Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Demi mempersiapkan generasi sadar sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduc, Reuse, Recycle (TPST 3R) Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan melakukan sosialisasi program bank sampah ke Sekolah Dasar (SD) yang berada di wilayah tersebut.
Ketua TPST 3R Loa Kulu, Muhammad Fadli mengatakan akan mengunjungi SD untuk menerapkan program bank sampah.
“Kami mulai dari tingkat dasar dulu supaya mereka terbiasa bertanggungjawab dengan sampah yang mereka hasilkan sendiri,” ujar Fadli Sabtu (3/8/2024).
Bank Sampah merupakan sarana pengelolaan yang di dalamnya ada pemilahan penimbangan, penyetoran dan tabungan untuk nasabah.
Sistem kerjanya sederhana, anak-anak hanya perlu mengumpulkan sampah yang mereka hasilkan sehari-hari, kemudian memilih sesuai dengan jenis sampah yang punya harga dan menyetorkan hasil sampah tersebut ke bank sampah.
"Hasil setoran mereka itu harus yang bisa diolah kembali. Kalau setoran sudah banyak, bisa jadi uang dan bisa mereka ambil," ungkapnya.
Kata dia, sistem kerja yang simpel ini dapat diterapkan di SD. Para siswa akan terbiasa dan mulai dapat memilih sampah yang bisa didaur ulang.
"Selain menghasilkan uang, ini juga bentuk eduksi kita supaya dapat membuat mereka lebih kreatif dalam mengolah hasil sampah dapat menjadi kerajinan tangan," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Demi mempersiapkan generasi sadar sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduc, Reuse, Recycle (TPST 3R) Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan melakukan sosialisasi program bank sampah ke Sekolah Dasar (SD) yang berada di wilayah tersebut.
Ketua TPST 3R Loa Kulu, Muhammad Fadli mengatakan akan mengunjungi SD untuk menerapkan program bank sampah.
“Kami mulai dari tingkat dasar dulu supaya mereka terbiasa bertanggungjawab dengan sampah yang mereka hasilkan sendiri,” ujar Fadli Sabtu (3/8/2024).
Bank Sampah merupakan sarana pengelolaan yang di dalamnya ada pemilahan penimbangan, penyetoran dan tabungan untuk nasabah.
Sistem kerjanya sederhana, anak-anak hanya perlu mengumpulkan sampah yang mereka hasilkan sehari-hari, kemudian memilih sesuai dengan jenis sampah yang punya harga dan menyetorkan hasil sampah tersebut ke bank sampah.
"Hasil setoran mereka itu harus yang bisa diolah kembali. Kalau setoran sudah banyak, bisa jadi uang dan bisa mereka ambil," ungkapnya.
Kata dia, sistem kerja yang simpel ini dapat diterapkan di SD. Para siswa akan terbiasa dan mulai dapat memilih sampah yang bisa didaur ulang.
"Selain menghasilkan uang, ini juga bentuk eduksi kita supaya dapat membuat mereka lebih kreatif dalam mengolah hasil sampah dapat menjadi kerajinan tangan," pungkasnya.
(Sf/By)