Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Sebut Imbauan Saja Tak Cukup, Identifikasi Kelompok Rentan jadi Kunci Cegah HIV

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 13:07 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menilai identifikasi terhadap kelompok rentan menjadi langkah awal yang perlu dilakukan dalam upaya mencegah penyebaran HIV. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif dibanding hanya mengandalkan imbauan kepada masyarakat.

    Ia mengatakan, penanganan persoalan tersebut tidak sederhana karena pemerintah harus tetap memperhatikan aturan yang berlaku. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa bersifat represif, melainkan mengedepankan pemahaman kepada masyarakat.

    "Ini yang saya bilang tadi susah. Kita hanya menghimbau. Kalau mereka tidak bisa hanya sekadar diimbau, tapi kita harus masuk ke dalam memberikan pemahaman. Maka itu otomatis kita perlu identifikasi," ujar Mahyunadi. 

    Ia menjelaskan, proses identifikasi membutuhkan tenaga relawan yang mampu berbaur dengan berbagai kelompok usia, mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua. Langkah itu menjadi bagian awal sebelum pemerintah melakukan pendekatan dan pembinaan.

    "Identifikasi inilah butuh tenaga-tenaga relawan kita yang mampu berbaur dalam kelompok-kelompok mereka. Ada dari beberapa kelompok usia, usia remaja, usia dewasa, dan usia orang tua yang harus kita masukkan," katanya.

    Setelah proses identifikasi selesai, kata Mahyunadi, pemerintah dapat melakukan pendekatan secara personal dan memberikan pemahaman kepada kelompok sasaran sebagai bagian dari upaya pencegahan HIV.

    "Kalau sudah kita identifikasi, itu baru bisa kita lakukan pendekatan, kemudian memberikan pemahaman kepada mereka agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bisa menjurus kepada sumber dari HIV ini," jelasnya.

    Ia menambahkan, upaya pencegahan juga perlu diperkuat di lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua merupakan pihak yang paling dekat dengan anak sehingga diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku sejak dini. Sementara itu, guru juga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan di lingkungan pendidikan.

    "Kita sebenarnya itu dilakukan identifikasi, nanti kita lakukan ke orang tuanya, karena orang tuanya yang paling dekat terhadap ini. Kadang-kadang orang tua tidak mengidentifikasi bagaimana perilaku anaknya," tambahnya.

    Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat koordinasi dengan pihak sekolah agar pengawasan dan pembinaan terhadap peserta didik dapat berjalan lebih optimal.

    "Kita perbaiki di sekolahan, kita juga lakukan pendekatan melalui guru, kemudian di orang tuanya juga kita sampaikan agar anaknya bisa diperhatikan," pungkasnya.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Sebut Imbauan Saja Tak Cukup, Identifikasi Kelompok Rentan jadi Kunci Cegah HIV

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 13:07 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menilai identifikasi terhadap kelompok rentan menjadi langkah awal yang perlu dilakukan dalam upaya mencegah penyebaran HIV. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif dibanding hanya mengandalkan imbauan kepada masyarakat.

    Ia mengatakan, penanganan persoalan tersebut tidak sederhana karena pemerintah harus tetap memperhatikan aturan yang berlaku. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa bersifat represif, melainkan mengedepankan pemahaman kepada masyarakat.

    "Ini yang saya bilang tadi susah. Kita hanya menghimbau. Kalau mereka tidak bisa hanya sekadar diimbau, tapi kita harus masuk ke dalam memberikan pemahaman. Maka itu otomatis kita perlu identifikasi," ujar Mahyunadi. 

    Ia menjelaskan, proses identifikasi membutuhkan tenaga relawan yang mampu berbaur dengan berbagai kelompok usia, mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua. Langkah itu menjadi bagian awal sebelum pemerintah melakukan pendekatan dan pembinaan.

    "Identifikasi inilah butuh tenaga-tenaga relawan kita yang mampu berbaur dalam kelompok-kelompok mereka. Ada dari beberapa kelompok usia, usia remaja, usia dewasa, dan usia orang tua yang harus kita masukkan," katanya.

    Setelah proses identifikasi selesai, kata Mahyunadi, pemerintah dapat melakukan pendekatan secara personal dan memberikan pemahaman kepada kelompok sasaran sebagai bagian dari upaya pencegahan HIV.

    "Kalau sudah kita identifikasi, itu baru bisa kita lakukan pendekatan, kemudian memberikan pemahaman kepada mereka agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bisa menjurus kepada sumber dari HIV ini," jelasnya.

    Ia menambahkan, upaya pencegahan juga perlu diperkuat di lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua merupakan pihak yang paling dekat dengan anak sehingga diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku sejak dini. Sementara itu, guru juga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan di lingkungan pendidikan.

    "Kita sebenarnya itu dilakukan identifikasi, nanti kita lakukan ke orang tuanya, karena orang tuanya yang paling dekat terhadap ini. Kadang-kadang orang tua tidak mengidentifikasi bagaimana perilaku anaknya," tambahnya.

    Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat koordinasi dengan pihak sekolah agar pengawasan dan pembinaan terhadap peserta didik dapat berjalan lebih optimal.

    "Kita perbaiki di sekolahan, kita juga lakukan pendekatan melalui guru, kemudian di orang tuanya juga kita sampaikan agar anaknya bisa diperhatikan," pungkasnya.

    (Sf/RS)