Cari disini...
Seputar Kaltim
Beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Kota Samarinda. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah berencana berdayakan ketersediaan beras dari petani lokal sebagai sumber Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda Diah Hurisdiana menyampaikan, akan lakukan kerja sama dengan Bulog untuk memasok beras dari petani. Selama ini Bulog mengambil pasokan beras dari luar negeri seperti Thailand.
“Untuk CPP ini dari Thailand termasuk yang sedang berjalan ini,” jelas Diah kepada Seputar Fakta, Selasa (30/1/2024).
Diah menjelaskan, beberapa daerah yang akan dibeli hasil panennya ialah Kecamatan Sambutan, Makroman, Sindang Sari, Bantuas, dan Lempake. Dari wilayah itu pemerintah akan menampung beras yang dihasilkan oleh petani.
Sistematikanya Diah menjelaskan, pemerintah akan memberi harga sesuai dengan harga pasar dari petani. “Kalau ada kenaikan umpamanya harga dri bulog itu Rp9.950, tapi kalau dari pasaran petani jual itu sekitar Rp11.500. Jadi antara pembelian dengan harga itu ada selisih, nah selisihnya itu pemkot (Pemerintah Kota) yang subsidi,” paparnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ketersediaan beras di kota ini per minggu sebanyak 3.360 ton meurut data Januari 2024. Sedangkan untuk kebutuhan sendiri sebanyak 1.139 ton per minggunya. Jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, Diah mengatakan ada jumlah peningkatan karena bertambahnya jumlah penduduk.
Dari penuturannya selama ini, Samarinda hanya bisa memenuhi kebutuhan berasnya secara mandiri sekitar seperlima dari jumlah kebutuhan. Sedangkan petani hanya bisa menghasilkan beras sekali panen sekitar empat sampai enam ton.
Selama ini Samarinda menerima sokongan beras dari derah Sulawesi dan Jawa Timur. “Karena kita kan kota dan lahan pertanian kita cuma ada 1.250 hektare. Sekitar hampir 50 persen dari Sulawesi. Karena pasar-pasar itu juga kan mereka impor dari sana,” ujarnya.
Rencana itu diprediksi akan berjalan pada tahun 2024. Saat ini pihaknya sedang melakukan perencanaan, dengan mengidentifikasi jumlah petani dan berapa produksi yang bisa dihasilkan dalam sekali panen. “Jadi ini kan April kalau tidak ada halangan mereka panen. Habis lebaran itu panen nanti dikumpulkan, insyaallah nanti Bulog yang beli untuk disalurkan lagi ke masyarakat. Jadi istilahnya berasnya itu baru. Diambil, dikemas, langsung dikasikan lagi,” terangnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Kota Samarinda. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pemerintah berencana berdayakan ketersediaan beras dari petani lokal sebagai sumber Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda Diah Hurisdiana menyampaikan, akan lakukan kerja sama dengan Bulog untuk memasok beras dari petani. Selama ini Bulog mengambil pasokan beras dari luar negeri seperti Thailand.
“Untuk CPP ini dari Thailand termasuk yang sedang berjalan ini,” jelas Diah kepada Seputar Fakta, Selasa (30/1/2024).
Diah menjelaskan, beberapa daerah yang akan dibeli hasil panennya ialah Kecamatan Sambutan, Makroman, Sindang Sari, Bantuas, dan Lempake. Dari wilayah itu pemerintah akan menampung beras yang dihasilkan oleh petani.
Sistematikanya Diah menjelaskan, pemerintah akan memberi harga sesuai dengan harga pasar dari petani. “Kalau ada kenaikan umpamanya harga dri bulog itu Rp9.950, tapi kalau dari pasaran petani jual itu sekitar Rp11.500. Jadi antara pembelian dengan harga itu ada selisih, nah selisihnya itu pemkot (Pemerintah Kota) yang subsidi,” paparnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ketersediaan beras di kota ini per minggu sebanyak 3.360 ton meurut data Januari 2024. Sedangkan untuk kebutuhan sendiri sebanyak 1.139 ton per minggunya. Jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, Diah mengatakan ada jumlah peningkatan karena bertambahnya jumlah penduduk.
Dari penuturannya selama ini, Samarinda hanya bisa memenuhi kebutuhan berasnya secara mandiri sekitar seperlima dari jumlah kebutuhan. Sedangkan petani hanya bisa menghasilkan beras sekali panen sekitar empat sampai enam ton.
Selama ini Samarinda menerima sokongan beras dari derah Sulawesi dan Jawa Timur. “Karena kita kan kota dan lahan pertanian kita cuma ada 1.250 hektare. Sekitar hampir 50 persen dari Sulawesi. Karena pasar-pasar itu juga kan mereka impor dari sana,” ujarnya.
Rencana itu diprediksi akan berjalan pada tahun 2024. Saat ini pihaknya sedang melakukan perencanaan, dengan mengidentifikasi jumlah petani dan berapa produksi yang bisa dihasilkan dalam sekali panen. “Jadi ini kan April kalau tidak ada halangan mereka panen. Habis lebaran itu panen nanti dikumpulkan, insyaallah nanti Bulog yang beli untuk disalurkan lagi ke masyarakat. Jadi istilahnya berasnya itu baru. Diambil, dikemas, langsung dikasikan lagi,” terangnya.
(Sf/Rs)