Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi sampah di TPS yang belum dipilah. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, mengatakan bahwa pengelolaan sampah yang tampak sederhana ternyata menjadi tantangan besar di Samarinda. Hingga saat ini, Boy menyebut, belum ada satu Rukun Tetangga (RT) pun yang konsisten menerapkan pemilahan sampah dari rumah.
"Dari 1998 sampai sekarang, belum ada satu RT pun di Samarinda yang benar-benar memilah sampah dari rumah. Padahal ini sebenarnya mudah, tinggal dipilah sesuai jenisnya. Tapi, pelaksanaannya sangat sulit," ujar Boy.
Ia membeberkan, salah satu cara DLH mencoba mengatasi masalah ini adalah melalui proyek percontohan yang melibatkan tokoh masyarakat sebagai pemrakarsa pengelolaan sampah. Salah satu contohnya adalah, Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, yang menginisiasi program pemilahan sampah di lingkungannya.
"Harapannya, apa yang dilakukan tokoh masyarakat seperti Pak Andriansyah ini bisa menjadi teladan dan menjalar ke tempat-tempat lain. Tokoh masyarakat itu memiliki pengaruh besar, apa pun yang mereka lakukan biasanya akan ditiru," jelasnya.
DLH juga mencoba mendekati masyarakat melalui pendekatan moral dan keagamaan. Menurut Boy, jika pengelolaan sampah dikaitkan dengan nilai-nilai ibadah atau moral, masyarakat cenderung lebih mudah menerima dan mengubah kebiasaan mereka.
Selain itu, DLH Samarinda mulai mendorong edukasi pengelolaan sampah melalui dunia pendidikan. Apalagi menurutnya ini bisa menjadi langkah jangka panjang dalam pengelolaan sampah. Dalam sehari, disebutkannya, Samarinda bisa menghasilkan sampah sekitar 600 ton. Sampah ini, lanjutnya, jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak buruk pada lingkungan.
"Kami ingin materi pengelolaan sampah masuk ke kurikulum sekolah, setidaknya sebagai muatan lokal. Meskipun ini langkah jangka panjang, di negara maju anak-anak sudah diajarkan mengelola sampah sejak kecil, sehingga kebiasaan itu diwariskan ke generasi berikutnya," imbuhnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Boy mengakui bahwa implementasi di masyarakat masih membutuhkan kerja keras dan kolaborasi dari berbagai pihak. Ia berharap, melalui dukungan tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan instansi terkait, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah dapat meningkat, sehingga masalah ini bisa teratasi secara bertahap.
Pengadaan bank sampah juga dikatakannya sebagai salah satu upaya DLH dalam menanggulangi sampah. "Di kantor DLH, sampah anorganik seperti botol plastik dikumpulkan untuk didaur ulang, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi eco-enzim atau kompos, dengan TPS Loa Bakung dan Mugirejo sebagai titik utama pengolahan," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi sampah di TPS yang belum dipilah. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, mengatakan bahwa pengelolaan sampah yang tampak sederhana ternyata menjadi tantangan besar di Samarinda. Hingga saat ini, Boy menyebut, belum ada satu Rukun Tetangga (RT) pun yang konsisten menerapkan pemilahan sampah dari rumah.
"Dari 1998 sampai sekarang, belum ada satu RT pun di Samarinda yang benar-benar memilah sampah dari rumah. Padahal ini sebenarnya mudah, tinggal dipilah sesuai jenisnya. Tapi, pelaksanaannya sangat sulit," ujar Boy.
Ia membeberkan, salah satu cara DLH mencoba mengatasi masalah ini adalah melalui proyek percontohan yang melibatkan tokoh masyarakat sebagai pemrakarsa pengelolaan sampah. Salah satu contohnya adalah, Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, yang menginisiasi program pemilahan sampah di lingkungannya.
"Harapannya, apa yang dilakukan tokoh masyarakat seperti Pak Andriansyah ini bisa menjadi teladan dan menjalar ke tempat-tempat lain. Tokoh masyarakat itu memiliki pengaruh besar, apa pun yang mereka lakukan biasanya akan ditiru," jelasnya.
DLH juga mencoba mendekati masyarakat melalui pendekatan moral dan keagamaan. Menurut Boy, jika pengelolaan sampah dikaitkan dengan nilai-nilai ibadah atau moral, masyarakat cenderung lebih mudah menerima dan mengubah kebiasaan mereka.
Selain itu, DLH Samarinda mulai mendorong edukasi pengelolaan sampah melalui dunia pendidikan. Apalagi menurutnya ini bisa menjadi langkah jangka panjang dalam pengelolaan sampah. Dalam sehari, disebutkannya, Samarinda bisa menghasilkan sampah sekitar 600 ton. Sampah ini, lanjutnya, jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak buruk pada lingkungan.
"Kami ingin materi pengelolaan sampah masuk ke kurikulum sekolah, setidaknya sebagai muatan lokal. Meskipun ini langkah jangka panjang, di negara maju anak-anak sudah diajarkan mengelola sampah sejak kecil, sehingga kebiasaan itu diwariskan ke generasi berikutnya," imbuhnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Boy mengakui bahwa implementasi di masyarakat masih membutuhkan kerja keras dan kolaborasi dari berbagai pihak. Ia berharap, melalui dukungan tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan instansi terkait, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah dapat meningkat, sehingga masalah ini bisa teratasi secara bertahap.
Pengadaan bank sampah juga dikatakannya sebagai salah satu upaya DLH dalam menanggulangi sampah. "Di kantor DLH, sampah anorganik seperti botol plastik dikumpulkan untuk didaur ulang, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi eco-enzim atau kompos, dengan TPS Loa Bakung dan Mugirejo sebagai titik utama pengolahan," pungkasnya.
(Sf/Rs)