Seputar Kaltim

    Udara Kutim Kembali Memburuk, PJJ Diberlakukan untuk Lindungi Kelompok Rentan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    08 Oktober 2026 pukul 20:08 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diberlakukan di Kutai Timur (Kutim), menyusul kondisi kualitas udara yang kembali memburuk akibat asap. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi anak-anak sekolah yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak buruk udara.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini masih berubah-ubah. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kutim, tetapi juga di sejumlah kabupaten lain di Kalimantan Timur.

    “Jadi terkait PJJ ini kan kita ingin memberikan perlindungan untuk anak-anak sekolah. Mereka itu kan usia rentan ya, supaya tetap sehat karena terkait kondisi udara saat ini,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, kondisi udara dapat membaik setelah hujan, tetapi kembali memburuk beberapa hari kemudian ketika asap kembali muncul. Perubahan tersebut membuat kondisi udara harus terus dipantau sebelum menentukan apakah PJJ masih perlu diberlakukan atau dapat dihentikan.

    “Kalau misalnya memang beberapa hari sempat hujan, kemudian kondisinya kualitas udara itu tiap hari kita pantau, aman. Ternyata tiga hari kemudian memburuk lagi, banyak asap lagi. Artinya ini tetap harus kita berlakukan, khususnya untuk usia rentan,” katanya.

    Kelompok yang perlu mendapat perlindungan meliputi bayi, balita, anak di bawah 12 tahun, ibu hamil, lansia, serta penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

    Pemantauan kualitas udara dilakukan Dinkes Kutim melalui 21 puskesmas. Kondisi udara dipantau berdasarkan beberapa kategori, mulai dari sehat, sedang, tidak sehat, tidak aman, sangat tidak sehat, berbahaya hingga darurat. Pengukuran tersebut mencakup kadar PM2,5 dan PM10.

    Pemantauan ini menjadi dasar dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat. Jika kualitas udara sudah masuk kategori darurat, perlindungan tidak hanya ditujukan kepada kelompok rentan, tetapi berlaku bagi seluruh masyarakat.

    “Kalau untuk misalnya kondisinya sampai di atas berbahaya, itu darurat. Kalau sudah darurat, jadi tidak hanya usia rentan, semua wajib di dalam rumah,” jelasnya.

    Selain kondisi udara, Dinkes Kutim juga memantau dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Yuwana mengatakan, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipantau sejak Mei menunjukkan tren kenaikan, terutama pada Agustus dan September.

    Kondisi udara yang masih dapat berubah tersebut juga perlu diantisipasi karena periode El Nino diperkirakan berlangsung cukup panjang. Yuwana menyebut, berdasarkan sosialisasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun, bahkan dapat berlanjut hingga awal tahun berikutnya.

    Dengan kondisi tersebut, Yuwana mengingatkan masyarakat untuk memahami alasan PJJ diberlakukan maupun dihentikan sesuai kondisi udara. Anak-anak yang belajar dari rumah juga tetap perlu dijaga agar tidak beraktivitas di luar ketika kualitas udara sedang buruk.

    “Ini kan untuk kesehatan mereka. Anak-anak PJJ tapi begitu di rumah ternyata dilepas main di luar. Nah, ini yang tidak benar,” tambahnya.

    Ia juga mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih serta mengonsumsi sayur dan buah-buahan untuk menjaga daya tahan tubuh. Masyarakat diminta menghindari aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara sedang tidak sehat.

    “Saya mengimbau kepada masyarakat untuk banyak mengonsumsi air putih, kemudian sayur dan buah-buahan diperbanyak supaya daya tahan tubuh kuat dan juga yang jelas menghindari udara di luar karena kurang sehat,” ujar Yuwana.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Udara Kutim Kembali Memburuk, PJJ Diberlakukan untuk Lindungi Kelompok Rentan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    08 Oktober 2026 pukul 20:08 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diberlakukan di Kutai Timur (Kutim), menyusul kondisi kualitas udara yang kembali memburuk akibat asap. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi anak-anak sekolah yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak buruk udara.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini masih berubah-ubah. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kutim, tetapi juga di sejumlah kabupaten lain di Kalimantan Timur.

    “Jadi terkait PJJ ini kan kita ingin memberikan perlindungan untuk anak-anak sekolah. Mereka itu kan usia rentan ya, supaya tetap sehat karena terkait kondisi udara saat ini,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, kondisi udara dapat membaik setelah hujan, tetapi kembali memburuk beberapa hari kemudian ketika asap kembali muncul. Perubahan tersebut membuat kondisi udara harus terus dipantau sebelum menentukan apakah PJJ masih perlu diberlakukan atau dapat dihentikan.

    “Kalau misalnya memang beberapa hari sempat hujan, kemudian kondisinya kualitas udara itu tiap hari kita pantau, aman. Ternyata tiga hari kemudian memburuk lagi, banyak asap lagi. Artinya ini tetap harus kita berlakukan, khususnya untuk usia rentan,” katanya.

    Kelompok yang perlu mendapat perlindungan meliputi bayi, balita, anak di bawah 12 tahun, ibu hamil, lansia, serta penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

    Pemantauan kualitas udara dilakukan Dinkes Kutim melalui 21 puskesmas. Kondisi udara dipantau berdasarkan beberapa kategori, mulai dari sehat, sedang, tidak sehat, tidak aman, sangat tidak sehat, berbahaya hingga darurat. Pengukuran tersebut mencakup kadar PM2,5 dan PM10.

    Pemantauan ini menjadi dasar dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat. Jika kualitas udara sudah masuk kategori darurat, perlindungan tidak hanya ditujukan kepada kelompok rentan, tetapi berlaku bagi seluruh masyarakat.

    “Kalau untuk misalnya kondisinya sampai di atas berbahaya, itu darurat. Kalau sudah darurat, jadi tidak hanya usia rentan, semua wajib di dalam rumah,” jelasnya.

    Selain kondisi udara, Dinkes Kutim juga memantau dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Yuwana mengatakan, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipantau sejak Mei menunjukkan tren kenaikan, terutama pada Agustus dan September.

    Kondisi udara yang masih dapat berubah tersebut juga perlu diantisipasi karena periode El Nino diperkirakan berlangsung cukup panjang. Yuwana menyebut, berdasarkan sosialisasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun, bahkan dapat berlanjut hingga awal tahun berikutnya.

    Dengan kondisi tersebut, Yuwana mengingatkan masyarakat untuk memahami alasan PJJ diberlakukan maupun dihentikan sesuai kondisi udara. Anak-anak yang belajar dari rumah juga tetap perlu dijaga agar tidak beraktivitas di luar ketika kualitas udara sedang buruk.

    “Ini kan untuk kesehatan mereka. Anak-anak PJJ tapi begitu di rumah ternyata dilepas main di luar. Nah, ini yang tidak benar,” tambahnya.

    Ia juga mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih serta mengonsumsi sayur dan buah-buahan untuk menjaga daya tahan tubuh. Masyarakat diminta menghindari aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara sedang tidak sehat.

    “Saya mengimbau kepada masyarakat untuk banyak mengonsumsi air putih, kemudian sayur dan buah-buahan diperbanyak supaya daya tahan tubuh kuat dan juga yang jelas menghindari udara di luar karena kurang sehat,” ujar Yuwana.

    (Sf/Lo)