Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Kunjungi Peternakan Sapi di Malang, Cari Peluang Usaha Baru untuk Masyarakat

    Penulis:Lisda|Redaktur:RUSDIANTO
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi. (foto:Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Untuk mencari peluang usaha baru bagi masyarakat, Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, melakukan kunjungan kerja ke Kota Malang, Jawa Timur.

    Dalam kunjungan tersebut, ia mempelajari langsung berbagai model peternakan sapi yang dinilai berpotensi dijadikan usaha alternatif di Kutim.

    “Kita dapat ilmu yang sangat banyak di sana. Ternyata kalau orang terdesak, bisa jadi pintar dan kreatif,” ujar Mahyunadi.

    Ada tiga lokasi peternakan yang dikunjungi, masing-masing dengan pendekatan yang berbeda, yakni peternakan skala perusahaan, peternakan rumahan, dan bengkel ternak.

    Kunjungan pertama dilakukan ke PT Agrisatwa Fajar Utama Barokah. Di tempat ini, Mahyunadi menyampaikan bahwa sapi dibeli dengan harga sekitar Rp18 juta per ekor, lalu digemukkan selama 100 hari, sebelum akhirnya dijual dengan harga dua kali lipat.

    “Ilmunya itu dari pakan. Mereka pakai campuran dari 14 jenis konsentrat ditambah pakan hijau. Itu yang bikin sapi cepat gemuk,” jelasnya.

    Peternakan kedua yang dikunjungi adalah peternakan rumahan. Ia mencontohkan ada peternak yang memulai hanya dengan satu ekor sapi, kini berkembang menjadi puluhan. Anak sapi yang lahir bisa memiliki berat 50 kg, dan setelah dipelihara selama 3 tahun, beratnya bisa mencapai 800 kg.

    “Kalau dilihat dari hitungan, keuntungannya bisa sekitar Rp1,5 juta per bulan per ekor. Ini bisa jadi usaha alternatif untuk masyarakat yang punya modal kecil,” tambahnya.

    Tempat ketiga yang dikunjungi adalah bengkel ternak, yaitu usaha yang membeli sapi-sapi kurus yang tidak terawat dengan harga antara Rp7,8 juta hingga Rp10 juta. Setelah dirawat selama 6 bulan, sapi-sapi itu bisa dijual dengan harga hingga Rp30 juta.

    “Ini sangat menarik. Dari sapi yang kurus bisa jadi gemuk dan laku tinggi, kalau kita tidak melihat langsung ke sana, kita tidak akan tahu caranya. Tapi harus benar-benar dipelajari dulu, jangan asal coba,” jelasnya.

    Mahyunadi juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan bibit sapi yang unggul dan bisa diandalkan. Ia menyebutkan, salah satu penyebab kerugian peternak adalah membeli bibit dari luar yang ternyata tidak berkualitas.

    “Saya lihat, yang paling cocok untuk masyarakat kita adalah pelihara sapi dari umur satu tahun ke dua tahun. Tapi harus didukung dengan bibit yang jelas dan bagus,” tegasnya.

    Mahyunadi berencana membahas lebih lanjut soal ini dengan Kepala Dinas Peternakan Kutim. Ia berharap bisa membangun balai benih sapi di Kutim agar masyarakat punya akses ke bibit yang bagus.

    “Mudah-mudahan kita bisa wujudkan balai benih yang layak dan bermanfaat bagi masyarakat. Kalau benihnya bagus, hasilnya juga pasti bagus,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Kunjungi Peternakan Sapi di Malang, Cari Peluang Usaha Baru untuk Masyarakat

    Penulis:Lisda|Redaktur:RUSDIANTO
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi. (foto:Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Untuk mencari peluang usaha baru bagi masyarakat, Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, melakukan kunjungan kerja ke Kota Malang, Jawa Timur.

    Dalam kunjungan tersebut, ia mempelajari langsung berbagai model peternakan sapi yang dinilai berpotensi dijadikan usaha alternatif di Kutim.

    “Kita dapat ilmu yang sangat banyak di sana. Ternyata kalau orang terdesak, bisa jadi pintar dan kreatif,” ujar Mahyunadi.

    Ada tiga lokasi peternakan yang dikunjungi, masing-masing dengan pendekatan yang berbeda, yakni peternakan skala perusahaan, peternakan rumahan, dan bengkel ternak.

    Kunjungan pertama dilakukan ke PT Agrisatwa Fajar Utama Barokah. Di tempat ini, Mahyunadi menyampaikan bahwa sapi dibeli dengan harga sekitar Rp18 juta per ekor, lalu digemukkan selama 100 hari, sebelum akhirnya dijual dengan harga dua kali lipat.

    “Ilmunya itu dari pakan. Mereka pakai campuran dari 14 jenis konsentrat ditambah pakan hijau. Itu yang bikin sapi cepat gemuk,” jelasnya.

    Peternakan kedua yang dikunjungi adalah peternakan rumahan. Ia mencontohkan ada peternak yang memulai hanya dengan satu ekor sapi, kini berkembang menjadi puluhan. Anak sapi yang lahir bisa memiliki berat 50 kg, dan setelah dipelihara selama 3 tahun, beratnya bisa mencapai 800 kg.

    “Kalau dilihat dari hitungan, keuntungannya bisa sekitar Rp1,5 juta per bulan per ekor. Ini bisa jadi usaha alternatif untuk masyarakat yang punya modal kecil,” tambahnya.

    Tempat ketiga yang dikunjungi adalah bengkel ternak, yaitu usaha yang membeli sapi-sapi kurus yang tidak terawat dengan harga antara Rp7,8 juta hingga Rp10 juta. Setelah dirawat selama 6 bulan, sapi-sapi itu bisa dijual dengan harga hingga Rp30 juta.

    “Ini sangat menarik. Dari sapi yang kurus bisa jadi gemuk dan laku tinggi, kalau kita tidak melihat langsung ke sana, kita tidak akan tahu caranya. Tapi harus benar-benar dipelajari dulu, jangan asal coba,” jelasnya.

    Mahyunadi juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan bibit sapi yang unggul dan bisa diandalkan. Ia menyebutkan, salah satu penyebab kerugian peternak adalah membeli bibit dari luar yang ternyata tidak berkualitas.

    “Saya lihat, yang paling cocok untuk masyarakat kita adalah pelihara sapi dari umur satu tahun ke dua tahun. Tapi harus didukung dengan bibit yang jelas dan bagus,” tegasnya.

    Mahyunadi berencana membahas lebih lanjut soal ini dengan Kepala Dinas Peternakan Kutim. Ia berharap bisa membangun balai benih sapi di Kutim agar masyarakat punya akses ke bibit yang bagus.

    “Mudah-mudahan kita bisa wujudkan balai benih yang layak dan bermanfaat bagi masyarakat. Kalau benihnya bagus, hasilnya juga pasti bagus,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)