Seputar Kaltim

    Warga Samarinda Antusias dapat Bantuan, Pengemudi Ojol Ceritakan Dampak BBM Oplosan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    14 April 2025 pukul 14:46 WITA

    Pengemudi ojol yang mengantre bantuan akibat BBM oplosan di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Senin (14/4/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Antusiasme warga terhadap bantuan dampak BBM oplosan tidak hanya terlihat dari antrean panjang di kantor Kecamatan Samarinda Ulu, tapi juga dari kisah para penerima bantuan yang sebagian besar adalah pengemudi ojek online (ojol). 

    Salah satunya adalah Ria, warga Samarinda Ulu, yang sehari-hari bekerja sebagai driver Maxim sejak masa pandemi COVID-19. 

    Ia mengaku motornya mengalami kerusakan usai mengisi bahan bakar, yang belakangan diduga berasal dari BBM oplosan.

    “Awalnya motor saya normal, tapi setelah isi bensin dan dipakai jalan, tiba-tiba tidak bisa jalan. Sudah saya paksa, tapi makin parah, akhirnya dibawa ke bengkel,” tutur Ria saat ditanya selagi menunggu antrean bantuan di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Senin (14/4/2025). 

    Sebagai perempuan, ia mengaku tidak terlalu paham soal teknis kerusakan kendaraan. Yang penting, kata dia, motor bisa kembali digunakan untuk bekerja. Saat itu, keluhan utama motornya adalah brebet. 

    Meski sempat diperbaiki dan menghabiskan biaya hampir Rp300 ribu, kerusakan serupa kembali muncul beberapa hari kemudian.

    Ria mengetahui adanya bantuan ini dari temannya. Ia hampir tidak kebagian karena kuota yang terbatas, namun akhirnya mendapat giliran setelah ada peserta dari luar kecamatan yang tidak memenuhi syarat.

    “Yang diminta itu bukti dari bengkel, foto kerusakan, STNK, dan KTP. Sekarang saya masih antre untuk pemeriksaan kendaraan,” jelasnya.

    Sementara itu, Anwar, pengemudi Gojek yang berdomisili di Jalan Antasari, juga turut mendaftar sebagai penerima bantuan. 

    Ia mengaku proses pendaftarannya cukup mudah karena persyaratannya sudah diinformasikan secara jelas, termasuk melalui media sosial.

    “Sudah sejam saya di sini. Bawa nota perbaikan, daftar sparepart yang diganti, dan foto motor. Motor saya mogok setelah isi bensin di SPBU Juanda, pas tanggal 5 habis Lebaran,” ujar Anwar.

    Menurutnya, kerusakan tersebut sangat berdampak pada pekerjaannya sebagai ojek daring. Ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp1 juta untuk memperbaiki motornya di bengkel.

    Pengalaman para pengemudi ojek daring ini menjadi cermin nyata bagaimana insiden BBM oplosan berdampak langsung pada masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan bermotor. 

    "Saya kena (brebet) pas tanggal 5 habis lebaran setelah isi bensin di SPBU Juanda itu langsung mendadak mati jadi dibawa ke bengkel karena itu cukup mempengaruhi performa buat saya ngegojek," pungkas Anwar. 

    Dengan adanya bantuan dari Pemkot Samarinda ini pun dinilainya sangat membantu, meski dengan kuota yang terbatas. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Warga Samarinda Antusias dapat Bantuan, Pengemudi Ojol Ceritakan Dampak BBM Oplosan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    14 April 2025 pukul 14:46 WITA

    Pengemudi ojol yang mengantre bantuan akibat BBM oplosan di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Senin (14/4/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Antusiasme warga terhadap bantuan dampak BBM oplosan tidak hanya terlihat dari antrean panjang di kantor Kecamatan Samarinda Ulu, tapi juga dari kisah para penerima bantuan yang sebagian besar adalah pengemudi ojek online (ojol). 

    Salah satunya adalah Ria, warga Samarinda Ulu, yang sehari-hari bekerja sebagai driver Maxim sejak masa pandemi COVID-19. 

    Ia mengaku motornya mengalami kerusakan usai mengisi bahan bakar, yang belakangan diduga berasal dari BBM oplosan.

    “Awalnya motor saya normal, tapi setelah isi bensin dan dipakai jalan, tiba-tiba tidak bisa jalan. Sudah saya paksa, tapi makin parah, akhirnya dibawa ke bengkel,” tutur Ria saat ditanya selagi menunggu antrean bantuan di Kantor Kecamatan Samarinda Ulu, Senin (14/4/2025). 

    Sebagai perempuan, ia mengaku tidak terlalu paham soal teknis kerusakan kendaraan. Yang penting, kata dia, motor bisa kembali digunakan untuk bekerja. Saat itu, keluhan utama motornya adalah brebet. 

    Meski sempat diperbaiki dan menghabiskan biaya hampir Rp300 ribu, kerusakan serupa kembali muncul beberapa hari kemudian.

    Ria mengetahui adanya bantuan ini dari temannya. Ia hampir tidak kebagian karena kuota yang terbatas, namun akhirnya mendapat giliran setelah ada peserta dari luar kecamatan yang tidak memenuhi syarat.

    “Yang diminta itu bukti dari bengkel, foto kerusakan, STNK, dan KTP. Sekarang saya masih antre untuk pemeriksaan kendaraan,” jelasnya.

    Sementara itu, Anwar, pengemudi Gojek yang berdomisili di Jalan Antasari, juga turut mendaftar sebagai penerima bantuan. 

    Ia mengaku proses pendaftarannya cukup mudah karena persyaratannya sudah diinformasikan secara jelas, termasuk melalui media sosial.

    “Sudah sejam saya di sini. Bawa nota perbaikan, daftar sparepart yang diganti, dan foto motor. Motor saya mogok setelah isi bensin di SPBU Juanda, pas tanggal 5 habis Lebaran,” ujar Anwar.

    Menurutnya, kerusakan tersebut sangat berdampak pada pekerjaannya sebagai ojek daring. Ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp1 juta untuk memperbaiki motornya di bengkel.

    Pengalaman para pengemudi ojek daring ini menjadi cermin nyata bagaimana insiden BBM oplosan berdampak langsung pada masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan bermotor. 

    "Saya kena (brebet) pas tanggal 5 habis lebaran setelah isi bensin di SPBU Juanda itu langsung mendadak mati jadi dibawa ke bengkel karena itu cukup mempengaruhi performa buat saya ngegojek," pungkas Anwar. 

    Dengan adanya bantuan dari Pemkot Samarinda ini pun dinilainya sangat membantu, meski dengan kuota yang terbatas. 

    (Sf/Rs)