.
Lembaga ini berperan dalam membantu rekan-rekan yang terlibat dalam kasus hukum, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan. "Advokasi dilakukan melalui lembaga ini," tambahnya.
Achmad Shahab juga mengingatkan para wartawan untuk memperhatikan keamanan saat menjalankan tugas jurnalistik. "Jangan melakukan tindakan yang berbahaya. Jangan liputan sendiri, dan selalu antisipasi dari awal," paparnya.
Selain itu, pemahaman terhadap kaidah-kaidah jurnalistik juga menjadi pesan penting. "Wartawan harus menjalankan tugas dengan profesionalisme. Kode etik dan prinsip-prinsip jurnalistik harus dipahami," tegasnya.
Meskipun hingga tahun 2023 PWI Kaltim belum menerima laporan aduan kekerasan terhadap wartawan, tantangan tetap ada. Dengan semangat HPN 2024, PWI Kaltim berkomitmen untuk terus menjaga profesionalisme dan memperjuangkan kebebasan pers.
"Konfirmasi dari dewan kehormatan PWI, tidak ada teman-teman melaporkan. Ada kasus yang kemarin yang melibatkan kekerasan tetapi bukan anggota PWI, kami tidak terlalu cawe-cawe kesana," jelasnya.
Ia mengakui indeks kebebasan pers di Kaltim selama dua tahun kebelakangan ini selalu meningkat dan masuk dalam kategori prestasi. "Ini menandakan iklim kebebasan berbicara, iklim menyampaikan informasi sangat baik, jadi tinggal bagaimana ini bisa dipelihara dengan baik dari insan pers, narasumber maupun instansi," tutupnya.
Sementara itu, menurut data nasional dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 83 jurnalis, 5 kelompok jurnalis, dan 15 media menjadi korban berbagai serangan, mulai dari fisik, teror, digital, kriminalisasi, hingga kekerasan seksual. Jurnalis dan media yang meliput isu akuntabilitas dan korupsi paling banyak mengalami kekerasan, yaitu 33 kasus, diikuti oleh isu sosial dan kriminalitas (25 kasus) dan isu lingkungan dan konflik agraria (14 kasus).
Laporan AJI juga mengungkap, mayoritas pelaku kekerasan adalah aktor negara (36 kasus), disusul oleh aktor non-negara (29 kasus) dan yang tidak diketahui (24 kasus). Lima narasumber juga ditargetkan dengan kriminalisasi melalui UU ITE, KUHP, dan gugatan perdata. (Sf/Rs)
Tim Liputan
1. Maya Sari (Balikpapan)
2. Tria (Samarinda)
3. Maulana (Kalimantan Timur)