Seputar Kaltim

    Walau Sudah Bisa Olah jadi Nilai Ekonomi, TPST Karang Joang Masih Sisakan 20 Persen Residu Sampah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    24 Agustus 2026 pukul 10:20 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo saat berada di TPST Karang Joang. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, mampu mengelola sekitar 80 persen sampah yang masuk. Hanya 20 persen yang menjadi residu dan dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, TPST Karang Joang menerima sekitar lima ton sampah per hari. Sampah dipilah menjadi organik dan anorganik untuk kemudian diolah sesuai jenisnya.

    Sampah organik dicacah untuk bahan kompos dan pakan maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dipadatkan dan dijual. Material kayu yang masih bernilai ekonomi juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk sejumlah industri.

    “Jadi satu truk itu yang dibawa ke TPA 20 persen, yang 80 persen sudah terkelola dengan baik,” ucap Bagus kepada awak media, Senin (24/8/2026).

    Pemkot Balikpapan menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke TPA hingga 50 persen pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah berencana memperluas pengelolaan sampah berbasis TPST di sejumlah wilayah.

    Saat ini Balikpapan memiliki tiga TPST, yakni Karang Joang, Daksa, dan Graha Indah. Namun, belum seluruhnya beroperasi optimal.

    Pemkot berencana melengkapi peralatan TPST Graha Indah pada 2027 dengan anggaran sekitar Rp8 miliar hingga Rp10 miliar.

    “Selain itu, pemerintah menyiapkan lahan untuk pengembangan TPST di wilayah barat dan timur,” jelasnya.

    Hasil penjualan material sampah yang memiliki nilai ekonomi diharapkan dapat membantu membiayai operasional dan perawatan TPST serta upah pekerja, sehingga ketergantungan terhadap APBD dapat ditekan.

    “Kalau TPST ini bisa kami bangun di setiap kecamatan, insyaallah dua tahun lagi kami sudah bisa mengurangi lebih dari 50 persen,” ujar Bagus.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Walau Sudah Bisa Olah jadi Nilai Ekonomi, TPST Karang Joang Masih Sisakan 20 Persen Residu Sampah

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    24 Agustus 2026 pukul 10:20 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo saat berada di TPST Karang Joang. (Foto: maya sari/seputarfakta.com)

    Balikpapan – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, mampu mengelola sekitar 80 persen sampah yang masuk. Hanya 20 persen yang menjadi residu dan dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, TPST Karang Joang menerima sekitar lima ton sampah per hari. Sampah dipilah menjadi organik dan anorganik untuk kemudian diolah sesuai jenisnya.

    Sampah organik dicacah untuk bahan kompos dan pakan maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dipadatkan dan dijual. Material kayu yang masih bernilai ekonomi juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk sejumlah industri.

    “Jadi satu truk itu yang dibawa ke TPA 20 persen, yang 80 persen sudah terkelola dengan baik,” ucap Bagus kepada awak media, Senin (24/8/2026).

    Pemkot Balikpapan menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke TPA hingga 50 persen pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah berencana memperluas pengelolaan sampah berbasis TPST di sejumlah wilayah.

    Saat ini Balikpapan memiliki tiga TPST, yakni Karang Joang, Daksa, dan Graha Indah. Namun, belum seluruhnya beroperasi optimal.

    Pemkot berencana melengkapi peralatan TPST Graha Indah pada 2027 dengan anggaran sekitar Rp8 miliar hingga Rp10 miliar.

    “Selain itu, pemerintah menyiapkan lahan untuk pengembangan TPST di wilayah barat dan timur,” jelasnya.

    Hasil penjualan material sampah yang memiliki nilai ekonomi diharapkan dapat membantu membiayai operasional dan perawatan TPST serta upah pekerja, sehingga ketergantungan terhadap APBD dapat ditekan.

    “Kalau TPST ini bisa kami bangun di setiap kecamatan, insyaallah dua tahun lagi kami sudah bisa mengurangi lebih dari 50 persen,” ujar Bagus.

    (Sf/Rs)