Seputar Kaltim

    Wali Kota Samarinda Klaim Normalisasi Bantaran Sungai Punya Fungsi Ekonomi dan Sosial

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Februari 2024 pukul 14:46 WITA

    Bantaran Sungai Karang Mumus di sisi hotel JB, Jalan Agus Salim, Samarinda, Senin (5/2/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Selepas melakukan normalisasi di bantaran Sungai Karang Mumus di sisi Jalan Tarmidi, Wali Kota Samarinda, Andi Harun berencana akan melanjutkannya di sisi Hotel JB. 

    "Pemerintah ingin melakukan pengembalian fungsi sungai, tidak hanya soal fungsi ekonomi tapi juga fungsi sosial," tutur Andi Harun.

    Menurutnya, penataan bantaran sungai, di samping bisa mengembalikan fungsi sungai, airnya dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat Samarinda dan tempat tumbuh kembangnya biota sungai.

    "Tentu sumber kehidupan sungai itu misalnya bagi nelayan dan juga alat transportasi, di samping fungsi utamanya sebagai pengendali banjir," jelasnya.

    Ia menyatakan, rencana itu juga disusul normalisasi yang akan dilakukan di Jalan Perniagaan dan Jalan Abdul Muthalib. 

    "Rencananya begitu. Di samping Hotel JB sekarang sedang dilakukan identifikasi, semua perhitungan dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), kita tunggu saja hasilnya," ucap Andi Harun.

    Pria yang karib disapa AH itu menerangkan bahwa, normalisasi yang telah dilakukannya selama dua tahun ini sudah dapat dirasakan dampaknya. Oleh karenanya, AH ingin melanjutkan program pengendalian banjir lewat normalisasi sungai kembali. Sebab ia merasa belum cukup jika hanya lakukan normalisasi drainase. 

    "Kita harus memastikan bahwa daya tampung sungai, berikut kondisi sungai kita itu normal untuk menjadi tujuan akhir dari aliran air. Baik itu air limbah maupun air hujan, yang akan mengalir dari daerah darat ke sungai melalui drainase dan lain-lain," tuturnya.

    Meski begitu, AH juga tetap akan melakukan normalisasi drainase secara bertahap. Mengingat anggaran yang ada juga terbatas. Ia berharap setelah itu tidak ada lagi yang menghambat air untuk mengalir ke sungai.

    "Di saat yang bersamaan secara bertahap drainase kita normalkan. Kita bersihkan, dan berharap muara terakhir sungai itu memiliki daya tampung dan tidak ada gangguan untuk aliran air itu bisa sampai ke sungai," ungkapnya.

    AH meminta kerja sama dari masyarakat untuk kesuksesan program normalisasi ini, sehingga dapat berjalan dengan optimal tanpa memakan banyak waktu dan anggaran.

    "Jadi harapan saya kepada masyarakat selama kita berada di frekuensi yang sama, bahwa sungai itu sangat penting dalam hal pengendalian banjir dan sebagai sumber kehidupan ekonomi kita, maka kami minta dukungannya," harapnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wali Kota Samarinda Klaim Normalisasi Bantaran Sungai Punya Fungsi Ekonomi dan Sosial

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Februari 2024 pukul 14:46 WITA

    Bantaran Sungai Karang Mumus di sisi hotel JB, Jalan Agus Salim, Samarinda, Senin (5/2/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Selepas melakukan normalisasi di bantaran Sungai Karang Mumus di sisi Jalan Tarmidi, Wali Kota Samarinda, Andi Harun berencana akan melanjutkannya di sisi Hotel JB. 

    "Pemerintah ingin melakukan pengembalian fungsi sungai, tidak hanya soal fungsi ekonomi tapi juga fungsi sosial," tutur Andi Harun.

    Menurutnya, penataan bantaran sungai, di samping bisa mengembalikan fungsi sungai, airnya dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat Samarinda dan tempat tumbuh kembangnya biota sungai.

    "Tentu sumber kehidupan sungai itu misalnya bagi nelayan dan juga alat transportasi, di samping fungsi utamanya sebagai pengendali banjir," jelasnya.

    Ia menyatakan, rencana itu juga disusul normalisasi yang akan dilakukan di Jalan Perniagaan dan Jalan Abdul Muthalib. 

    "Rencananya begitu. Di samping Hotel JB sekarang sedang dilakukan identifikasi, semua perhitungan dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), kita tunggu saja hasilnya," ucap Andi Harun.

    Pria yang karib disapa AH itu menerangkan bahwa, normalisasi yang telah dilakukannya selama dua tahun ini sudah dapat dirasakan dampaknya. Oleh karenanya, AH ingin melanjutkan program pengendalian banjir lewat normalisasi sungai kembali. Sebab ia merasa belum cukup jika hanya lakukan normalisasi drainase. 

    "Kita harus memastikan bahwa daya tampung sungai, berikut kondisi sungai kita itu normal untuk menjadi tujuan akhir dari aliran air. Baik itu air limbah maupun air hujan, yang akan mengalir dari daerah darat ke sungai melalui drainase dan lain-lain," tuturnya.

    Meski begitu, AH juga tetap akan melakukan normalisasi drainase secara bertahap. Mengingat anggaran yang ada juga terbatas. Ia berharap setelah itu tidak ada lagi yang menghambat air untuk mengalir ke sungai.

    "Di saat yang bersamaan secara bertahap drainase kita normalkan. Kita bersihkan, dan berharap muara terakhir sungai itu memiliki daya tampung dan tidak ada gangguan untuk aliran air itu bisa sampai ke sungai," ungkapnya.

    AH meminta kerja sama dari masyarakat untuk kesuksesan program normalisasi ini, sehingga dapat berjalan dengan optimal tanpa memakan banyak waktu dan anggaran.

    "Jadi harapan saya kepada masyarakat selama kita berada di frekuensi yang sama, bahwa sungai itu sangat penting dalam hal pengendalian banjir dan sebagai sumber kehidupan ekonomi kita, maka kami minta dukungannya," harapnya.

    (Sf/Rs)