Seputar Kaltim

    Warga Muara Rapak Ubah Sampah Jadi Energi dan Sumber Penghasilan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    04 April 2026 pukul 13:36 WITA

    Prayitno sebagai Praktisi Lingkungan di Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Persoalan sampah perkotaan yang kian meningkat mendorong warga Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara mencari solusi inovatif.

    Melalui gerakan berbasis masyarakat, sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan kini berhasil diolah menjadi sumber energi alternatif sekaligus penghasilan tambahan.

    Inisiatif ini digagas oleh praktisi lingkungan, Prayitno yang sejak 2012 aktif mengedukasi masyarakat agar mengubah cara pandang terhadap sampah.

    Ia mengajak warga untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah tangga, bukan sekadar membuangnya.

    “Jika dikelola dengan benar, sampah bisa memberikan manfaat. Selain menjaga lingkungan tetap bersih, juga memiliki nilai ekonomi,” ucap Prayitno kepada awak media, Sabtu (4/4/2026).

    Dalam penerapannya warga memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos dan media tanam, sedangkan sampah nonorganik didaur ulang menjadi berbagai produk bernilai guna seperti kerajinan tangan, pakaian, hingga sepatu.

    Tak hanya itu, inovasi juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, seperti solar dan bensin. Program ini mulai menunjukkan hasil nyata.

    “Lingkungan menjadi lebih bersih, sementara warga mendapatkan tambahan pendapatan dari hasil pengolahan sampah. Hingga kini, sekitar 100 bank sampah telah terbentuk dan tersebar di berbagai wilayah Kota Balikpapan,” jelasnya.

    Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait meningkatnya jumlah penduduk dan pendatang baru yang belum memiliki kesadaran pengelolaan sampah.

    “Edukasi harus terus dilakukan. Kesadaran lingkungan tidak bisa dibangun secara instan, apalagi dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat,” akunya.

    Untuk menjaga keberlanjutan program, Prayitno menekankan pentingnya peran generasi muda. Berbagai kegiatan edukatif seperti pelatihan dan lomba rutin digelar guna menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

    Gerakan yang berkembang dari Muara Rapak ini menjadi contoh pengelolaan sampah dapat dimulai dari tingkat lokal.

    “Dengan pendekatan yang tepat, sampah tidak lagi menjadi beban kota, melainkan sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat,” tuturnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Warga Muara Rapak Ubah Sampah Jadi Energi dan Sumber Penghasilan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    04 April 2026 pukul 13:36 WITA

    Prayitno sebagai Praktisi Lingkungan di Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Persoalan sampah perkotaan yang kian meningkat mendorong warga Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara mencari solusi inovatif.

    Melalui gerakan berbasis masyarakat, sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan kini berhasil diolah menjadi sumber energi alternatif sekaligus penghasilan tambahan.

    Inisiatif ini digagas oleh praktisi lingkungan, Prayitno yang sejak 2012 aktif mengedukasi masyarakat agar mengubah cara pandang terhadap sampah.

    Ia mengajak warga untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah tangga, bukan sekadar membuangnya.

    “Jika dikelola dengan benar, sampah bisa memberikan manfaat. Selain menjaga lingkungan tetap bersih, juga memiliki nilai ekonomi,” ucap Prayitno kepada awak media, Sabtu (4/4/2026).

    Dalam penerapannya warga memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos dan media tanam, sedangkan sampah nonorganik didaur ulang menjadi berbagai produk bernilai guna seperti kerajinan tangan, pakaian, hingga sepatu.

    Tak hanya itu, inovasi juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, seperti solar dan bensin. Program ini mulai menunjukkan hasil nyata.

    “Lingkungan menjadi lebih bersih, sementara warga mendapatkan tambahan pendapatan dari hasil pengolahan sampah. Hingga kini, sekitar 100 bank sampah telah terbentuk dan tersebar di berbagai wilayah Kota Balikpapan,” jelasnya.

    Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait meningkatnya jumlah penduduk dan pendatang baru yang belum memiliki kesadaran pengelolaan sampah.

    “Edukasi harus terus dilakukan. Kesadaran lingkungan tidak bisa dibangun secara instan, apalagi dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat,” akunya.

    Untuk menjaga keberlanjutan program, Prayitno menekankan pentingnya peran generasi muda. Berbagai kegiatan edukatif seperti pelatihan dan lomba rutin digelar guna menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

    Gerakan yang berkembang dari Muara Rapak ini menjadi contoh pengelolaan sampah dapat dimulai dari tingkat lokal.

    “Dengan pendekatan yang tepat, sampah tidak lagi menjadi beban kota, melainkan sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat,” tuturnya.

    (Sf/Lo)