Seputar Kaltim

    Walkot Bontang Targetkan Operasi Timbang Balita Tiga Kali Setahun, Kinerja Kader Jadi Sorotan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    20 Januari 2026 pukul 20:06 WITA

    Penandatanganan Komitmen Kinerja Posyandu dan Penyerahan Sarana Posyandu Kota Bontang Tahun 2026. (Foto: Diskominfo Bontang)

    Bontang - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berencana memperkuat pemantauan tumbuh kembang balita melalui kebijakan operasi timbang balita serentak minimal tiga kali dalam setahun mulai 2026. 

    Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi penanganan stunting yang kini menuntut peran posyandu dan kader semakin aktif dan terukur.

    Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan kebijakan tersebut telah diarahkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes).

    “Operasi timbang balita serentak minimal dilaksanakan selama tiga kali setahun,” ujar Neni saat menghadiri kegiatan Dinkes, Selasa (20/1/2026).

    Menurut Neni penguatan pemantauan balita tidak bisa dilepaskan dari peningkatan kinerja kader posyandu. Apalagi pemerintah daerah telah menaikkan insentif kader secara signifikan, dari Rp300 ribu menjadi Rp1 juta per bulan sejak 2025. 

    Kenaikan itu harus dibarengi dengan capaian indikator layanan yang jelas, terutama dalam deteksi dini stunting.

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe menjelaskan pada 2026 pihaknya mendorong peningkatan frekuensi operasi timbang dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, operasi timbang balita serentak hanya dilakukan dua kali dalam setahun.

    “Tahun ini kami dorong meningkat menjadi tiga kali,” kata Bachtiar.

    Namun Bachtiar mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi kendala. Hingga kini, dalam perencanaan anggaran 2026 baru tersedia alokasi untuk satu kali pelaksanaan operasi timbang. 

    “Yang dianggarkan baru satu kali, karena arahan dari Bunda Neni baru disampaikan,” ujarnya.

    Ia optimistis satu kali operasi timbang serentak mampu menjangkau sebagian besar sasaran. Dinkes menargetkan cakupan minimal 80 persen dari total balita di Bontang. 

    “Dengan capaian tersebut, satu kali operasi timbang sebenarnya sudah cukup efektif,” kata Bachtiar.

    Selain operasi timbang serentak, pemantauan berat badan balita tetap dilakukan secara rutin setiap bulan melalui posyandu dan fasilitas layanan kesehatan. 

    Upaya ini diperkuat dengan penyediaan sarana prasarana posyandu, termasuk laptop untuk digitalisasi pencatatan, alat ukur antropometri, serta peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Walkot Bontang Targetkan Operasi Timbang Balita Tiga Kali Setahun, Kinerja Kader Jadi Sorotan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    20 Januari 2026 pukul 20:06 WITA

    Penandatanganan Komitmen Kinerja Posyandu dan Penyerahan Sarana Posyandu Kota Bontang Tahun 2026. (Foto: Diskominfo Bontang)

    Bontang - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berencana memperkuat pemantauan tumbuh kembang balita melalui kebijakan operasi timbang balita serentak minimal tiga kali dalam setahun mulai 2026. 

    Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi penanganan stunting yang kini menuntut peran posyandu dan kader semakin aktif dan terukur.

    Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan kebijakan tersebut telah diarahkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes).

    “Operasi timbang balita serentak minimal dilaksanakan selama tiga kali setahun,” ujar Neni saat menghadiri kegiatan Dinkes, Selasa (20/1/2026).

    Menurut Neni penguatan pemantauan balita tidak bisa dilepaskan dari peningkatan kinerja kader posyandu. Apalagi pemerintah daerah telah menaikkan insentif kader secara signifikan, dari Rp300 ribu menjadi Rp1 juta per bulan sejak 2025. 

    Kenaikan itu harus dibarengi dengan capaian indikator layanan yang jelas, terutama dalam deteksi dini stunting.

    Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe menjelaskan pada 2026 pihaknya mendorong peningkatan frekuensi operasi timbang dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, operasi timbang balita serentak hanya dilakukan dua kali dalam setahun.

    “Tahun ini kami dorong meningkat menjadi tiga kali,” kata Bachtiar.

    Namun Bachtiar mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi kendala. Hingga kini, dalam perencanaan anggaran 2026 baru tersedia alokasi untuk satu kali pelaksanaan operasi timbang. 

    “Yang dianggarkan baru satu kali, karena arahan dari Bunda Neni baru disampaikan,” ujarnya.

    Ia optimistis satu kali operasi timbang serentak mampu menjangkau sebagian besar sasaran. Dinkes menargetkan cakupan minimal 80 persen dari total balita di Bontang. 

    “Dengan capaian tersebut, satu kali operasi timbang sebenarnya sudah cukup efektif,” kata Bachtiar.

    Selain operasi timbang serentak, pemantauan berat badan balita tetap dilakukan secara rutin setiap bulan melalui posyandu dan fasilitas layanan kesehatan. 

    Upaya ini diperkuat dengan penyediaan sarana prasarana posyandu, termasuk laptop untuk digitalisasi pencatatan, alat ukur antropometri, serta peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan.

    (Sf/Lo)