Seputar Kaltim

    Tradisi Lebaran Ketupat Bikin Perajin di Samarinda Raup Keuntungan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    15 April 2024 pukul 21:16 WITA

    Seorang perajin ketupat, Masda sedang membentuk kulit ketupat. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Menjelang perayaan Lebaran Ketupat, suasana di Kampung Ketupat, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, tampak semarak dengan aktivitas para pengrajin kulit ketupat yang kini kebanjiran pesanan. 

    Tradisi Lebaran Ketupat atau Syawalan, yang bertepatan dengan bulan Syawal, telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa dan kini merambah ke berbagai wilayah di Indonesia serta mancanegara. Diketahui, tradisi ini akan berlangsung 17 April 2024 ini.

    Masda, seorang perajin kulit ketupat berpengalaman puluhan tahun, mengungkapkan bahwa permintaan kulit ketupat meningkat signifikan menjelang Lebaran Idulfitri dan terus berlanjut hingga Lebaran Ketupat. "Sehari bisa 500 ketupat yang dibuat," ujar Masda.

    Dengan tingkat produktivitas yang tinggi di tengah permintaan yang melonjak, harga jual Rp70 ribu per 100 buah, perempuan berusia 36 tahun itu menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp250 ribu untuk jumlah yang sama. 

    Faktor harga inilah yang membuat banyak pembeli memilih untuk langsung mendatangi perajin. "Kebanyakan orang lewat sini, langsung pesan, karena di sini murah daripada di pasar," ungkap Masda.

    Meski harga kulit ketupat naik selama periode Lebaran Ketupat, Masda mengakui bahwa keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar, hanya berkisar ratusan ribu rupiah per hari. "Ratusan ribu saja, tidak untung lebih, tapi ini kerjaan kita setiap hari bikin ketupat," tuturnya.

    Bahan utama yang digunakan Masda adalah daun Nipah, yang didapatkan dari muara dengan harga Rp42 ribu per ikat, cukup untuk membuat 1000 kulit ketupat. Meskipun biaya modalnya kecil, proses pembuatan ketupat cukup panjang, mulai dari pengeringan daun, pemisahan batang, hingga pembentukan kulit ketupat itu sendiri.

    Setelah Lebaran Ketupat berakhir, Masda berencana untuk menurunkan harga kembali ke Rp20 ribu per 100 buah, sebagai penyesuaian pasca-lebaran. Dengan harapan yang besar, Masda berharap bahwa tradisi pembuatan kulit ketupat ini akan terus berkembang dan dilestarikan di masa yang akan datang.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Tradisi Lebaran Ketupat Bikin Perajin di Samarinda Raup Keuntungan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    15 April 2024 pukul 21:16 WITA

    Seorang perajin ketupat, Masda sedang membentuk kulit ketupat. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Menjelang perayaan Lebaran Ketupat, suasana di Kampung Ketupat, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, tampak semarak dengan aktivitas para pengrajin kulit ketupat yang kini kebanjiran pesanan. 

    Tradisi Lebaran Ketupat atau Syawalan, yang bertepatan dengan bulan Syawal, telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa dan kini merambah ke berbagai wilayah di Indonesia serta mancanegara. Diketahui, tradisi ini akan berlangsung 17 April 2024 ini.

    Masda, seorang perajin kulit ketupat berpengalaman puluhan tahun, mengungkapkan bahwa permintaan kulit ketupat meningkat signifikan menjelang Lebaran Idulfitri dan terus berlanjut hingga Lebaran Ketupat. "Sehari bisa 500 ketupat yang dibuat," ujar Masda.

    Dengan tingkat produktivitas yang tinggi di tengah permintaan yang melonjak, harga jual Rp70 ribu per 100 buah, perempuan berusia 36 tahun itu menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp250 ribu untuk jumlah yang sama. 

    Faktor harga inilah yang membuat banyak pembeli memilih untuk langsung mendatangi perajin. "Kebanyakan orang lewat sini, langsung pesan, karena di sini murah daripada di pasar," ungkap Masda.

    Meski harga kulit ketupat naik selama periode Lebaran Ketupat, Masda mengakui bahwa keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar, hanya berkisar ratusan ribu rupiah per hari. "Ratusan ribu saja, tidak untung lebih, tapi ini kerjaan kita setiap hari bikin ketupat," tuturnya.

    Bahan utama yang digunakan Masda adalah daun Nipah, yang didapatkan dari muara dengan harga Rp42 ribu per ikat, cukup untuk membuat 1000 kulit ketupat. Meskipun biaya modalnya kecil, proses pembuatan ketupat cukup panjang, mulai dari pengeringan daun, pemisahan batang, hingga pembentukan kulit ketupat itu sendiri.

    Setelah Lebaran Ketupat berakhir, Masda berencana untuk menurunkan harga kembali ke Rp20 ribu per 100 buah, sebagai penyesuaian pasca-lebaran. Dengan harapan yang besar, Masda berharap bahwa tradisi pembuatan kulit ketupat ini akan terus berkembang dan dilestarikan di masa yang akan datang.

    (Sf/Rs)