Seputar Kaltim

    Wali Kota Sebut Pengadaan Kereta Api di Samarinda Belum Layak Secara Finansial, Butuh Dana Triliunan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 08:16 WITA

    Pemaparan studi kelayakan pengadaan kereta api di Samarinda, di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Rencana pengadaan moda transportasi berbasis rel di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut bahwa meski penting untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik, proyek ini saat ini dinilai belum layak secara finansial.  

    Ia mengatakan, proyek ini membutuhkan investasi yang sangat besar, sekitar Rp8 triliun, tidak sebanding dengan pengguna kereta harian. "Saat ini pengguna harian diproyeksikan hanya sekitar 525 sampai 550 orang. Jika dihitung, angka tersebut membuat investasi ini terkesan sangat mahal untuk saat ini," ujar Andi Harun dalam rapat pemaparan akhir studi kelayakan di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024).  

    Meski demikian, orang nomor satu di Samarinda itu menekankan pentingnya menyiapkan dokumen perencanaan sebagai langkah awal. Disebutkan bahwa Pemerintah Kota Samarinda telah menyelesaikan studi kelayakan (FS) yang mencakup analisis finansial, teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dokumen ini nantinya akan digunakan untuk diskusi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah pusat.  

    "Kita bersyukur memiliki dokumen ini. Ketika berdiskusi dengan provinsi atau pusat, apalagi jika proyek ini bisa masuk ke dalam proyek strategis nasional, dokumen ini akan menjadi dasar yang kuat," tambahnya.  

    Pria dengan sapaan AH itu juga menjelaskan bahwa proyek ini tidak dapat direalisasikan hanya oleh Samarinda. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sangat dibutuhkan, terlebih jika rencana pembangunan jalur kereta api dari Samarinda ke Bandara APT Pranoto ingin diwujudkan.  

    “Kalau provinsi bersedia membantu, ini tentu bisa diwujudkan. Tapi, saat ini kita di Samarinda tengah fokus pada prioritas lain, seperti pengendalian banjir, penataan kota, dan pembangunan infrastruktur perkotaan,” jelasnya.  

    Meskipun saat ini dinilai belum layak secara finansial, AH optimistis proyek ini dapat menjadi investasi yang layak secara ekonomi di masa depan. Faktor-faktor seperti peningkatan jumlah penerbangan di Bandara APT Pranoto, pertumbuhan aktivitas ekonomi, dan pengembangan destinasi wisata di sekitar bandara akan memengaruhi kelayakan proyek ini.  

    Selain itu, moda transportasi berbasis rel dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah kemacetan, menurunkan tingkat polusi udara, dan menyediakan transportasi massal yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang terus bertumbuh.  

    Tahap awal proyek ini, AH menjabarkan mencakup rencana pembangunan jalur kereta dari Samarinda ke Bandara APT Pranoto dengan beberapa stasiun utama, seperti di Loa Buah dan Big Mall. "Walaupun kesimpulannya sekarang belum layak secara finansial, kita tetap berusaha menyiapkan payung sebelum hujan. Dengan perencanaan matang, ke depan proyek ini bisa diwujudkan," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wali Kota Sebut Pengadaan Kereta Api di Samarinda Belum Layak Secara Finansial, Butuh Dana Triliunan

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Desember 2024 pukul 08:16 WITA

    Pemaparan studi kelayakan pengadaan kereta api di Samarinda, di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Rencana pengadaan moda transportasi berbasis rel di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut bahwa meski penting untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik, proyek ini saat ini dinilai belum layak secara finansial.  

    Ia mengatakan, proyek ini membutuhkan investasi yang sangat besar, sekitar Rp8 triliun, tidak sebanding dengan pengguna kereta harian. "Saat ini pengguna harian diproyeksikan hanya sekitar 525 sampai 550 orang. Jika dihitung, angka tersebut membuat investasi ini terkesan sangat mahal untuk saat ini," ujar Andi Harun dalam rapat pemaparan akhir studi kelayakan di Hotel Fugo Samarinda, Senin (10/12/2024).  

    Meski demikian, orang nomor satu di Samarinda itu menekankan pentingnya menyiapkan dokumen perencanaan sebagai langkah awal. Disebutkan bahwa Pemerintah Kota Samarinda telah menyelesaikan studi kelayakan (FS) yang mencakup analisis finansial, teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dokumen ini nantinya akan digunakan untuk diskusi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah pusat.  

    "Kita bersyukur memiliki dokumen ini. Ketika berdiskusi dengan provinsi atau pusat, apalagi jika proyek ini bisa masuk ke dalam proyek strategis nasional, dokumen ini akan menjadi dasar yang kuat," tambahnya.  

    Pria dengan sapaan AH itu juga menjelaskan bahwa proyek ini tidak dapat direalisasikan hanya oleh Samarinda. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sangat dibutuhkan, terlebih jika rencana pembangunan jalur kereta api dari Samarinda ke Bandara APT Pranoto ingin diwujudkan.  

    “Kalau provinsi bersedia membantu, ini tentu bisa diwujudkan. Tapi, saat ini kita di Samarinda tengah fokus pada prioritas lain, seperti pengendalian banjir, penataan kota, dan pembangunan infrastruktur perkotaan,” jelasnya.  

    Meskipun saat ini dinilai belum layak secara finansial, AH optimistis proyek ini dapat menjadi investasi yang layak secara ekonomi di masa depan. Faktor-faktor seperti peningkatan jumlah penerbangan di Bandara APT Pranoto, pertumbuhan aktivitas ekonomi, dan pengembangan destinasi wisata di sekitar bandara akan memengaruhi kelayakan proyek ini.  

    Selain itu, moda transportasi berbasis rel dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah kemacetan, menurunkan tingkat polusi udara, dan menyediakan transportasi massal yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang terus bertumbuh.  

    Tahap awal proyek ini, AH menjabarkan mencakup rencana pembangunan jalur kereta dari Samarinda ke Bandara APT Pranoto dengan beberapa stasiun utama, seperti di Loa Buah dan Big Mall. "Walaupun kesimpulannya sekarang belum layak secara finansial, kita tetap berusaha menyiapkan payung sebelum hujan. Dengan perencanaan matang, ke depan proyek ini bisa diwujudkan," pungkasnya. 

    (Sf/Rs)