Seputar Kaltim

    Usung Konsep Dagang di Mekah, Kadisdag Samarinda Imbau Sediakan Tempat Ibadah di Pusat Perbelanjaan 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    23 Januari 2024 pukul 18:53 WITA

    Musala Yang Ada di Pasar Merdeka Kota Samarinda. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Di tengah gencarnya pelaksanaan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Marnabas Patiroy, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) imbau kepada para pemilik kepentingan agar dapat memberikan ruang ibadah yang layak dan nyaman di setiap pusat perbelanjaan yang ada di Samarinda. Ia bercita-cita agar aktivitas perdagangan yang ada di Samarinda ini bisa menerapkan konsep dagang seperti di Kota Mekkah, Arab Saudi. 

    “Saya pikir punya mimpi seperti di Mekah, di mana ketika azan berkumandang aktivitas dagang itu berhenti,” kata Marnabas,  kepada Seputar Fakta.

    Ia menuturkan, tidak menutup kemungkinan ada pedagang atau pengunjung yang ingin beribadah. Karena tak semua pedagang dan pengunjung non muslim. Marnabas mengingatkan, bahwa hubungan antara sesama makhluk Tuhan dan hubungan kita kepada Tuhan haruslah seimbang. “Makanya setiap pasar saya usahakan ada temppat ibadahnya. Segiri Grosir aja saya bangun musala baru, di lantai dua meskipun di lantai satu juga ada,” ucapnya.

    Marnabas menyarankan, tempat ibadah juga seharusnya dibangun di pasar-pasar modern, seperti mal, market atau swalayan. Tentunya pembangunan tempat ibadah di setiap pusat perbelanjaan juga akan menambah nilai dalam fasilitas yang tersedia. Secara tidak langsung, akan berpengaruh kepada jumlah pengunjung yang berdampak pada omzet penjualan. 

    Sebagai contoh ada pada Bebaya Mart yang berlokasi di Jalan Antasari. Dari penjelasan Marnabas, pembangunan Bebaya Mart ini sebagai upaya dalam menjaga kestabilan ekonomi yang ada di masyarakat. “Kita akan bersaing dengan pasar-pasar modern seperti indomart dan eramart,” ujarnya.

    Ia ingin, dana yang diterima oleh setiap RT dari Program dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) dengan angka yang tak sedikit itu dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin. “Pembagiannya kan 60 persen untuk pembangunan, 40 persennya untuk ekonomi, kenapa ekonominya tidak digunakan untuk meningkatkan itu, kalau perlu di setiap RT dibangun,” usulnya. 

    Hanya saja dalam pembangunan itu Marnabas dengan tegas menyampaikan, jangan sampai mematikan usaha mikro masyarakat yang ada di sekitar. Yang menjadi sasarannya ialah tempat yang memang belum terdapat pusat perbelanjaan kecil atau usaha-usaha mikro yang dijalankan. 

    Mendukung upaya peningkatan usaha mikro masyarakat, Marnabas telah berkoordinasi dengan beberapa swalayan atau mini market untuk dapat menerima produk dari masyarakat seperti amplang dan keripik minimal lima produk di setiap tempatnya. Ia ingin masyarakat Samarinda menjadi masyarakat madani, yang paham akan hak dan kewajibannya, begitu juga dengan pemerintah yang turut menjalankan hak dan kewajibannya agar seimbang. “Saya sudah kumpulkan indomart dan pasar-pasar, wajib minimal lima produk yang harus mereka terima. Tapi dengan catatan harus berdasarkan aturan yang ada. Karena mereka juga berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Usung Konsep Dagang di Mekah, Kadisdag Samarinda Imbau Sediakan Tempat Ibadah di Pusat Perbelanjaan 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    23 Januari 2024 pukul 18:53 WITA

    Musala Yang Ada di Pasar Merdeka Kota Samarinda. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Di tengah gencarnya pelaksanaan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Marnabas Patiroy, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) imbau kepada para pemilik kepentingan agar dapat memberikan ruang ibadah yang layak dan nyaman di setiap pusat perbelanjaan yang ada di Samarinda. Ia bercita-cita agar aktivitas perdagangan yang ada di Samarinda ini bisa menerapkan konsep dagang seperti di Kota Mekkah, Arab Saudi. 

    “Saya pikir punya mimpi seperti di Mekah, di mana ketika azan berkumandang aktivitas dagang itu berhenti,” kata Marnabas,  kepada Seputar Fakta.

    Ia menuturkan, tidak menutup kemungkinan ada pedagang atau pengunjung yang ingin beribadah. Karena tak semua pedagang dan pengunjung non muslim. Marnabas mengingatkan, bahwa hubungan antara sesama makhluk Tuhan dan hubungan kita kepada Tuhan haruslah seimbang. “Makanya setiap pasar saya usahakan ada temppat ibadahnya. Segiri Grosir aja saya bangun musala baru, di lantai dua meskipun di lantai satu juga ada,” ucapnya.

    Marnabas menyarankan, tempat ibadah juga seharusnya dibangun di pasar-pasar modern, seperti mal, market atau swalayan. Tentunya pembangunan tempat ibadah di setiap pusat perbelanjaan juga akan menambah nilai dalam fasilitas yang tersedia. Secara tidak langsung, akan berpengaruh kepada jumlah pengunjung yang berdampak pada omzet penjualan. 

    Sebagai contoh ada pada Bebaya Mart yang berlokasi di Jalan Antasari. Dari penjelasan Marnabas, pembangunan Bebaya Mart ini sebagai upaya dalam menjaga kestabilan ekonomi yang ada di masyarakat. “Kita akan bersaing dengan pasar-pasar modern seperti indomart dan eramart,” ujarnya.

    Ia ingin, dana yang diterima oleh setiap RT dari Program dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) dengan angka yang tak sedikit itu dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin. “Pembagiannya kan 60 persen untuk pembangunan, 40 persennya untuk ekonomi, kenapa ekonominya tidak digunakan untuk meningkatkan itu, kalau perlu di setiap RT dibangun,” usulnya. 

    Hanya saja dalam pembangunan itu Marnabas dengan tegas menyampaikan, jangan sampai mematikan usaha mikro masyarakat yang ada di sekitar. Yang menjadi sasarannya ialah tempat yang memang belum terdapat pusat perbelanjaan kecil atau usaha-usaha mikro yang dijalankan. 

    Mendukung upaya peningkatan usaha mikro masyarakat, Marnabas telah berkoordinasi dengan beberapa swalayan atau mini market untuk dapat menerima produk dari masyarakat seperti amplang dan keripik minimal lima produk di setiap tempatnya. Ia ingin masyarakat Samarinda menjadi masyarakat madani, yang paham akan hak dan kewajibannya, begitu juga dengan pemerintah yang turut menjalankan hak dan kewajibannya agar seimbang. “Saya sudah kumpulkan indomart dan pasar-pasar, wajib minimal lima produk yang harus mereka terima. Tapi dengan catatan harus berdasarkan aturan yang ada. Karena mereka juga berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)