Seputar Kaltim

    Wagub Seno Aji Minta Warga Waspada, Puncak Hujan dan Ancaman Banjir Rob Mengintai Kaltim Jelang Nataru

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 Desember 2025 pukul 20:54 WITA

    Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji ketika diwawancarai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Kalimantan Timur, khususnya para pelaku perjalanan dan warga di wilayah pesisir, untuk meningkatkan kewaspadaan. 

    Periode ini bertepatan dengan puncak musim hujan di beberapa zona musim (ZOM) di Kaltim, yang berpotensi memicu kejadian cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

    Peringatan serupa datang dari jajaran Pemerintah Provinsi. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, secara tegas memperingatkan masyarakat soal potensi banjir seiring dengan prediksi curah hujan tinggi di penghujung tahun 2025. 

    Seno Aji mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana banjir tersebut di bulan Desember ini.

    "Hari ini saya akan rapat bersama BPBD, membahas soal potensi curah hujan tinggi di bulan ini. Hasilnya nanti akan kami sampaikan," kata Seno Aji pada Selasa (02/12/2025).

    Seno mengingatkan potensi hujan lebat ini tentu akan berdampak pada sejumlah wilayah di Kaltim, terutama daerah yang sangat rawan banjir. 

    Ia juga meminta Pemerintah kabupaten/kota agar berkoordinasi secara intens untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi tersebut. 

    "Tetap waspada, sebelum terjadi curah hujan tinggi, paling tidak bisa mencari tempat yang lebih aman. Kita akan terus memberikan edukasi terhadap masyarakat perihal ini," ungkapnya.

    Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Bapak Kukuh Ribudiyanto, turut menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. 

    "Makin ke arah Desember tentu trennya adalah naik (curah hujan). Walaupun dari cuaca ekstrem ada beberapa waktu lalu terjadi cuaca ekstrem yang ujiannya menyebabkan terkenangnya beberapa wilayah di Balikpapan dan di Samarinda," ungkap Kukuh. 

    Ia menambahkan, peningkatan kejadian cuaca ekstrem juga telah terdata, seiring dengan kenaikan suhu rata-rata di Samarinda sebesar 1,5 derajat Celsius akibat perubahan lingkungan.

    Riza Arian Noor, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, turut memperingatkan.

    "Untuk transportasi udara, ya tentunya perlu waspada, karena kita kan berada di periode musim hujan. Apalagi di pengalaman kita di bulan Desember-Januari juga sering terjadi kejadian bencana, kejadian kecelakaan, dan lain-lain,” paparnya.

    Hal ini menjadi perhatian serius mengingat bulan Desember-Januari adalah puncak mobilitas masyarakat selama libur Nataru. Riza menyindir agar masyarakat tidak terlena dan tetap memantau informasi cuaca.

    Menurut prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter (mm), dengan peluang hujan lebih dari 70 persen pada 10 hari pertama Desember. 

    Namun, Kaltim bagian barat, khususnya sebagian wilayah Kabupaten Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Timur bagian barat, berpotensi diguyur hujan kategori tinggi 150–300 mm, dengan peluang hujan 50–70 persen.

    "Kami menyampaikan peringatan dini karena hujan dapat menyebabkan banjir, sungai meluap, jalan licin, tanah longsor, hingga kemungkinan pohon tumbang akibat angin kencang dan petir,” ucap Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor.

    Fokus kewaspadaan juga diarahkan pada wilayah pesisir. Riza menjelaskan bahwa di daerah pesisir, potensi bencana lebih kompleks karena tidak hanya dari curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut. 

    Potensi banjir rob akan semakin berbahaya jika pasang air laut tinggi saat bulan purnama ditambah dengan hujan lebat. Masyarakat di pesisir diminta untuk selalu memperhatikan informasi pasang surut dan potensi hujan lebat.

    Untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko, BMKG secara rutin menyampaikan prakiraan cuaca, bahkan untuk potensi ekstrem mendadak, informasi dapat diberikan tiga jam hingga satu jam ke depan. 

    Masyarakat diimbau untuk mengakses informasi ini melalui kanal resmi BMKG. 

    "Masyarakat saya kira harus tahu kondisi lingkungannya masing-masing, daerah potensi bencana atau tidak, itu yang perlu dipahami," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wagub Seno Aji Minta Warga Waspada, Puncak Hujan dan Ancaman Banjir Rob Mengintai Kaltim Jelang Nataru

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    02 Desember 2025 pukul 20:54 WITA

    Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji ketika diwawancarai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Kalimantan Timur, khususnya para pelaku perjalanan dan warga di wilayah pesisir, untuk meningkatkan kewaspadaan. 

    Periode ini bertepatan dengan puncak musim hujan di beberapa zona musim (ZOM) di Kaltim, yang berpotensi memicu kejadian cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

    Peringatan serupa datang dari jajaran Pemerintah Provinsi. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, secara tegas memperingatkan masyarakat soal potensi banjir seiring dengan prediksi curah hujan tinggi di penghujung tahun 2025. 

    Seno Aji mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana banjir tersebut di bulan Desember ini.

    "Hari ini saya akan rapat bersama BPBD, membahas soal potensi curah hujan tinggi di bulan ini. Hasilnya nanti akan kami sampaikan," kata Seno Aji pada Selasa (02/12/2025).

    Seno mengingatkan potensi hujan lebat ini tentu akan berdampak pada sejumlah wilayah di Kaltim, terutama daerah yang sangat rawan banjir. 

    Ia juga meminta Pemerintah kabupaten/kota agar berkoordinasi secara intens untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi tersebut. 

    "Tetap waspada, sebelum terjadi curah hujan tinggi, paling tidak bisa mencari tempat yang lebih aman. Kita akan terus memberikan edukasi terhadap masyarakat perihal ini," ungkapnya.

    Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan, Bapak Kukuh Ribudiyanto, turut menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. 

    "Makin ke arah Desember tentu trennya adalah naik (curah hujan). Walaupun dari cuaca ekstrem ada beberapa waktu lalu terjadi cuaca ekstrem yang ujiannya menyebabkan terkenangnya beberapa wilayah di Balikpapan dan di Samarinda," ungkap Kukuh. 

    Ia menambahkan, peningkatan kejadian cuaca ekstrem juga telah terdata, seiring dengan kenaikan suhu rata-rata di Samarinda sebesar 1,5 derajat Celsius akibat perubahan lingkungan.

    Riza Arian Noor, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, turut memperingatkan.

    "Untuk transportasi udara, ya tentunya perlu waspada, karena kita kan berada di periode musim hujan. Apalagi di pengalaman kita di bulan Desember-Januari juga sering terjadi kejadian bencana, kejadian kecelakaan, dan lain-lain,” paparnya.

    Hal ini menjadi perhatian serius mengingat bulan Desember-Januari adalah puncak mobilitas masyarakat selama libur Nataru. Riza menyindir agar masyarakat tidak terlena dan tetap memantau informasi cuaca.

    Menurut prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter (mm), dengan peluang hujan lebih dari 70 persen pada 10 hari pertama Desember. 

    Namun, Kaltim bagian barat, khususnya sebagian wilayah Kabupaten Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Timur bagian barat, berpotensi diguyur hujan kategori tinggi 150–300 mm, dengan peluang hujan 50–70 persen.

    "Kami menyampaikan peringatan dini karena hujan dapat menyebabkan banjir, sungai meluap, jalan licin, tanah longsor, hingga kemungkinan pohon tumbang akibat angin kencang dan petir,” ucap Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor.

    Fokus kewaspadaan juga diarahkan pada wilayah pesisir. Riza menjelaskan bahwa di daerah pesisir, potensi bencana lebih kompleks karena tidak hanya dari curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut. 

    Potensi banjir rob akan semakin berbahaya jika pasang air laut tinggi saat bulan purnama ditambah dengan hujan lebat. Masyarakat di pesisir diminta untuk selalu memperhatikan informasi pasang surut dan potensi hujan lebat.

    Untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko, BMKG secara rutin menyampaikan prakiraan cuaca, bahkan untuk potensi ekstrem mendadak, informasi dapat diberikan tiga jam hingga satu jam ke depan. 

    Masyarakat diimbau untuk mengakses informasi ini melalui kanal resmi BMKG. 

    "Masyarakat saya kira harus tahu kondisi lingkungannya masing-masing, daerah potensi bencana atau tidak, itu yang perlu dipahami," pungkasnya.

    (Sf/Rs)