Cari disini...
Seputar Kaltim
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, dr. Nathaniel Tandirogang. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Ramainya perbincangan di media sosial terkait komentar seorang dokter Unit Gawat Darurat (UGD) di Samarinda yang dinilai tidak pantas, turut menyita perhatian Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (FK Unmul).
Pasalnya, dokter yang kini diistirahatkan sementara oleh RSUD I.A. Moeis tersebut diketahui merupakan alumni dari institusi pendidikan kedokteran itu.
Menanggapi polemik tersebut, Dekan FK Unmul, dr. Nathaniel Tandirogang, langsung mengambil langkah proaktif dengan menghubungi yang bersangkutan secara pribadi.
Pemanggilan via telepon itu dilakukan untuk menelusuri duduk perkara sekaligus memberikan teguran terkait etika profesi.
"Karena di media disebutkan bahwa yang bersangkutan adalah alumni Fakultas Kedokteran Unmul, saya mempunyai kepentingan untuk mencari tahu peristiwanya. Saya sudah menelepon langsung sebagai bentuk kepedulian selaku Dekan," ujar dr. Nathaniel ditemui du Samarinda, Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan komunikasi tersebut, dr. Nathaniel meluruskan bahwa insiden ini sama sekali tidak berkaitan dengan pasien RSUD I.A. Moeis maupun RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS).
Peristiwa bermula dari sebuah unggahan umum di media sosial mengenai keluhan anonim dari seorang pasien yang merasa tidak mendapatkan pelayanan prima di UGD karena menggunakan BPJS Kesehatan.
Merespons keluhan tersebut, sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di media sosial merasa kurang terima. Realitas di UGD yang menuntut tenaga ekstra dan penanganan kedaruratan yang cepat tanpa memandang kelas perawatan baik BPJS, umum, maupun VIP membuat para nakes bereaksi.
Namun nahas, dokter bersangkutan ikut menimpali perdebatan dengan kondisi emosional yang lepas kontrol.
"Karena nakes merasa kinerjanya tidak dihargai, mereka berkomentar. Biasalah, kadang-kadang kita emosi lepas kontrol. Sehingga anak ini (sang dokter) nimbrung menyampaikan kalimat yang ungkapan ketidakpuasannya terkesan tidak menunjukkan empati kepada pasien," jelasnya.
Meski memahami tekanan dan beban kerja dokter di UGD yang luar biasa, dr. Nathaniel menegaskan bahwa empati adalah harga mati.
Ia mengingatkan bahwa status sebagai seorang dokter melekat tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang komunikasi digital.
"Saya sampaikan kepadanya, saya tidak melihat dari sisi proses kronologinya, tapi saya menilai bahwa Anda tidak menunjukkan empati. Jangankan kepada pasien, kepada orang biasa saja kita harus menunjukkan empati. Dia harus hati-hati dalam memberikan setiap komentar," tegasnya.
Peristiwa ini juga menjadi catatan penting bagi FK Unmul. Ke depan, dr. Nathaniel memastikan pihaknya akan menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat materi pendidikan empati bagi calon-calon dokter pada berbagai situasi, termasuk dalam menghadapi dinamika media sosial.
Di akhir penyampaiannya, dr. Nathaniel berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi sang dokter dan meminta warganet untuk memberikan ruang agar yang bersangkutan bisa berbenah.
"Masyarakat telah menghakimi, dan saya kira ini pembelajaran yang sangat bagus bagi yang bersangkutan. Saya hanya berharap netizen tidak menghakimi terlalu jauh karena setiap orang punya kekhilafan. Mudah-mudahan pengalaman ini menjadikannya dokter yang lebih baik," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, dr. Nathaniel Tandirogang. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Ramainya perbincangan di media sosial terkait komentar seorang dokter Unit Gawat Darurat (UGD) di Samarinda yang dinilai tidak pantas, turut menyita perhatian Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (FK Unmul).
Pasalnya, dokter yang kini diistirahatkan sementara oleh RSUD I.A. Moeis tersebut diketahui merupakan alumni dari institusi pendidikan kedokteran itu.
Menanggapi polemik tersebut, Dekan FK Unmul, dr. Nathaniel Tandirogang, langsung mengambil langkah proaktif dengan menghubungi yang bersangkutan secara pribadi.
Pemanggilan via telepon itu dilakukan untuk menelusuri duduk perkara sekaligus memberikan teguran terkait etika profesi.
"Karena di media disebutkan bahwa yang bersangkutan adalah alumni Fakultas Kedokteran Unmul, saya mempunyai kepentingan untuk mencari tahu peristiwanya. Saya sudah menelepon langsung sebagai bentuk kepedulian selaku Dekan," ujar dr. Nathaniel ditemui du Samarinda, Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan komunikasi tersebut, dr. Nathaniel meluruskan bahwa insiden ini sama sekali tidak berkaitan dengan pasien RSUD I.A. Moeis maupun RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS).
Peristiwa bermula dari sebuah unggahan umum di media sosial mengenai keluhan anonim dari seorang pasien yang merasa tidak mendapatkan pelayanan prima di UGD karena menggunakan BPJS Kesehatan.
Merespons keluhan tersebut, sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di media sosial merasa kurang terima. Realitas di UGD yang menuntut tenaga ekstra dan penanganan kedaruratan yang cepat tanpa memandang kelas perawatan baik BPJS, umum, maupun VIP membuat para nakes bereaksi.
Namun nahas, dokter bersangkutan ikut menimpali perdebatan dengan kondisi emosional yang lepas kontrol.
"Karena nakes merasa kinerjanya tidak dihargai, mereka berkomentar. Biasalah, kadang-kadang kita emosi lepas kontrol. Sehingga anak ini (sang dokter) nimbrung menyampaikan kalimat yang ungkapan ketidakpuasannya terkesan tidak menunjukkan empati kepada pasien," jelasnya.
Meski memahami tekanan dan beban kerja dokter di UGD yang luar biasa, dr. Nathaniel menegaskan bahwa empati adalah harga mati.
Ia mengingatkan bahwa status sebagai seorang dokter melekat tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang komunikasi digital.
"Saya sampaikan kepadanya, saya tidak melihat dari sisi proses kronologinya, tapi saya menilai bahwa Anda tidak menunjukkan empati. Jangankan kepada pasien, kepada orang biasa saja kita harus menunjukkan empati. Dia harus hati-hati dalam memberikan setiap komentar," tegasnya.
Peristiwa ini juga menjadi catatan penting bagi FK Unmul. Ke depan, dr. Nathaniel memastikan pihaknya akan menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat materi pendidikan empati bagi calon-calon dokter pada berbagai situasi, termasuk dalam menghadapi dinamika media sosial.
Di akhir penyampaiannya, dr. Nathaniel berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi sang dokter dan meminta warganet untuk memberikan ruang agar yang bersangkutan bisa berbenah.
"Masyarakat telah menghakimi, dan saya kira ini pembelajaran yang sangat bagus bagi yang bersangkutan. Saya hanya berharap netizen tidak menghakimi terlalu jauh karena setiap orang punya kekhilafan. Mudah-mudahan pengalaman ini menjadikannya dokter yang lebih baik," pungkasnya.
(Sf/Rs)