Seputar Kaltim

    Wakil Bupati Kutim Ajak Warga Kembangkan Aren, Sebut Potensi Capai Rp36 Juta per Bulan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    15 Juli 2026 pukul 14:55 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi melihat tanaman aren memiliki potensi ekonomi besar untuk dikembangkan masyarakat. Dari hasil studi banding pengelolaan aren di Medan, ia menyebut budidaya aren memiliki peluang pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kelapa sawit.

    Mahyunadi menyebut, dari 400 pohon aren dalam satu hektare, sekitar 100 pohon dapat dipanen setiap hari. Satu pohon mampu menghasilkan sekitar satu kilogram gula aren.

    "Kalau harga satu kilogram gula aren Rp30 ribu, maka potensinya bisa mencapai Rp1,2 juta per hari," ujar Mahyunadi.

    Dengan perhitungan tersebut, Mahyunadi menyebut pendapatan dari satu hektare tanaman aren dapat mencapai sekitar Rp36 juta per bulan. Angka itu, menurutnya, jauh lebih besar dibandingkan hasil perkebunan sawit yang diperkirakan hanya sekitar Rp5 juta per bulan dalam luasan yang sama.

    Meski memiliki potensi ekonomi besar, Mahyunadi menilai tantangan pengembangan aren bukan hanya pada proses tanam dan panen, tetapi juga bagaimana produk gula aren dapat memiliki pasar yang kuat dan diterima masyarakat.

    "Cuma masalahnya kita harus belajar bagaimana membuat gula aren ini laku dan diterima di masyarakat. Ini yang kami pelajari," katanya.

    Dalam proses studi banding tersebut, Mahyunadi juga mengetahui bibit aren asal Desa Kandolo, Kutim, menjadi salah satu bibit yang dinilai unggul. Menurutnya, bibit tersebut telah diteliti sejak 2012 oleh seorang peneliti di Medan selama kurang lebih 14 tahun.

    Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Kutim untuk tidak harus memulai seluruh proses dari awal, melainkan belajar dari pihak yang sudah berhasil mengembangkan komoditas tersebut.

    "Kita belajar dari orang yang sudah meneliti lama dan berhasil. Itu lebih baik daripada kita mengulang banyak proses jatuh bangun dalam penelitian," jelasnya.

    Mahyunadi pun mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang belum produktif untuk ditanami tanaman yang memiliki nilai ekonomi, termasuk aren dan tanaman buah-buahan.

    "Saya sampaikan kepada masyarakat Kutim agar lahan-lahan yang menganggur bisa kita tanami tanaman-tanaman kehutanan seperti buah-buahan atau tanaman aren supaya bisa bermanfaat bagi kita," pungkasnya.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Wakil Bupati Kutim Ajak Warga Kembangkan Aren, Sebut Potensi Capai Rp36 Juta per Bulan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    15 Juli 2026 pukul 14:55 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi melihat tanaman aren memiliki potensi ekonomi besar untuk dikembangkan masyarakat. Dari hasil studi banding pengelolaan aren di Medan, ia menyebut budidaya aren memiliki peluang pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kelapa sawit.

    Mahyunadi menyebut, dari 400 pohon aren dalam satu hektare, sekitar 100 pohon dapat dipanen setiap hari. Satu pohon mampu menghasilkan sekitar satu kilogram gula aren.

    "Kalau harga satu kilogram gula aren Rp30 ribu, maka potensinya bisa mencapai Rp1,2 juta per hari," ujar Mahyunadi.

    Dengan perhitungan tersebut, Mahyunadi menyebut pendapatan dari satu hektare tanaman aren dapat mencapai sekitar Rp36 juta per bulan. Angka itu, menurutnya, jauh lebih besar dibandingkan hasil perkebunan sawit yang diperkirakan hanya sekitar Rp5 juta per bulan dalam luasan yang sama.

    Meski memiliki potensi ekonomi besar, Mahyunadi menilai tantangan pengembangan aren bukan hanya pada proses tanam dan panen, tetapi juga bagaimana produk gula aren dapat memiliki pasar yang kuat dan diterima masyarakat.

    "Cuma masalahnya kita harus belajar bagaimana membuat gula aren ini laku dan diterima di masyarakat. Ini yang kami pelajari," katanya.

    Dalam proses studi banding tersebut, Mahyunadi juga mengetahui bibit aren asal Desa Kandolo, Kutim, menjadi salah satu bibit yang dinilai unggul. Menurutnya, bibit tersebut telah diteliti sejak 2012 oleh seorang peneliti di Medan selama kurang lebih 14 tahun.

    Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Kutim untuk tidak harus memulai seluruh proses dari awal, melainkan belajar dari pihak yang sudah berhasil mengembangkan komoditas tersebut.

    "Kita belajar dari orang yang sudah meneliti lama dan berhasil. Itu lebih baik daripada kita mengulang banyak proses jatuh bangun dalam penelitian," jelasnya.

    Mahyunadi pun mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang belum produktif untuk ditanami tanaman yang memiliki nilai ekonomi, termasuk aren dan tanaman buah-buahan.

    "Saya sampaikan kepada masyarakat Kutim agar lahan-lahan yang menganggur bisa kita tanami tanaman-tanaman kehutanan seperti buah-buahan atau tanaman aren supaya bisa bermanfaat bagi kita," pungkasnya.

    (Sf/RS)