Cari disini...
Seputar Kaltim
Proses pemilahan sampah organik dan anorganik di TPS 3R Loa Tebu. (Foto:Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) tengah melakukan Piloting Project atau uji coba Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Reduce-Reuse-Recycle (3R) di Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong.
Ini dilakukan untuk memaksimalkan pengolahan dan mengurangi volume sampah masuk ke TPA Bekotok Tenggarong.
TPS 3R yang masih ditahap percobaan ini dan rencananya akan diresmikan oleh Bupati Kukar, Edi Damansyah pada Agustus 2024 mendatang.
Koordinator Analis Data, Pelaporan Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Erfani mengungkapkan, TPS 3R ini dapat mengolah sampah untuk dijadikan pupuk dan bahan bakar alternatif dengan menggunakan berbagai macam alat dan mesin.
"Kalau mau membuat pupuk dari sampah menggunakan mesin gibrig, sedangkan sampah yang mau diolah menjadi bahan bakar namanya pirolisis," ucapnya, Rabu (24/7/2024).
Erfani mengaku dalam mengolah perlu melakukan pengumpulan semua jenis sampah, kemudian dipilah antara sampah organik dan anorganik. Selanjutnya dimusnahkan dengan menggunakan incinerator yang merupakan alat pembakar rendah emisi.
"TPS 3R ini digunakan untuk membakar sampah namun dengan menggunakan metode tertentu. Sehingga tidak asal dibakar yang bisa menghasilkan gangguan atau ketidaknyamanan bagi masyarakat," sebutnya. Tujuan dibangunnya TPS 3R ini untuk menekan residu dari sampah dan memanfaatkan sampah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomi.
Selain itu, TPS ini menjadi alternatif lain dalam mengolah sampah, sekaligus memperpanjang umur TPA bekotok yang bertempat di Jalan Gunung Belah, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. "Ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan di TPA Bekotok dengan memanfaatkan TPS 3R," tuturnya.
Kini, kata dia, TPS 3R yang sudah dibangun berada di Kelurahan Loa Tebu dan Kecamatan Loa Kulu dan diharapkan Piloting Project di Loa Tebu ini tetap berjalan normal dan terkendali, sekaligus menimbulkan kesadaran kepada masyarakat bahwa kebersihan lingkungan itu tanggung jawab bersama.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Proses pemilahan sampah organik dan anorganik di TPS 3R Loa Tebu. (Foto:Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) tengah melakukan Piloting Project atau uji coba Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Reduce-Reuse-Recycle (3R) di Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong.
Ini dilakukan untuk memaksimalkan pengolahan dan mengurangi volume sampah masuk ke TPA Bekotok Tenggarong.
TPS 3R yang masih ditahap percobaan ini dan rencananya akan diresmikan oleh Bupati Kukar, Edi Damansyah pada Agustus 2024 mendatang.
Koordinator Analis Data, Pelaporan Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Erfani mengungkapkan, TPS 3R ini dapat mengolah sampah untuk dijadikan pupuk dan bahan bakar alternatif dengan menggunakan berbagai macam alat dan mesin.
"Kalau mau membuat pupuk dari sampah menggunakan mesin gibrig, sedangkan sampah yang mau diolah menjadi bahan bakar namanya pirolisis," ucapnya, Rabu (24/7/2024).
Erfani mengaku dalam mengolah perlu melakukan pengumpulan semua jenis sampah, kemudian dipilah antara sampah organik dan anorganik. Selanjutnya dimusnahkan dengan menggunakan incinerator yang merupakan alat pembakar rendah emisi.
"TPS 3R ini digunakan untuk membakar sampah namun dengan menggunakan metode tertentu. Sehingga tidak asal dibakar yang bisa menghasilkan gangguan atau ketidaknyamanan bagi masyarakat," sebutnya. Tujuan dibangunnya TPS 3R ini untuk menekan residu dari sampah dan memanfaatkan sampah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomi.
Selain itu, TPS ini menjadi alternatif lain dalam mengolah sampah, sekaligus memperpanjang umur TPA bekotok yang bertempat di Jalan Gunung Belah, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. "Ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan di TPA Bekotok dengan memanfaatkan TPS 3R," tuturnya.
Kini, kata dia, TPS 3R yang sudah dibangun berada di Kelurahan Loa Tebu dan Kecamatan Loa Kulu dan diharapkan Piloting Project di Loa Tebu ini tetap berjalan normal dan terkendali, sekaligus menimbulkan kesadaran kepada masyarakat bahwa kebersihan lingkungan itu tanggung jawab bersama.
(Sf/By)