Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala BPS PPU, Suko Haryono. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali mengalami inflasi pada Juni 2026 setelah sempat mencatat deflasi pada bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month to month) mencapai 0,39 persen, dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyumbang terbesar.
Kepala BPS PPU Suko Haryono mengatakan, bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen, tertinggi dibanding komoditas lainnya pada Juni.
"Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulan Juni adalah bensin. Setelah itu bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan bahan bakar rumah tangga," terangnya, Kamis (9/7/2026).
Selain lima komoditas tersebut, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga jagung manis, beras, cabai merah, bawang putih, dan ikan layang.
Suko menjelaskan, kondisi itu berbalik dibanding Mei 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,06 persen. Sebelumnya, inflasi bulanan PPU tercatat 1,90 persen pada Maret dan melambat menjadi 0,33 persen pada April.
Secara tahunan (year on year), inflasi PPU pada Juni 2026 tercatat 2,96 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,49 persen.
Dalam perhitungan tahunan, bensin juga masuk tiga besar komoditas pendorong inflasi setelah emas perhiasan dan ikan layang. Emas perhiasan memberi andil 0,33 persen, ikan layang 0,23 persen, sedangkan bensin 0,21 persen.
Menurut Suko, pergerakan harga BBM tahun ini tidak lepas dari dinamika global yang memengaruhi pasokan energi. Dampaknya kemudian merambat ke berbagai sektor.
"Yang terpenting bagi PPU adalah menjaga ketersediaan pasokan agar dampaknya terhadap harga barang bisa ditekan," katanya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala BPS PPU, Suko Haryono. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali mengalami inflasi pada Juni 2026 setelah sempat mencatat deflasi pada bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month to month) mencapai 0,39 persen, dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyumbang terbesar.
Kepala BPS PPU Suko Haryono mengatakan, bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen, tertinggi dibanding komoditas lainnya pada Juni.
"Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulan Juni adalah bensin. Setelah itu bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan bahan bakar rumah tangga," terangnya, Kamis (9/7/2026).
Selain lima komoditas tersebut, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga jagung manis, beras, cabai merah, bawang putih, dan ikan layang.
Suko menjelaskan, kondisi itu berbalik dibanding Mei 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,06 persen. Sebelumnya, inflasi bulanan PPU tercatat 1,90 persen pada Maret dan melambat menjadi 0,33 persen pada April.
Secara tahunan (year on year), inflasi PPU pada Juni 2026 tercatat 2,96 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,49 persen.
Dalam perhitungan tahunan, bensin juga masuk tiga besar komoditas pendorong inflasi setelah emas perhiasan dan ikan layang. Emas perhiasan memberi andil 0,33 persen, ikan layang 0,23 persen, sedangkan bensin 0,21 persen.
Menurut Suko, pergerakan harga BBM tahun ini tidak lepas dari dinamika global yang memengaruhi pasokan energi. Dampaknya kemudian merambat ke berbagai sektor.
"Yang terpenting bagi PPU adalah menjaga ketersediaan pasokan agar dampaknya terhadap harga barang bisa ditekan," katanya.
(Sf/Rs)