Cari disini...
Seputar Kaltim
Suasana aksi unjuk rasa TRC PPA, di depan Kantor Gubernur Kaltim. (Foto: Arman Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Aksi unjuk rasa yang digelar Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) di depan Kantor Gubernur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, berlangsung tegang pada Senin (19/10/2026).
Aksi tersebut dipicu jatuhnya korban dari kelompok rentan, yang diduga terjadi karena paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Samarinda dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu pemicu utamanya adalah meninggalnya balita berusia satu tahun dua bulan, warga Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, pada Kamis (15/10/2026). Balita tersebut dilaporkan mengalami sesak napas berat yang diduga akibat terpapar asap karhutla di lingkungan tempat tinggalnya.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengatakan aksi ini tidak hanya menyoroti kasus balita, tetapi juga anak-anak lain yang menjadi korban Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Jadi hari ini kami melakukan aksi bukan saja karena balita yang meninggal, tapi juga ada anak-anak yang masuk rumah sakit karena terpapar asap, ISPA. Itu dua orang anak yang tinggal di daerah karhutla, di daerah Pelita Delapan. Baru keluar dari rumah sakit kemarin, baru habis kontrol lagi," ujar Rina saat berorasi.
Menurutnya, kondisi tersebut yang mendorong TRC PPA turun ke jalan untuk mendesak keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla.
"Kami tahu pemerintah serius menangani karhutla ini. Tapi kami meminta jangan menunggu korban lebih banyak lagi baru diusulkan sebagai bencana nasional," tegasnya.
Rina mendesak Gubernur Kaltim segera mengambil langkah tegas. Jika penetapan status bencana nasional tidak memungkinkan, ia meminta pemerintah melengkapi kebutuhan petugas di lapangan.
"Kalau gubernur tidak bisa mengupayakan ini sebagai bencana nasional, tolong lengkapi peralatan bagi para damkar, para relawan damkar untuk bisa menuntaskan karhutla. Kalau memang pemerintah tidak bisa menuntaskan karhutla berbulan-bulan ini, tolong serahkan kepada masyarakat, beri kelengkapan kepada relawan, kemudian Babinsa-Bhabinkamtibmas kami yang turun, lengkapi peralatannya," katanya.
Di sisi lain, isu yang mengaitkan kematian balita tersebut dengan kabut asap karhutla dibantah pemerintah.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kaltim, Ronny Setiawati, menyebut baik pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah memberikan klarifikasi bahwa kematian korban bukan akibat karhutla.
Pihaknya juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dengan berkoordinasi langsung dengan rumah sakit. Berdasarkan data medis, korban didiagnosis menderita pneumonia.
"Kami melakukan penyelidikan epidemiologi, melihat kasus ini secara keseluruhan. Kami sudah terima data dan koordinasi dengan rumah sakit. Data yang kami terima anak tersebut terkena pneumonia," ujar Ronny.
Menanggapi pernyataan tersebut, Rina menegaskan lokasi tempat tinggal korban merupakan kawasan yang terpapar asap karhutla cukup parah.
"Di sana, balita itu tinggal di daerah yang terpapar asap. Begitu buka rumah, sudah ada abu bakar, abu terbang, abu jelaga itu yang sudah ada di depan rumah," ungkapnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Suasana aksi unjuk rasa TRC PPA, di depan Kantor Gubernur Kaltim. (Foto: Arman Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Aksi unjuk rasa yang digelar Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) di depan Kantor Gubernur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, berlangsung tegang pada Senin (19/10/2026).
Aksi tersebut dipicu jatuhnya korban dari kelompok rentan, yang diduga terjadi karena paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Samarinda dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu pemicu utamanya adalah meninggalnya balita berusia satu tahun dua bulan, warga Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, pada Kamis (15/10/2026). Balita tersebut dilaporkan mengalami sesak napas berat yang diduga akibat terpapar asap karhutla di lingkungan tempat tinggalnya.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, mengatakan aksi ini tidak hanya menyoroti kasus balita, tetapi juga anak-anak lain yang menjadi korban Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Jadi hari ini kami melakukan aksi bukan saja karena balita yang meninggal, tapi juga ada anak-anak yang masuk rumah sakit karena terpapar asap, ISPA. Itu dua orang anak yang tinggal di daerah karhutla, di daerah Pelita Delapan. Baru keluar dari rumah sakit kemarin, baru habis kontrol lagi," ujar Rina saat berorasi.
Menurutnya, kondisi tersebut yang mendorong TRC PPA turun ke jalan untuk mendesak keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla.
"Kami tahu pemerintah serius menangani karhutla ini. Tapi kami meminta jangan menunggu korban lebih banyak lagi baru diusulkan sebagai bencana nasional," tegasnya.
Rina mendesak Gubernur Kaltim segera mengambil langkah tegas. Jika penetapan status bencana nasional tidak memungkinkan, ia meminta pemerintah melengkapi kebutuhan petugas di lapangan.
"Kalau gubernur tidak bisa mengupayakan ini sebagai bencana nasional, tolong lengkapi peralatan bagi para damkar, para relawan damkar untuk bisa menuntaskan karhutla. Kalau memang pemerintah tidak bisa menuntaskan karhutla berbulan-bulan ini, tolong serahkan kepada masyarakat, beri kelengkapan kepada relawan, kemudian Babinsa-Bhabinkamtibmas kami yang turun, lengkapi peralatannya," katanya.
Di sisi lain, isu yang mengaitkan kematian balita tersebut dengan kabut asap karhutla dibantah pemerintah.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kaltim, Ronny Setiawati, menyebut baik pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah memberikan klarifikasi bahwa kematian korban bukan akibat karhutla.
Pihaknya juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dengan berkoordinasi langsung dengan rumah sakit. Berdasarkan data medis, korban didiagnosis menderita pneumonia.
"Kami melakukan penyelidikan epidemiologi, melihat kasus ini secara keseluruhan. Kami sudah terima data dan koordinasi dengan rumah sakit. Data yang kami terima anak tersebut terkena pneumonia," ujar Ronny.
Menanggapi pernyataan tersebut, Rina menegaskan lokasi tempat tinggal korban merupakan kawasan yang terpapar asap karhutla cukup parah.
"Di sana, balita itu tinggal di daerah yang terpapar asap. Begitu buka rumah, sudah ada abu bakar, abu terbang, abu jelaga itu yang sudah ada di depan rumah," ungkapnya.
(Sf/Lo)