Seputar Kaltim

    Toko Penyeimbang, Solusi Disperindagkop Kaltim Atasi Lonjakan Harga Beras

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    22 Februari 2024 pukul 20:02 WITA

    Beras di salah satu toko yang ada di jalan Pramuka. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga beras di Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kenaikan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti produksi beras nasional yang belum memasuki musim panen, dampak fenomena El Nino yang mengurangi hasil panen, serta keterbatasan pasokan dari daerah penghasil.

    Adapun harga beras kini di Pasar Segiri dan pasar lainnya di Samarinda meroket naik. Dari yang bulan sebelumnya seharga Rp360 ribu per karung kapasitas 25 kilogram, kini naik signifikan pada kisaran Rp380 ribu hingga Rp420 ribu per 25 kilogram tergantung kualitas.

    Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim mengambil langkah antisipatif dengan menginisiasi pembentukan toko penyeimbang. Toko penyeimbang adalah toko yang menjual bahan pokok, khususnya beras, dengan harga yang sesuai dengan acuan pemerintah.

    "Kami melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota se-Kaltim untuk melakukan operasi pasar beras bekerja sama dengan Bulog. Selain itu, kami juga menginisiasi pembentukan toko penyeimbang yang akan diresmikan sekitar 29 Februari ini," ujar Kepala Disperindagkop Kaltim Heni Purwaningsih, Kamis (22/2/2024).

    Menurut Heni, toko penyeimbang ini merupakan bagian dari konsep pusat distribusi yang akan dibangun pada 2025 dan beroperasi pada 2026. Pusat distribusi ini bertujuan untuk mengelola pasokan kebutuhan pokok masyarakat Kaltim, yang sebagian besar masih harus disuplai dari luar provinsi.

    "Kaltim bukan daerah produsen, jadi kita sangat tergantung pada pasokan dari luar. Dengan adanya pusat distribusi, kita bisa mengendalikan inflasi dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendapatkan harga barang pokok yang bersaing," kata Heni.

    Heni menambahkan, toko penyeimbang pertama akan dibangun di Pasar Segiri, Samarinda, sebagai ibu kota provinsi. Toko penyeimbang ini akan menyediakan beberapa komoditas barang pokok, di antaranya beras, dengan harga yang stabil dan terjangkau. Toko penyeimbang ini juga akan dikembangkan di daerah-daerah lainnya.

    "Kami berharap, dengan adanya toko penyeimbang ini, masyarakat Kaltim tidak perlu khawatir dengan ketersediaan dan harga beras di pasaran. Kami juga akan terus memantau stok beras di distributor dan pasar, yang saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat," katanya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Kaltim Ali Wardana menjelaskan, pusat distribusi ini juga akan berfungsi sebagai toko penyeimbang yang dapat mengintervensi harga bahan pokok ketika terjadi fluktuasi yang signifikan.

    "Ketika harga naik, pemerintah akan melakukan subsidi agar masyarakat bisa membeli dengan harga yang terjangkau. Ketika harga turun, pemerintah akan membeli dari petani dengan harga yang layak, sehingga mereka tidak dirugikan oleh tengkulak," ucap Ali.

    Ali juga mengatakan, pusat distribusi ini akan membantu produsen lokal untuk menyalurkan hasil panennya ke pasar, tanpa harus melalui perantara. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pokok.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Toko Penyeimbang, Solusi Disperindagkop Kaltim Atasi Lonjakan Harga Beras

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    22 Februari 2024 pukul 20:02 WITA

    Beras di salah satu toko yang ada di jalan Pramuka. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga beras di Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kenaikan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti produksi beras nasional yang belum memasuki musim panen, dampak fenomena El Nino yang mengurangi hasil panen, serta keterbatasan pasokan dari daerah penghasil.

    Adapun harga beras kini di Pasar Segiri dan pasar lainnya di Samarinda meroket naik. Dari yang bulan sebelumnya seharga Rp360 ribu per karung kapasitas 25 kilogram, kini naik signifikan pada kisaran Rp380 ribu hingga Rp420 ribu per 25 kilogram tergantung kualitas.

    Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim mengambil langkah antisipatif dengan menginisiasi pembentukan toko penyeimbang. Toko penyeimbang adalah toko yang menjual bahan pokok, khususnya beras, dengan harga yang sesuai dengan acuan pemerintah.

    "Kami melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota se-Kaltim untuk melakukan operasi pasar beras bekerja sama dengan Bulog. Selain itu, kami juga menginisiasi pembentukan toko penyeimbang yang akan diresmikan sekitar 29 Februari ini," ujar Kepala Disperindagkop Kaltim Heni Purwaningsih, Kamis (22/2/2024).

    Menurut Heni, toko penyeimbang ini merupakan bagian dari konsep pusat distribusi yang akan dibangun pada 2025 dan beroperasi pada 2026. Pusat distribusi ini bertujuan untuk mengelola pasokan kebutuhan pokok masyarakat Kaltim, yang sebagian besar masih harus disuplai dari luar provinsi.

    "Kaltim bukan daerah produsen, jadi kita sangat tergantung pada pasokan dari luar. Dengan adanya pusat distribusi, kita bisa mengendalikan inflasi dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendapatkan harga barang pokok yang bersaing," kata Heni.

    Heni menambahkan, toko penyeimbang pertama akan dibangun di Pasar Segiri, Samarinda, sebagai ibu kota provinsi. Toko penyeimbang ini akan menyediakan beberapa komoditas barang pokok, di antaranya beras, dengan harga yang stabil dan terjangkau. Toko penyeimbang ini juga akan dikembangkan di daerah-daerah lainnya.

    "Kami berharap, dengan adanya toko penyeimbang ini, masyarakat Kaltim tidak perlu khawatir dengan ketersediaan dan harga beras di pasaran. Kami juga akan terus memantau stok beras di distributor dan pasar, yang saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat," katanya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Kaltim Ali Wardana menjelaskan, pusat distribusi ini juga akan berfungsi sebagai toko penyeimbang yang dapat mengintervensi harga bahan pokok ketika terjadi fluktuasi yang signifikan.

    "Ketika harga naik, pemerintah akan melakukan subsidi agar masyarakat bisa membeli dengan harga yang terjangkau. Ketika harga turun, pemerintah akan membeli dari petani dengan harga yang layak, sehingga mereka tidak dirugikan oleh tengkulak," ucap Ali.

    Ali juga mengatakan, pusat distribusi ini akan membantu produsen lokal untuk menyalurkan hasil panennya ke pasar, tanpa harus melalui perantara. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pokok.

    (Sf/Rs)