Cari disini...
Seputar Kaltim
Wagub Kaltim, Seno Aji, saat memberikan sambutan pada Rakerda DPD HIPPI Kaltim. (Foto: Arman/seputarfakta.com)
Samarinda - Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji, mendorong pengusaha pribumi untuk naik kelas dengan menjadi pengusaha yang bankable dan berani masuk ke sektor hilirisasi.
Pesan itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kaltim, di Ballroom Hotel Midtown Samarinda, Jumat (9/10/2026).
Menurut Seno, pengusaha lokal sejatinya memiliki banyak keunggulan dibanding pengusaha dari luar. Mereka lebih mengenal lingkungan, budaya dan kehidupan masyarakat lokal, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.
"Bapak dan Ibu sekalian yang berbahagia, pengusaha lokal ini memiliki keunggulan yang sangat banyak. Mereka bisa punya perkenalan dengan lingkungannya lebih baik, kemudian memiliki peluang yang lebih besar, mengetahui bagaimana budaya ataupun kehidupan lokal yang ada," ujar Seno.
Keunggulan tersebut, kata dia, harus menjadi modal dasar bagi pengusaha pribumi untuk menjadi lebih besar di Kaltim.
Namun, Seno mengakui masih ada satu kelemahan utama yang dihadapi pengusaha pribumi, yakni permodalan.
"Memang ada satu yang menjadi kekurangan pengusaha pribumi ini, Pak Ketum. Biasanya kurangnya apa itu? Modal. Modal adalah kekurangan utama," tegasnya.
Karena itu, ia menggarisbawahi pesan Ketua Umum HIPPI tentang pentingnya "Bangkit menjadi bankable". Dengan latar belakang sebagai pengusaha, Seno menyebut pengusaha identik dengan kemampuan mengelola utang produktif agar usaha bisa tumbuh.
"Mungkin karena latar belakang saya juga pengusaha, dan pengusaha itu identik dengan utang, maka usaha yang Bapak dan Ibu jalankan itu juga harus bankable. Supaya modal kerja kita bisa terkover oleh perbankan yang ada di Kalimantan Timur," jelasnya.
Ia mengingatkan agar pengusaha tidak hanya mengandalkan modal sendiri jika ingin usahanya membesar.
"Jangan menjadi pengusaha yang menggunakan modal sendiri. Kalau memang itu bisa, alhamdulillah. Tapi biasanya pengusaha yang mau menjadi besar itu harus bisa berhubungan dengan perbankan. Kalau dulu riba, sekarang banyak perbankan yang syariah dan bisa menjadi langkah kita untuk memperbesar usaha-usaha di bidang masing-masing," ucapnya.
Seno pun mencontohkan perjalanan Ketua Umum HIPPI yang kini menjadi pengusaha besar di Jakarta dengan memiliki apartemen 60 lantai dan berbagai lini usaha. Ia berharap akan lahir pengusaha pribumi Kaltim dengan skala serupa.
Di sisi lain, Pemprov Kaltim saat ini tengah melakukan transformasi ekonomi, dari ekonomi berbasis ekstraktif menuju ekonomi baru yang berkelanjutan. Transformasi ini diyakini akan membuka banyak peluang bagi pengusaha lokal.
Salah satunya dari temuan cadangan gas yang sangat besar di Kaltim. Seno melihat adanya peluang hilirisasi untuk membangun pabrik CNG (Compressed Natural Gas) yang bisa dimanfaatkan nelayan sebagai pengganti bensin dan biosolar.
"Ini juga akan memberikan peluang hilirisasi. Bagaimana pengusaha pribumi bisa membuat pabrik CNG,Nah, ini peluangnya besar. Bagaimana para nelayan kita nantinya juga akan bertransformasi dari bensin, dari biosolar menjadi ke CNG. Ini bisa dilirik, memang kebutuhan modalnya juga kemungkinan akan besar," ujarnya.
Potensi lainnya ada di sektor CPO. Kaltim memproduksi CPO dalam jumlah besar, namun hilirisasinya justru dilakukan di luar daerah.
"Bayangkan, semua CPO sebagian besar itu dikirim ke Pulau Jawa. Mereka tidak punya sawit, tapi mereka punya produksi margarin, minyak goreng, keju, produksi komersial kosmetik. Dasarnya adalah di Kalimantan Timur," katanya.
Dengan luas lahan sawit mencapai 1,6 juta hektare di Kaltim, Seno menilai HIPPI berpeluang besar membangun pabrik hilirisasi sawit di daerah sendiri.
"Ada 1,6 juta hektare lahan sawit di Kalimantan Timur. Bayangkan kalau ini dilirik menjadi peluang oleh anggota HIPPI, maka kita akan punya pabrik hilirisasi kelapa sawit di Kaltim," imbuhnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi pasir kuarsa yang jumlahnya miliaran ton di Kaltim. Potensi ini bisa diolah menjadi produk bernilai tambah seperti hebel atau bata ringan.
"Kita punya pasir kuarsa yang miliaran ton. Saya tidak melihat batu bara, minyak bumi dan lain-lain. Pasir kuarsa. Bayangkan kalau ini dilirik oleh pengusaha HIPPI, membuat atau memproduksi hebel, batu bata ringan yang terbuat dari pasir kuarsa," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wagub Kaltim, Seno Aji, saat memberikan sambutan pada Rakerda DPD HIPPI Kaltim. (Foto: Arman/seputarfakta.com)
Samarinda - Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji, mendorong pengusaha pribumi untuk naik kelas dengan menjadi pengusaha yang bankable dan berani masuk ke sektor hilirisasi.
Pesan itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kaltim, di Ballroom Hotel Midtown Samarinda, Jumat (9/10/2026).
Menurut Seno, pengusaha lokal sejatinya memiliki banyak keunggulan dibanding pengusaha dari luar. Mereka lebih mengenal lingkungan, budaya dan kehidupan masyarakat lokal, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.
"Bapak dan Ibu sekalian yang berbahagia, pengusaha lokal ini memiliki keunggulan yang sangat banyak. Mereka bisa punya perkenalan dengan lingkungannya lebih baik, kemudian memiliki peluang yang lebih besar, mengetahui bagaimana budaya ataupun kehidupan lokal yang ada," ujar Seno.
Keunggulan tersebut, kata dia, harus menjadi modal dasar bagi pengusaha pribumi untuk menjadi lebih besar di Kaltim.
Namun, Seno mengakui masih ada satu kelemahan utama yang dihadapi pengusaha pribumi, yakni permodalan.
"Memang ada satu yang menjadi kekurangan pengusaha pribumi ini, Pak Ketum. Biasanya kurangnya apa itu? Modal. Modal adalah kekurangan utama," tegasnya.
Karena itu, ia menggarisbawahi pesan Ketua Umum HIPPI tentang pentingnya "Bangkit menjadi bankable". Dengan latar belakang sebagai pengusaha, Seno menyebut pengusaha identik dengan kemampuan mengelola utang produktif agar usaha bisa tumbuh.
"Mungkin karena latar belakang saya juga pengusaha, dan pengusaha itu identik dengan utang, maka usaha yang Bapak dan Ibu jalankan itu juga harus bankable. Supaya modal kerja kita bisa terkover oleh perbankan yang ada di Kalimantan Timur," jelasnya.
Ia mengingatkan agar pengusaha tidak hanya mengandalkan modal sendiri jika ingin usahanya membesar.
"Jangan menjadi pengusaha yang menggunakan modal sendiri. Kalau memang itu bisa, alhamdulillah. Tapi biasanya pengusaha yang mau menjadi besar itu harus bisa berhubungan dengan perbankan. Kalau dulu riba, sekarang banyak perbankan yang syariah dan bisa menjadi langkah kita untuk memperbesar usaha-usaha di bidang masing-masing," ucapnya.
Seno pun mencontohkan perjalanan Ketua Umum HIPPI yang kini menjadi pengusaha besar di Jakarta dengan memiliki apartemen 60 lantai dan berbagai lini usaha. Ia berharap akan lahir pengusaha pribumi Kaltim dengan skala serupa.
Di sisi lain, Pemprov Kaltim saat ini tengah melakukan transformasi ekonomi, dari ekonomi berbasis ekstraktif menuju ekonomi baru yang berkelanjutan. Transformasi ini diyakini akan membuka banyak peluang bagi pengusaha lokal.
Salah satunya dari temuan cadangan gas yang sangat besar di Kaltim. Seno melihat adanya peluang hilirisasi untuk membangun pabrik CNG (Compressed Natural Gas) yang bisa dimanfaatkan nelayan sebagai pengganti bensin dan biosolar.
"Ini juga akan memberikan peluang hilirisasi. Bagaimana pengusaha pribumi bisa membuat pabrik CNG,Nah, ini peluangnya besar. Bagaimana para nelayan kita nantinya juga akan bertransformasi dari bensin, dari biosolar menjadi ke CNG. Ini bisa dilirik, memang kebutuhan modalnya juga kemungkinan akan besar," ujarnya.
Potensi lainnya ada di sektor CPO. Kaltim memproduksi CPO dalam jumlah besar, namun hilirisasinya justru dilakukan di luar daerah.
"Bayangkan, semua CPO sebagian besar itu dikirim ke Pulau Jawa. Mereka tidak punya sawit, tapi mereka punya produksi margarin, minyak goreng, keju, produksi komersial kosmetik. Dasarnya adalah di Kalimantan Timur," katanya.
Dengan luas lahan sawit mencapai 1,6 juta hektare di Kaltim, Seno menilai HIPPI berpeluang besar membangun pabrik hilirisasi sawit di daerah sendiri.
"Ada 1,6 juta hektare lahan sawit di Kalimantan Timur. Bayangkan kalau ini dilirik menjadi peluang oleh anggota HIPPI, maka kita akan punya pabrik hilirisasi kelapa sawit di Kaltim," imbuhnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi pasir kuarsa yang jumlahnya miliaran ton di Kaltim. Potensi ini bisa diolah menjadi produk bernilai tambah seperti hebel atau bata ringan.
"Kita punya pasir kuarsa yang miliaran ton. Saya tidak melihat batu bara, minyak bumi dan lain-lain. Pasir kuarsa. Bayangkan kalau ini dilirik oleh pengusaha HIPPI, membuat atau memproduksi hebel, batu bata ringan yang terbuat dari pasir kuarsa," pungkasnya.
(Sf/Lo)