Cari disini...
Seputar Kaltim
Pelaksanaan diskusi publik oleh Koran Kaltim dan Mahasiswa PKL UINSI Samarinda. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur (UNU Kaltim), Sari Mulyani menilai gaya komunikasi politik yang dilakukan oleh para pasangan calon (Paslon) memiliki karakter dan kekuatan masing-masing untuk menarik perhatian masyarakat.
Pola komunikasi yang sudah melekat kepada para Paslon, yakni jargon, juga memiliki dampak signifikan yang dapat memengaruhi pemilih. Paslon nomor urut satu Isran Noor-Hadi Mulyadi memiliki jargon “Pahamlah ikam?” Sedangkan nomor urut kosong dua, Rudy Mas’ud-Seno Aji memiliki jargon “Gratispol!”
“Jargon itu membuat memori di kepala kita, kedua jargon ini tidak hanya keluar dari mulut saja, namun ini memiliki kedekatan kepada masyarakat,” papar Sari Mulyani dalam Diskusi Publik dengan tema Gaya Komunikasi Politik Paslon Pilkada Kaltim di Kantor Koran Kaltim, Samarinda, Kamis (17/10/2024).
Dari kedua jargon tersebut, menurut Sari ada pola pendekatan tersendiri kepada masyarakat. Dimulai dari nomor urut satu, pahamlah ikam merupakan bahasa daerah yang sehari-hari sering diucapkan oleh masyarakat. Sehingga pola komunikasi yang disampaikan Isran saat kampanye menunjukkan kedekatannya kepada masyarakat.
“Penggunaan bahasa lokal itu merupakan kearifan lokal, yang mana memiliki kedekatan di masyarakat, dan jargon pahamlah ikam ini tentu memiliki kedekatan,” paparnya.
Apalagi melihat karakteristik masyarakat Kaltim lebih banyak yang menginginkan pemimpin yang berasal dari daerah atau yang sering disebut dengan putera daerah. Selain itu, tipikal pendekatan kearifan lokal dianggap lebih dekat dengan rakyat.
Namun, apakah pendekatan kearifan lokal itu menjadi pertimbangan pemilih secara utuh untuk memilih pemimpin? Menurut Sari dengan adanya jargon populis seperti yang dihadirkan oleh paslon kosong dua yakni gratispol, sudah menjadi pendekatan tersendiri. Menilik dari Pilpres yang baru berlalu, Presiden terpilih Prabowo Subianto pun menggunakan pola yang sama dengan memunculkan kata gratis.
“Lalu gratispol ini sangat populis, kampanyenya Rudy selalu mempertebal kondisi di masyarakat bahwa hal itu yang dibutuhkan masyarakat dalam memenuhi ekonomi, kita pasti seneng dengan gratis, contohnya beli 1 gratis 1,” jelasnya.
Pernyataan demikian dilanjutkan oleh Rusdianto sebagai praktisi media dalam diskusi ini. Ia menyampaikan bahwa komunikasi politik ini hanya digunakan sebagai alat transportasi bagi gagasan yang ingin disampaikan paslon dalam kontestasi lima tahunan ini.
Secara teori, kata Rusdi, gaya komunikasi politik yang populis, idealnya akan membuat masyarakat lebih mudah bersimpati, karena dilandaskan kepada pemberian jawaban atas masalah-masalah yang ada di masyarakat. Namun faktanya, masyarakat dalam hal ini pemilih, nyatanya tidak cuma melihat atau menjatuhkan pilihan hanya dari bagaimana gagasan itu disampaikan.
"Faktanya 58 persen pemilih di Pilpres 2024 lalu, lebih suka kepada kandidat yang bukan hanya populis, tapi juga menyentuh sisi pragmatismenya," ungkap Rusdi sapaan akrabnya.
Dampaknya, lanjut Rusdi, seringkali gagasan yang disampaikan juga hanya berkisar pada sesuatu yang belum tentu menyentuh permasalahan utama yang ada di masyarakat. Hal seperti ini, disebut tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula di Pilgub Kaltim. Untuk itu, edukasi kepada masyarakat agar menjadi pemilih yang cerdas, menjadi sebuah keniscayaan.
Untuk itu, Rusdi berharap mahasiswa sebagai agen perubahan mampu berperan menjadi pihak yang menjadi filter dan memberi edukasi kepada masyarakat paling tidak di level keluarga, agar pemimpin yang terpilih adalah yang bukan hanya terbaik, namun juga yang mampu menjawab masalah masyarakat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pelaksanaan diskusi publik oleh Koran Kaltim dan Mahasiswa PKL UINSI Samarinda. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur (UNU Kaltim), Sari Mulyani menilai gaya komunikasi politik yang dilakukan oleh para pasangan calon (Paslon) memiliki karakter dan kekuatan masing-masing untuk menarik perhatian masyarakat.
Pola komunikasi yang sudah melekat kepada para Paslon, yakni jargon, juga memiliki dampak signifikan yang dapat memengaruhi pemilih. Paslon nomor urut satu Isran Noor-Hadi Mulyadi memiliki jargon “Pahamlah ikam?” Sedangkan nomor urut kosong dua, Rudy Mas’ud-Seno Aji memiliki jargon “Gratispol!”
“Jargon itu membuat memori di kepala kita, kedua jargon ini tidak hanya keluar dari mulut saja, namun ini memiliki kedekatan kepada masyarakat,” papar Sari Mulyani dalam Diskusi Publik dengan tema Gaya Komunikasi Politik Paslon Pilkada Kaltim di Kantor Koran Kaltim, Samarinda, Kamis (17/10/2024).
Dari kedua jargon tersebut, menurut Sari ada pola pendekatan tersendiri kepada masyarakat. Dimulai dari nomor urut satu, pahamlah ikam merupakan bahasa daerah yang sehari-hari sering diucapkan oleh masyarakat. Sehingga pola komunikasi yang disampaikan Isran saat kampanye menunjukkan kedekatannya kepada masyarakat.
“Penggunaan bahasa lokal itu merupakan kearifan lokal, yang mana memiliki kedekatan di masyarakat, dan jargon pahamlah ikam ini tentu memiliki kedekatan,” paparnya.
Apalagi melihat karakteristik masyarakat Kaltim lebih banyak yang menginginkan pemimpin yang berasal dari daerah atau yang sering disebut dengan putera daerah. Selain itu, tipikal pendekatan kearifan lokal dianggap lebih dekat dengan rakyat.
Namun, apakah pendekatan kearifan lokal itu menjadi pertimbangan pemilih secara utuh untuk memilih pemimpin? Menurut Sari dengan adanya jargon populis seperti yang dihadirkan oleh paslon kosong dua yakni gratispol, sudah menjadi pendekatan tersendiri. Menilik dari Pilpres yang baru berlalu, Presiden terpilih Prabowo Subianto pun menggunakan pola yang sama dengan memunculkan kata gratis.
“Lalu gratispol ini sangat populis, kampanyenya Rudy selalu mempertebal kondisi di masyarakat bahwa hal itu yang dibutuhkan masyarakat dalam memenuhi ekonomi, kita pasti seneng dengan gratis, contohnya beli 1 gratis 1,” jelasnya.
Pernyataan demikian dilanjutkan oleh Rusdianto sebagai praktisi media dalam diskusi ini. Ia menyampaikan bahwa komunikasi politik ini hanya digunakan sebagai alat transportasi bagi gagasan yang ingin disampaikan paslon dalam kontestasi lima tahunan ini.
Secara teori, kata Rusdi, gaya komunikasi politik yang populis, idealnya akan membuat masyarakat lebih mudah bersimpati, karena dilandaskan kepada pemberian jawaban atas masalah-masalah yang ada di masyarakat. Namun faktanya, masyarakat dalam hal ini pemilih, nyatanya tidak cuma melihat atau menjatuhkan pilihan hanya dari bagaimana gagasan itu disampaikan.
"Faktanya 58 persen pemilih di Pilpres 2024 lalu, lebih suka kepada kandidat yang bukan hanya populis, tapi juga menyentuh sisi pragmatismenya," ungkap Rusdi sapaan akrabnya.
Dampaknya, lanjut Rusdi, seringkali gagasan yang disampaikan juga hanya berkisar pada sesuatu yang belum tentu menyentuh permasalahan utama yang ada di masyarakat. Hal seperti ini, disebut tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula di Pilgub Kaltim. Untuk itu, edukasi kepada masyarakat agar menjadi pemilih yang cerdas, menjadi sebuah keniscayaan.
Untuk itu, Rusdi berharap mahasiswa sebagai agen perubahan mampu berperan menjadi pihak yang menjadi filter dan memberi edukasi kepada masyarakat paling tidak di level keluarga, agar pemimpin yang terpilih adalah yang bukan hanya terbaik, namun juga yang mampu menjawab masalah masyarakat.
(Sf/Rs)