Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi anak laki-laki (Dok: freepik)
Tenggarong - Tujuh santri yang menjadi korban pencabulan oleh oknum ustadz di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar) pada 2025 lalu diduga mengalami penolakan saat mendaftar di sekolah lain.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh salah satu orang tua korban, Desi Yanti yang mengaku sempat berulang kali ditolak berbagai sekolah saat hendak mendaftarkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan.
“Ada salah satu sekolah di Samarinda yang menolak anak kami setelah mengetahui asal sekolah sebelumnya,” ujar Desi, Kamis (22/1/2026).
Penolakan itu diduga dikarenakan pihak sekolah berupaya mencegah penularan penyakit HIV, mengingat beberapa santri tersebut menjadi korban pelecehan seksual sesama jenis.
Menurutnya, pihak sekolah seharusnya tidak serta-merta menyimpulkan kondisi para korban positif mengidap penyakit menular setelah mengalami insiden pencabulan tersebut.
“Jangan pernah menganggap anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu sebagai aib ataupun virus, sehingga sampai ada sekolah yang menolak anak kami karena takut terpapar,” tegas Desi.
Kini tercatat dari ketujuh santri, baru enam orang yang telah diterima di sekolah lain. Sementara satu anak lainnya masih berupaya mencari sekolah yang bersedia menampung dirinya.
Ia berharap ke depan, tidak ada lagi stigma buruk maupun diskriminasi terhadap anak-anak yang menjadi korban pencabulan agar mereka tidak mengalami trauma psikologis dan dapat melanjutkan pendidikan secara normal.
“Mudah-mudahan masyarakat dapat lebih bijak (menyikapi persoalan),” tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi anak laki-laki (Dok: freepik)
Tenggarong - Tujuh santri yang menjadi korban pencabulan oleh oknum ustadz di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar) pada 2025 lalu diduga mengalami penolakan saat mendaftar di sekolah lain.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh salah satu orang tua korban, Desi Yanti yang mengaku sempat berulang kali ditolak berbagai sekolah saat hendak mendaftarkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan.
“Ada salah satu sekolah di Samarinda yang menolak anak kami setelah mengetahui asal sekolah sebelumnya,” ujar Desi, Kamis (22/1/2026).
Penolakan itu diduga dikarenakan pihak sekolah berupaya mencegah penularan penyakit HIV, mengingat beberapa santri tersebut menjadi korban pelecehan seksual sesama jenis.
Menurutnya, pihak sekolah seharusnya tidak serta-merta menyimpulkan kondisi para korban positif mengidap penyakit menular setelah mengalami insiden pencabulan tersebut.
“Jangan pernah menganggap anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu sebagai aib ataupun virus, sehingga sampai ada sekolah yang menolak anak kami karena takut terpapar,” tegas Desi.
Kini tercatat dari ketujuh santri, baru enam orang yang telah diterima di sekolah lain. Sementara satu anak lainnya masih berupaya mencari sekolah yang bersedia menampung dirinya.
Ia berharap ke depan, tidak ada lagi stigma buruk maupun diskriminasi terhadap anak-anak yang menjadi korban pencabulan agar mereka tidak mengalami trauma psikologis dan dapat melanjutkan pendidikan secara normal.
“Mudah-mudahan masyarakat dapat lebih bijak (menyikapi persoalan),” tandasnya.
(Sf/Rs)