Seputar Kaltim

    Warga Samarinda Tak Perlu Bingung Cari Liburan, 4 Destinasi Ikonik Ini Sedang ‘Dipoles’ Naik Kelas

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    01 Januari 2026 pukul 14:59 WITA

    Wisata Budaya Pampang yang akan dipoles oleh Pemkot Samarinda. (Foto: Budaya Pampang)

    Samarinda - Citra Kota Samarinda yang kerap dianggap minim pilihan wisata tampaknya perlahan mulai dibenahi. 

    Pemerintah kota melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) kini tengah melakukan perbaikan terhadap sejumlah lokasi wisata andalan agar lebih nyaman dan layak dikunjungi.

    Jika selama ini Anda merasa wisata lokal fasilitasnya kurang memadai, bersiaplah melihat perubahan di Desa Budaya Pampang, Bukit Steling, Kampung Tenun, hingga Kampung Ketupat.

    Sentuhan Baru, Bukan Sekadar Fisik Perbaikan kali ini tidak hanya soal membeton jalan atau mengecat gerbang. 

    Sejak Juli hingga Oktober 2025, Disporapar menerjunkan tim ahli pariwisata untuk mendampingi warga setempat secara intensif.

    Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana Pida, menekankan bahwa perubahan ini menyasar "jiwa" dari tempat wisata tersebut. 

    Fokusnya adalah mengubah cara warga menyambut tamu, kemampuan bercerita (storytelling) tentang sejarah lokasi, hingga penyusunan paket wisata yang lebih rapi dan profesional.

    Meski belum dipromosikan secara masif, daya tarik Samarinda terbukti punya pasarnya sendiri. Diana menceritakan fakta menarik tentang kedatangan wisatawan asing di Bukit Steling.

    "Contohnya di Bukit Steling, ada wisatawan dari Jerman yang datang karena mengetahui tempat itu dari internet. Artinya, potensi ini ada dan bisa dikembangkan," ujarnya. 

    Hal ini menjadi sinyal bahwa dengan pengelolaan yang lebih tertata, wisata lokal Samarinda sangat mampu bersaing menarik minat pelancong.

    Integrasi Wisata Kota Tak hanya destinasi alam dan budaya, pusat kota juga dirancang menjadi jalur wisata yang saling terhubung. 

    Rencananya, wisatawan bisa menikmati suasana Teras Samarinda, lalu bergeser ke kawasan Pecinan (Chinatown) yang sedang dikonsep ulang, lanjut ke Pasar Pagi yang baru, dan ditutup dengan kuliner serta belanja suvenir di Citra Niaga.

    Tantangan Kualitas di 2026 Menghadapi tahun 2026, Disporapar akan menyesuaikan strategi di tengah efisiensi anggaran, namun menjamin kualitas pendampingan tidak akan kendor. 

    Diana mengakui, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir (mindset) pengelola wisata. 

    "Tujuannya agar orientasi mereka tidak semata-mata mengejar keuntungan sesaat, melainkan memberikan pelayanan yang membuat pengunjung betah dan ingin kembali," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Warga Samarinda Tak Perlu Bingung Cari Liburan, 4 Destinasi Ikonik Ini Sedang ‘Dipoles’ Naik Kelas

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    01 Januari 2026 pukul 14:59 WITA

    Wisata Budaya Pampang yang akan dipoles oleh Pemkot Samarinda. (Foto: Budaya Pampang)

    Samarinda - Citra Kota Samarinda yang kerap dianggap minim pilihan wisata tampaknya perlahan mulai dibenahi. 

    Pemerintah kota melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) kini tengah melakukan perbaikan terhadap sejumlah lokasi wisata andalan agar lebih nyaman dan layak dikunjungi.

    Jika selama ini Anda merasa wisata lokal fasilitasnya kurang memadai, bersiaplah melihat perubahan di Desa Budaya Pampang, Bukit Steling, Kampung Tenun, hingga Kampung Ketupat.

    Sentuhan Baru, Bukan Sekadar Fisik Perbaikan kali ini tidak hanya soal membeton jalan atau mengecat gerbang. 

    Sejak Juli hingga Oktober 2025, Disporapar menerjunkan tim ahli pariwisata untuk mendampingi warga setempat secara intensif.

    Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana Pida, menekankan bahwa perubahan ini menyasar "jiwa" dari tempat wisata tersebut. 

    Fokusnya adalah mengubah cara warga menyambut tamu, kemampuan bercerita (storytelling) tentang sejarah lokasi, hingga penyusunan paket wisata yang lebih rapi dan profesional.

    Meski belum dipromosikan secara masif, daya tarik Samarinda terbukti punya pasarnya sendiri. Diana menceritakan fakta menarik tentang kedatangan wisatawan asing di Bukit Steling.

    "Contohnya di Bukit Steling, ada wisatawan dari Jerman yang datang karena mengetahui tempat itu dari internet. Artinya, potensi ini ada dan bisa dikembangkan," ujarnya. 

    Hal ini menjadi sinyal bahwa dengan pengelolaan yang lebih tertata, wisata lokal Samarinda sangat mampu bersaing menarik minat pelancong.

    Integrasi Wisata Kota Tak hanya destinasi alam dan budaya, pusat kota juga dirancang menjadi jalur wisata yang saling terhubung. 

    Rencananya, wisatawan bisa menikmati suasana Teras Samarinda, lalu bergeser ke kawasan Pecinan (Chinatown) yang sedang dikonsep ulang, lanjut ke Pasar Pagi yang baru, dan ditutup dengan kuliner serta belanja suvenir di Citra Niaga.

    Tantangan Kualitas di 2026 Menghadapi tahun 2026, Disporapar akan menyesuaikan strategi di tengah efisiensi anggaran, namun menjamin kualitas pendampingan tidak akan kendor. 

    Diana mengakui, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir (mindset) pengelola wisata. 

    "Tujuannya agar orientasi mereka tidak semata-mata mengejar keuntungan sesaat, melainkan memberikan pelayanan yang membuat pengunjung betah dan ingin kembali," tutupnya.

    (Sf/Rs)