Seputar Kaltim

    Wanti-wanti Jaga Tradisi di Perantauan, Pemkot Balikpapan Dorong Generasi Muda Kenali Budaya Jogja

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 11:59 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Warga asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tinggal di perantauan didorong untuk terus melestarikan budaya daerah dan menjaga kerukunan antarmasyarakat. Upaya tersebut dinilai penting agar tradisi leluhur tetap dikenal generasi muda, meski mereka tumbuh jauh dari kampung halaman.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari mengenalkan tarian tradisional, gamelan, hingga kesenian khas Yogyakarta kepada anak-anak.

    “Pengenalan budaya sejak dini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur. Dengan demikian, identitas budaya tetap terjaga meskipun masyarakat tinggal di luar daerah asal,” jelas Wawali Bagus kepada media, Jumat (16/10/2026).

    Bagus menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan silaturahmi warga asal Yogyakarta yang tinggal di perantauan, khususnya dari wilayah Kalimantan Selatan dan Kaltim.

    Dalam kegiatan tersebut, ia mengapresiasi kebersamaan warga yang tetap terjaga melalui pertemuan rutin. Sejumlah peserta diketahui berasal dari wilayah Yogyakarta, termasuk Gunungkidul dan Kulon Progo, yang kini menetap di Banjarmasin dan daerah lain di Kalimantan Selatan.

    “Ini menunjukkan bahwa silaturahmi antarwarga Jogja di perantauan sangat positif. Tadi juga disampaikan berbagai kegiatan yang sudah dilakukan, termasuk silaturahmi rutin setiap bulan,” ujarnya.

    Selain menjaga hubungan kekeluargaan, Bagus menilai keberadaan paguyuban turut berperan dalam memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Balikpapan.

    Ia menyebutkan, Pemerintah Kota Balikpapan mencatat terdapat 131 paguyuban dari berbagai daerah di Indonesia.

    “Keberadaan organisasi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terdiri atas beragam suku dan latar belakang,” imbuhnya.

    Menurut Bagus, keberagaman merupakan kekuatan yang perlu dijaga bersama agar kehidupan masyarakat tetap rukun dan kondusif. Karena itu, hubungan baik antarpaguyuban perlu terus dipelihara melalui komunikasi dan kegiatan kebersamaan.

    “Balikpapan adalah miniatur Republik yang ada di kota ini. Sampai sekarang tidak ada konflik horizontal dan kami masih menjaga kondusivitas kota ini tetap terjaga,” katanya.

    Bagus juga menyoroti penampilan tembang panembrama dalam kegiatan silaturahmi tersebut. Kesenian tradisional itu dinilai menjadi salah satu bentuk nyata upaya warga dalam menjaga tradisi Yogyakarta di tanah perantauan.

    Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan agar warga tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengenalkan kebudayaan daerah kepada generasi penerus.

    “Bagi warga perantauan, menjaga tradisi bukan sekadar mengenang kampung halaman, melainkan juga memastikan warisan budaya tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas generasi berikutnya,” ungkapnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Wanti-wanti Jaga Tradisi di Perantauan, Pemkot Balikpapan Dorong Generasi Muda Kenali Budaya Jogja

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 11:59 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Mayasari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Warga asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tinggal di perantauan didorong untuk terus melestarikan budaya daerah dan menjaga kerukunan antarmasyarakat. Upaya tersebut dinilai penting agar tradisi leluhur tetap dikenal generasi muda, meski mereka tumbuh jauh dari kampung halaman.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari mengenalkan tarian tradisional, gamelan, hingga kesenian khas Yogyakarta kepada anak-anak.

    “Pengenalan budaya sejak dini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur. Dengan demikian, identitas budaya tetap terjaga meskipun masyarakat tinggal di luar daerah asal,” jelas Wawali Bagus kepada media, Jumat (16/10/2026).

    Bagus menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan silaturahmi warga asal Yogyakarta yang tinggal di perantauan, khususnya dari wilayah Kalimantan Selatan dan Kaltim.

    Dalam kegiatan tersebut, ia mengapresiasi kebersamaan warga yang tetap terjaga melalui pertemuan rutin. Sejumlah peserta diketahui berasal dari wilayah Yogyakarta, termasuk Gunungkidul dan Kulon Progo, yang kini menetap di Banjarmasin dan daerah lain di Kalimantan Selatan.

    “Ini menunjukkan bahwa silaturahmi antarwarga Jogja di perantauan sangat positif. Tadi juga disampaikan berbagai kegiatan yang sudah dilakukan, termasuk silaturahmi rutin setiap bulan,” ujarnya.

    Selain menjaga hubungan kekeluargaan, Bagus menilai keberadaan paguyuban turut berperan dalam memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Balikpapan.

    Ia menyebutkan, Pemerintah Kota Balikpapan mencatat terdapat 131 paguyuban dari berbagai daerah di Indonesia.

    “Keberadaan organisasi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terdiri atas beragam suku dan latar belakang,” imbuhnya.

    Menurut Bagus, keberagaman merupakan kekuatan yang perlu dijaga bersama agar kehidupan masyarakat tetap rukun dan kondusif. Karena itu, hubungan baik antarpaguyuban perlu terus dipelihara melalui komunikasi dan kegiatan kebersamaan.

    “Balikpapan adalah miniatur Republik yang ada di kota ini. Sampai sekarang tidak ada konflik horizontal dan kami masih menjaga kondusivitas kota ini tetap terjaga,” katanya.

    Bagus juga menyoroti penampilan tembang panembrama dalam kegiatan silaturahmi tersebut. Kesenian tradisional itu dinilai menjadi salah satu bentuk nyata upaya warga dalam menjaga tradisi Yogyakarta di tanah perantauan.

    Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan agar warga tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengenalkan kebudayaan daerah kepada generasi penerus.

    “Bagi warga perantauan, menjaga tradisi bukan sekadar mengenang kampung halaman, melainkan juga memastikan warisan budaya tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas generasi berikutnya,” ungkapnya.

    (Sf/Lo)