Cari disini...
Seputar Kaltim
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menekankan pentingnya menjaga pusaka adat, spiritualitas, serta kehidupan sosial masyarakat Dayak agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, pelestarian pusaka adat tidak hanya berkaitan dengan benda budaya, tetapi juga nilai spiritual dan tatanan sosial masyarakat Dayak.
Ia menyebut rumah adat seperti rumah bentang dan lamin perlu terus digalakkan agar tidak tertinggal dan musnah. Keberadaan rumah adat tersebut dinilai sebagai bagian dari struktur kehidupan sosial masyarakat Dayak.
"Lamin-lamin dan rumah bentang tidak boleh musnah. Bahkan harus lebih baik lagi. Ini bagian dari identitas dan peradaban Dayak,” ujar Mahyunadi.
Ia menambahkan, kehidupan sosial masyarakat Dayak yang bersifat komunal masih sangat kuat dan menjadi keunikan tersendiri dibandingkan budaya lain.
“Kehidupan komunal ini sangat menarik dan tidak dimiliki oleh semua orang. Di desa-desa, termasuk yang sudah modern seperti di Dusun Mampang kehidupan komunal masih tertata dan tersusun dengan baik. Ini yang harus dijaga,” tambahnya.
Terkait seni dan budaya, ia mengingatkan agar masyarakat adat tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing yang dapat menggerus nilai-nilai lokal. Namun demikian, Mahyunadi optimistis budaya Dayak tetap kokoh hingga saat ini.
“Terbukti tarian Dayak tidak terpengaruh. Dulu ada Brick Dance dan lain-lain, tapi tetap yang paling indah adalah tarian Dayak. Meski banyak yang tenggelam oleh zaman, tarian Dayak tetap hebat dan terus hidup di mata kita,” tuturnya.
Mahyunadi juga menyebut simbol-simbol adat seperti mandau, pakaian adat, dan Burung Enggang sebagai bagian dari identitas masyarakat Dayak yang perlu dijaga keberadaannya.
"Simbol pusaka ini bukan sekadar ornamen, tetapi identitas dan kebanggaan,” tegasnya.
Ia juga mengatakan, masyarakat Kutim mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi tantangan zaman melalui proses pembelajaran dan penyesuaian sosial.
"Untuk lolos seleksi edukasi, kita harus belajar dengan baik. Tapi untuk lolos seleksi alam, perlu sedikit nekat. Saya yakin orang Kutim mampu melewati itu semua," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menekankan pentingnya menjaga pusaka adat, spiritualitas, serta kehidupan sosial masyarakat Dayak agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, pelestarian pusaka adat tidak hanya berkaitan dengan benda budaya, tetapi juga nilai spiritual dan tatanan sosial masyarakat Dayak.
Ia menyebut rumah adat seperti rumah bentang dan lamin perlu terus digalakkan agar tidak tertinggal dan musnah. Keberadaan rumah adat tersebut dinilai sebagai bagian dari struktur kehidupan sosial masyarakat Dayak.
"Lamin-lamin dan rumah bentang tidak boleh musnah. Bahkan harus lebih baik lagi. Ini bagian dari identitas dan peradaban Dayak,” ujar Mahyunadi.
Ia menambahkan, kehidupan sosial masyarakat Dayak yang bersifat komunal masih sangat kuat dan menjadi keunikan tersendiri dibandingkan budaya lain.
“Kehidupan komunal ini sangat menarik dan tidak dimiliki oleh semua orang. Di desa-desa, termasuk yang sudah modern seperti di Dusun Mampang kehidupan komunal masih tertata dan tersusun dengan baik. Ini yang harus dijaga,” tambahnya.
Terkait seni dan budaya, ia mengingatkan agar masyarakat adat tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing yang dapat menggerus nilai-nilai lokal. Namun demikian, Mahyunadi optimistis budaya Dayak tetap kokoh hingga saat ini.
“Terbukti tarian Dayak tidak terpengaruh. Dulu ada Brick Dance dan lain-lain, tapi tetap yang paling indah adalah tarian Dayak. Meski banyak yang tenggelam oleh zaman, tarian Dayak tetap hebat dan terus hidup di mata kita,” tuturnya.
Mahyunadi juga menyebut simbol-simbol adat seperti mandau, pakaian adat, dan Burung Enggang sebagai bagian dari identitas masyarakat Dayak yang perlu dijaga keberadaannya.
"Simbol pusaka ini bukan sekadar ornamen, tetapi identitas dan kebanggaan,” tegasnya.
Ia juga mengatakan, masyarakat Kutim mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi tantangan zaman melalui proses pembelajaran dan penyesuaian sosial.
"Untuk lolos seleksi edukasi, kita harus belajar dengan baik. Tapi untuk lolos seleksi alam, perlu sedikit nekat. Saya yakin orang Kutim mampu melewati itu semua," pungkasnya.
(Sf/Rs)