Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Ingatkan Lulusan Sarjana, Jangan Bergantung pada AI, Ciptakan Inovasi Sendiri

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi memberikan sambutan pada Rapat Terbuka Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara Sangatta dalam rangka Wisuda Sarjana ke-13 Tahun 2025. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi mengingatkan para lulusan perguruan tinggi agar menjadikan momentum wisuda sebagai awal perjalanan baru, bukan sekadar simbol keberhasilan akademik.

    Hal ini disampaikan pada Rapat Terbuka Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara Sangatta dalam rangka Wisuda Sarjana ke-13 Tahun 2025, Kamis (30/10/2025).

    Ia menilai dunia kerja saat ini menuntut ketangguhan, kemandirian, dan daya saing yang tinggi. Untuk itu, ia menekankan para lulusan untuk kreatif dan berinovasi di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

    “Kalau ingin maju, kita harus meningkatkan kreasi-kreasi kita. Jangan bergantung pada AI, tapi justru harus bisa menciptakan inovasi baru. Kalau bisa, kitalah yang membuat AI terbaru yang nantinya dipakai oleh orang lain. Kita harus seperti itu,” ujar Mahyunadi.

    Ia menjelaskan, hidup dapat dibagi dalam tiga fase berdasarkan rata-rata usia hidup manusia Indonesia, yaitu sekitar 76 tahun. 

    Menurutnya, usia 0–25 tahun merupakan masa belajar dan menikmati kehidupan bersama keluarga, usia 25–50 tahun adalah waktu bekerja dan membangun keluarga, sedangkan usia 50–75 tahun menjadi masa refleksi dan memperbanyak amal.

    “Jangan berpikir nanti baru mencari uang saat tua. Sekaranglah waktunya bekerja keras dan menyiapkan masa depan,” katanya.

    Mahyunadi juga mengingatkan bahwa selain pintar dan berprestasi, para lulusan perlu memiliki akhlak yang baik. 

    "Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh menjadi amal jariah, menjadi bekal untuk meniti masa depan dalam membangun Kutim yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing," Katanya.

    Di kesempatan yang sama, Anggota DPD RI, Aji Mirni Mawarni, menekankan bahwa gelar sarjana bukan sekadar titel, tetapi kesempatan meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan diri.

    “Bagi yang sudah bekerja, gelar sarjana membantu meningkatkan kualitas pekerjaan. Tidak hanya menginput data atau membuat laporan, tapi juga menganalisis pekerjaan. Gelar sarjana bukan hanya untuk jabatan atau kenaikan pangkat, tapi bukti kemampuan dan kualitas diri,” tutup Mawarni.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Wabup Kutim Ingatkan Lulusan Sarjana, Jangan Bergantung pada AI, Ciptakan Inovasi Sendiri

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi memberikan sambutan pada Rapat Terbuka Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara Sangatta dalam rangka Wisuda Sarjana ke-13 Tahun 2025. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi mengingatkan para lulusan perguruan tinggi agar menjadikan momentum wisuda sebagai awal perjalanan baru, bukan sekadar simbol keberhasilan akademik.

    Hal ini disampaikan pada Rapat Terbuka Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara Sangatta dalam rangka Wisuda Sarjana ke-13 Tahun 2025, Kamis (30/10/2025).

    Ia menilai dunia kerja saat ini menuntut ketangguhan, kemandirian, dan daya saing yang tinggi. Untuk itu, ia menekankan para lulusan untuk kreatif dan berinovasi di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

    “Kalau ingin maju, kita harus meningkatkan kreasi-kreasi kita. Jangan bergantung pada AI, tapi justru harus bisa menciptakan inovasi baru. Kalau bisa, kitalah yang membuat AI terbaru yang nantinya dipakai oleh orang lain. Kita harus seperti itu,” ujar Mahyunadi.

    Ia menjelaskan, hidup dapat dibagi dalam tiga fase berdasarkan rata-rata usia hidup manusia Indonesia, yaitu sekitar 76 tahun. 

    Menurutnya, usia 0–25 tahun merupakan masa belajar dan menikmati kehidupan bersama keluarga, usia 25–50 tahun adalah waktu bekerja dan membangun keluarga, sedangkan usia 50–75 tahun menjadi masa refleksi dan memperbanyak amal.

    “Jangan berpikir nanti baru mencari uang saat tua. Sekaranglah waktunya bekerja keras dan menyiapkan masa depan,” katanya.

    Mahyunadi juga mengingatkan bahwa selain pintar dan berprestasi, para lulusan perlu memiliki akhlak yang baik. 

    "Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh menjadi amal jariah, menjadi bekal untuk meniti masa depan dalam membangun Kutim yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing," Katanya.

    Di kesempatan yang sama, Anggota DPD RI, Aji Mirni Mawarni, menekankan bahwa gelar sarjana bukan sekadar titel, tetapi kesempatan meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan diri.

    “Bagi yang sudah bekerja, gelar sarjana membantu meningkatkan kualitas pekerjaan. Tidak hanya menginput data atau membuat laporan, tapi juga menganalisis pekerjaan. Gelar sarjana bukan hanya untuk jabatan atau kenaikan pangkat, tapi bukti kemampuan dan kualitas diri,” tutup Mawarni.

    (Sf/Rs)