Seputar Kaltim

    TP PKK Balikpapan Prioritaskan Penanganan Stunting dengan Layanan Jemput Bola

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:LODYA A
    15 Januari 2026 pukul 13:47 WITA

    Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Tim Penggerak (TP) PKK menegaskan penanganan stunting masih menjadi prioritas utama di Kota Balikpapan. 


    Ini disampaikan Ketua TP PKK Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud. Menurutnya stunting merupakan persoalan serius yang harus ditangani secara bersama-sama melalui kerja kolaboratif, serta peningkatan literasi masyarakat.


    Ia menyebut, upaya penurunan angka stunting di Balikpapan menunjukkan hasil yang positif.


    “Stunting ini masih menjadi momok di republik ini. Alhamdulillah angka stunting di Balikpapan sudah mengalami penurunan dari sebelumnya 22,8 persen menjadi di bawah 20 persen, sekitar 18 hingga 17 persen dan ini sudah mendekati target nasional sebesar 17 persen,” ucap Nurlena, Kamis (15/1/2026).


    Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, TP PKK bersama Posyandu Balikpapan mengembangkan inovasi layanan kesehatan dengan metode jemput bola atau door to door. Melalui metode ini, kader posyandu mendatangi langsung rumah warga yang membutuhkan pemantauan kesehatan, khususnya ibu hamil dan balita.


    “Kami sudah memiliki data rumah-rumah yang perlu dipantau. Kader posyandu datang langsung ke rumah warga, membawa makanan bergizi, serta menghadirkan tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan sesuai kebutuhan,” jelasnya.


    Ia juga mengungkapkan masih terdapat sejumlah wilayah yang tergolong rawan stunting, salah satunya Balikpapan Barat. Wilayah tersebut banyak dihuni oleh pendatang dari luar daerah dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam.


    “Banyak pendatang yang belum memiliki pekerjaan tetap dan tinggal bersama keluarga. Kondisi sosial ekonomi seperti ini tentu sangat memengaruhi kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak,” terangnya.


    Selain persoalan stunting, Nurlena juga menyoroti isu sosial lain yang perlu mendapat perhatian, khususnya dampak sosial dari hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda dengan memperbanyak kegiatan yang bersifat positif.


    “Kami perlu memastikan anak-anak muda memiliki ruang dan kegiatan positif agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.


    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    TP PKK Balikpapan Prioritaskan Penanganan Stunting dengan Layanan Jemput Bola

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:LODYA A
    15 Januari 2026 pukul 13:47 WITA

    Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Tim Penggerak (TP) PKK menegaskan penanganan stunting masih menjadi prioritas utama di Kota Balikpapan. 


    Ini disampaikan Ketua TP PKK Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud. Menurutnya stunting merupakan persoalan serius yang harus ditangani secara bersama-sama melalui kerja kolaboratif, serta peningkatan literasi masyarakat.


    Ia menyebut, upaya penurunan angka stunting di Balikpapan menunjukkan hasil yang positif.


    “Stunting ini masih menjadi momok di republik ini. Alhamdulillah angka stunting di Balikpapan sudah mengalami penurunan dari sebelumnya 22,8 persen menjadi di bawah 20 persen, sekitar 18 hingga 17 persen dan ini sudah mendekati target nasional sebesar 17 persen,” ucap Nurlena, Kamis (15/1/2026).


    Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, TP PKK bersama Posyandu Balikpapan mengembangkan inovasi layanan kesehatan dengan metode jemput bola atau door to door. Melalui metode ini, kader posyandu mendatangi langsung rumah warga yang membutuhkan pemantauan kesehatan, khususnya ibu hamil dan balita.


    “Kami sudah memiliki data rumah-rumah yang perlu dipantau. Kader posyandu datang langsung ke rumah warga, membawa makanan bergizi, serta menghadirkan tenaga kesehatan seperti dokter dan bidan sesuai kebutuhan,” jelasnya.


    Ia juga mengungkapkan masih terdapat sejumlah wilayah yang tergolong rawan stunting, salah satunya Balikpapan Barat. Wilayah tersebut banyak dihuni oleh pendatang dari luar daerah dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam.


    “Banyak pendatang yang belum memiliki pekerjaan tetap dan tinggal bersama keluarga. Kondisi sosial ekonomi seperti ini tentu sangat memengaruhi kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak,” terangnya.


    Selain persoalan stunting, Nurlena juga menyoroti isu sosial lain yang perlu mendapat perhatian, khususnya dampak sosial dari hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda dengan memperbanyak kegiatan yang bersifat positif.


    “Kami perlu memastikan anak-anak muda memiliki ruang dan kegiatan positif agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.


    (Sf/Lo)