Cari disini...
Seputar Kaltim
Vibrasik digelar oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman. (Foto: Maulana/seputarfkata.com)
Samarinda - Sebuah gig alias pertunjukan musik skala kecil berhasil dihidupkan di lingkungan kampus melalui event Vibrasik 2025 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman.
Acara musik yang sukses menarik hampir ratusan penonton ini ternyata berawal dari sebuah tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah, namun berakhir sebagai panggung serius untuk para musisi lokal.
Muhammad Zul Haidir Daffari, Ketua Panitia Vibrasik, menjelaskan bahwa ide utama acara ini adalah mengadaptasi konsep konser gigs yang biasa digelar di kafe.
"Kami mengadaptasi ini dengan memanfaatkan ruang kampus untuk mengadakan konser serupa. Kurang lebihnya, masih bisa dibilang konser gigs sih," ungkap Daffa.
Berbeda dengan acara kampus pada umumnya, Vibrasik menunjukkan komitmen tinggi pada peningkatan kualitas seni lokal. Seluruh pengisi acara (talent) yang tampil adalah musisi dari Kalimantan Timur.
Bahkan, panitia berhasil mengundang dua nama besar yang sudah malang melintang sebagai opener artis nasional, yang juga jagoan indie Kalimantan Timur, yakni Davy Jones dan See Star Someday.
"Kami membawakan dua opener dari konser Hindia kemarin. Tujuannya adalah meningkatkan ruang untuk seniman-seniman kita yang sekarang banyak berkarya tapi gak ada ruangnya," tegas Zul.
Zul menjelaskan secara terbuka bahwa Vibrasik adalah bagian dari tugas UAS mata kuliah Pengorganisasian dan Perencanaan Event bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5.
"Kepanitiaannya dibentuk untuk satu kelas dan memang goals-nya untuk menyelesaikan tugas UAS yang kami laksanakan hari ini," katanya.
Menariknya, acara ini merupakan event kedua dari mata kuliah tersebut. Kelas A sebelumnya telah sukses menggelar event bernama Artopia, sementara kelas B menggelar Vibrasik.
Lebih dari sekadar tugas, pelaksanaan Vibrasik memiliki landasan tujuan yang kuat, yaitu berpatok pada SDGs (Sustainable Development Goals).
"Goals dari mata kuliah kami adalah meningkatkan ekonomi lokal dan meningkatkan ruang untuk seniman-seniman kita," jelas Zul.
Dengan menggabungkan kata Vibrasi (kata umum di musik) dan Asik, Vibrasik diharapkan dapat menjadi ruang yang menyenangkan bagi semua orang, sekaligus menggerakkan roda ekonomi melalui keterlibatan tenant dan seniman daerah.
Secara total, acara ini berhasil menarik sekitar 180-an pengunjung melalui penjualan tiket online dan On The Spot (OTS).
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Vibrasik digelar oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman. (Foto: Maulana/seputarfkata.com)
Samarinda - Sebuah gig alias pertunjukan musik skala kecil berhasil dihidupkan di lingkungan kampus melalui event Vibrasik 2025 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman.
Acara musik yang sukses menarik hampir ratusan penonton ini ternyata berawal dari sebuah tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah, namun berakhir sebagai panggung serius untuk para musisi lokal.
Muhammad Zul Haidir Daffari, Ketua Panitia Vibrasik, menjelaskan bahwa ide utama acara ini adalah mengadaptasi konsep konser gigs yang biasa digelar di kafe.
"Kami mengadaptasi ini dengan memanfaatkan ruang kampus untuk mengadakan konser serupa. Kurang lebihnya, masih bisa dibilang konser gigs sih," ungkap Daffa.
Berbeda dengan acara kampus pada umumnya, Vibrasik menunjukkan komitmen tinggi pada peningkatan kualitas seni lokal. Seluruh pengisi acara (talent) yang tampil adalah musisi dari Kalimantan Timur.
Bahkan, panitia berhasil mengundang dua nama besar yang sudah malang melintang sebagai opener artis nasional, yang juga jagoan indie Kalimantan Timur, yakni Davy Jones dan See Star Someday.
"Kami membawakan dua opener dari konser Hindia kemarin. Tujuannya adalah meningkatkan ruang untuk seniman-seniman kita yang sekarang banyak berkarya tapi gak ada ruangnya," tegas Zul.
Zul menjelaskan secara terbuka bahwa Vibrasik adalah bagian dari tugas UAS mata kuliah Pengorganisasian dan Perencanaan Event bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 5.
"Kepanitiaannya dibentuk untuk satu kelas dan memang goals-nya untuk menyelesaikan tugas UAS yang kami laksanakan hari ini," katanya.
Menariknya, acara ini merupakan event kedua dari mata kuliah tersebut. Kelas A sebelumnya telah sukses menggelar event bernama Artopia, sementara kelas B menggelar Vibrasik.
Lebih dari sekadar tugas, pelaksanaan Vibrasik memiliki landasan tujuan yang kuat, yaitu berpatok pada SDGs (Sustainable Development Goals).
"Goals dari mata kuliah kami adalah meningkatkan ekonomi lokal dan meningkatkan ruang untuk seniman-seniman kita," jelas Zul.
Dengan menggabungkan kata Vibrasi (kata umum di musik) dan Asik, Vibrasik diharapkan dapat menjadi ruang yang menyenangkan bagi semua orang, sekaligus menggerakkan roda ekonomi melalui keterlibatan tenant dan seniman daerah.
Secara total, acara ini berhasil menarik sekitar 180-an pengunjung melalui penjualan tiket online dan On The Spot (OTS).
(Sf/Rs)