Tongkang 400 Feet Tak Bisa Lewat Mahakam, Gubernur Rudy Bandingkan Kaltim dengan Kalsel, Sebut Kalah Jauh

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    27 Oktober 2025 09:57 WIB

    Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud saat diwawancarai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud, menyoroti kondisi kritis Sungai Mahakam yang kini mengalami pendangkalan parah.

    Menurutnya, masalah ini tidak hanya menjadi biang kerok banjir kronis di Samarinda, tetapi juga 'mencekik' perekonomian dan daya saing logistik daerah.

    Rudy secara blak-blakan membandingkan kondisi Kaltim dengan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang menurutnya kini jauh lebih unggul dalam hal kapasitas alur sungai.

    Gubernur membeberkan data teknis bahwa Shallow Water Level (SWL) atau permukaan air dangkal di muara Mahakam sudah sangat mengkhawatirkan.

    "Persoalannya pendangkalan kita terlalu tinggi. SWL yang hari ini ada di Muara, itu kedalamannya hari ini tidak sampai 4 meter. Tepatnya hanya tinggal 3,8 meter saja," ujar Rudy Mas'ud kepada wartawan di Odah Etam Kantor Gubernur Kaltim, Senin (27/10/2025).

    Padahal, lanjutnya, kedalaman air ideal untuk lalu lintas kapal komersial jauh di atas angka tersebut.

    "Kapal-kapal, saya menyampaikan kapal-kapal, karena kapal itu ada draft. Draft-nya, misalkan tongkang 300 feet, itu draft-nya 4,8 meter," jelasnya.

    Artinya, tongkang berukuran 300 feet saja sudah berisiko kandas jika melintasi muara Sungai Mahakam saat ini.

    Kondisi inilah yang menurut Rudy membuat perekonomian Kaltim kalah saing, terutama dalam hal logistik komoditas.

    Ia membandingkan langsung dengan kondisi di Kalsel yang alur sungainya sudah dikeruk dan sangat memadai.

    "Hari ini, Sungai Kapuas (di Kalsel) itu bisa dilalui dengan tongkang 400 feet. Kalau kita di sini nggak bisa. Ini maksimum 330 feet," tegas Rudy.

     

    Rudy merinci perbedaan signifikan dari kapasitas angkut akibat perbedaan infrastruktur alur sungai tersebut.

    "330 feet itu kapasitasnya hanya 10 ribu ton. Yang 400 feet itu kapasitasnya 16 ribu ton. Itu hari ini di Kalsel bisa dilewatin," paparnya.

    Ia mencontohkan komoditas batu bara dari salah satu perusahaan besar yang bisa keluar melalui sungai di Kalsel, sementara di Kaltim hal itu tidak bisa dilakukan karena keterbatasan kedalaman.

    Gubernur menyebut, biang kerok utama dari semua masalah ini adalah tidak adanya pengerukan selama puluhan tahun.

    "Sungai Mahakam ini hampir 20 tahun tidak pernah dikeruk. Terjadi sedimentasi. Sedimentasi mulai dari hulu sampai ke Muara, menumpuknya di situ. Biar semuanya sama-sama saling memahami," ungkapnya.

    Rudy menegaskan, pengerukan ini tidak hanya vital untuk ekonomi, tapi juga untuk penanggulangan banjir.

    Pendangkalan parah di muara, jelasnya, membuat air hujan dari hulu dan air pasang dari laut tertahan dan tidak bisa mengalir lancar, sehingga menyebabkan banjir parah di Samarinda dan sekitarnya.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Tongkang 400 Feet Tak Bisa Lewat Mahakam, Gubernur Rudy Bandingkan Kaltim dengan Kalsel, Sebut Kalah Jauh

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    27 Oktober 2025 09:57 WIB

    Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud saat diwawancarai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud, menyoroti kondisi kritis Sungai Mahakam yang kini mengalami pendangkalan parah.

    Menurutnya, masalah ini tidak hanya menjadi biang kerok banjir kronis di Samarinda, tetapi juga 'mencekik' perekonomian dan daya saing logistik daerah.

    Rudy secara blak-blakan membandingkan kondisi Kaltim dengan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang menurutnya kini jauh lebih unggul dalam hal kapasitas alur sungai.

    Gubernur membeberkan data teknis bahwa Shallow Water Level (SWL) atau permukaan air dangkal di muara Mahakam sudah sangat mengkhawatirkan.

    "Persoalannya pendangkalan kita terlalu tinggi. SWL yang hari ini ada di Muara, itu kedalamannya hari ini tidak sampai 4 meter. Tepatnya hanya tinggal 3,8 meter saja," ujar Rudy Mas'ud kepada wartawan di Odah Etam Kantor Gubernur Kaltim, Senin (27/10/2025).

    Padahal, lanjutnya, kedalaman air ideal untuk lalu lintas kapal komersial jauh di atas angka tersebut.

    "Kapal-kapal, saya menyampaikan kapal-kapal, karena kapal itu ada draft. Draft-nya, misalkan tongkang 300 feet, itu draft-nya 4,8 meter," jelasnya.

    Artinya, tongkang berukuran 300 feet saja sudah berisiko kandas jika melintasi muara Sungai Mahakam saat ini.

    Kondisi inilah yang menurut Rudy membuat perekonomian Kaltim kalah saing, terutama dalam hal logistik komoditas.

    Ia membandingkan langsung dengan kondisi di Kalsel yang alur sungainya sudah dikeruk dan sangat memadai.

    "Hari ini, Sungai Kapuas (di Kalsel) itu bisa dilalui dengan tongkang 400 feet. Kalau kita di sini nggak bisa. Ini maksimum 330 feet," tegas Rudy.

     

    Rudy merinci perbedaan signifikan dari kapasitas angkut akibat perbedaan infrastruktur alur sungai tersebut.

    "330 feet itu kapasitasnya hanya 10 ribu ton. Yang 400 feet itu kapasitasnya 16 ribu ton. Itu hari ini di Kalsel bisa dilewatin," paparnya.

    Ia mencontohkan komoditas batu bara dari salah satu perusahaan besar yang bisa keluar melalui sungai di Kalsel, sementara di Kaltim hal itu tidak bisa dilakukan karena keterbatasan kedalaman.

    Gubernur menyebut, biang kerok utama dari semua masalah ini adalah tidak adanya pengerukan selama puluhan tahun.

    "Sungai Mahakam ini hampir 20 tahun tidak pernah dikeruk. Terjadi sedimentasi. Sedimentasi mulai dari hulu sampai ke Muara, menumpuknya di situ. Biar semuanya sama-sama saling memahami," ungkapnya.

    Rudy menegaskan, pengerukan ini tidak hanya vital untuk ekonomi, tapi juga untuk penanggulangan banjir.

    Pendangkalan parah di muara, jelasnya, membuat air hujan dari hulu dan air pasang dari laut tertahan dan tidak bisa mengalir lancar, sehingga menyebabkan banjir parah di Samarinda dan sekitarnya.

    (Sf/Rs)