Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Dok. Dinkes Kaltim)
Samarinda - Jejak Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan pada Oktober 2023 kini kembali ramai diperbincangkan di beberapa media sosial. Termasuk salah satu penggalan survei terkait provinsi paling depresi di Indonesia, menyebut Kalimantan Timur berada di urutan kedua se-Indonesia mencapai angka 2,2 persen, setelah Jawa Barat sebesar 3,3 persen.
Dari survei tersebut, membuat warga net bertanya-tanya dan menanggapi hal itu, apa yang menjadi penyebab masyarakat Kaltim ini depresi. Bahkan tidak sedikit dari warga net juga menolak atas keberadaan hasil survei tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, menanggapi atas hasil survei tersebut. Karena sempat diragukan atas kebenaran surveinya, Jaya mengatakan bahwa survei tersebut benar telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.
“Iya itu memang data survei kesehatan yang diambil bulan Oktober 2023,” ujar Jaya dihubungi di Samarinda, Rabu (16/10/2024).
Tak menafikan angka tersebut, Jaya mengajak sebagian masyarakat juga melihat data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim yang juga merekam angka kebahagiaan warga Kaltim.
“Jika kita bandingkan dengan lembaga survei lainnya, walaupun temanya berbeda, tetapi indeks kebahagiaan di Provinsi Kaltim, bahkan diatas rata-rata nasional yakni sebesar 73,49, sedangkan angka nasional itu 71, itu artinya kan bagus,” terang Jaya.
Indikator apa saja yang digunakan dalam survei tersebut, Jaya menjelaskan perlu waktu dua minggu untuk mengetahui orang bisa dinyatakan depresi dengan tanda-tanda merasa sedih, putus harapan, hingga tak berharga.
“Angka 2,2 itu jika diambil dari gambaran keadaan seseorang dalam kurun dua minggu, seperti tertekan kah, dan apakah sudah termasuk menggambarkan perasaan, atau mungkin pikirannya,” paparnya.
Ukuran dalam survei yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi sesungguhnya di masyarakat. Ia menilai jika lebih banyak yang dipotret atau digambarkan, menurutnya dalam kehidupan selama dua minggu saja tidak dapat menggambarkan kondisi depresi. Karena apa yang dirasakan dan dipikirkan dalam kegiatan sehari-hari itu bisa berbeda-beda.
Jaya juga menjabarkan karakteristik masyarakat Kaltim kebanyakan mengalami kondisi tersebut karena kondisi finansial keluarga yang tidak sesuai dengan biaya hidup. Sehingga perlu daya juang lebih untuk mendapatkan perekonomian yang layak.
Walaupun di Kaltim Pendapatan Asli Daerah (PAD) disokong oleh sektor pertambangan sebesar 50 persen, tak memungkinkan seluruh masyarakat bisa berada di sektor pertambangan untuk mendapatkan upah yang tinggi.
“Sementara yang di tambang hanya segelintir orang, nah itu pemerintah ingin bagaimana ekonomi kreatif masyarakat bisa menunjang, agar mereka bisa meningkatkan pendapatannya,” tuturnya.
Bukan hanya itu, ia menilik data yang diambil tersebut pada 2023, artinya satu tahun pasca Covid-19 sejak 2022 juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Perlu adanya penyesuaian kebiasaan di masyarakat.
Namun dalam menyikapi ini, Jaya menegaskan bahwa Dinkes Kaltim sudah komitmen dan berupaya lebih meningkatkan pelayanan konseling untuk masyarakat.
“Kita akan melakukan pelayanan umum dan semakin ditingkatkan, agar masyarakat merasa bahagia. Kita akan lebih memudahkan mereka untuk konseling, fasilitas yang dibutuhkan itu mudah diakses,” tukasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Dok. Dinkes Kaltim)
Samarinda - Jejak Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan pada Oktober 2023 kini kembali ramai diperbincangkan di beberapa media sosial. Termasuk salah satu penggalan survei terkait provinsi paling depresi di Indonesia, menyebut Kalimantan Timur berada di urutan kedua se-Indonesia mencapai angka 2,2 persen, setelah Jawa Barat sebesar 3,3 persen.
Dari survei tersebut, membuat warga net bertanya-tanya dan menanggapi hal itu, apa yang menjadi penyebab masyarakat Kaltim ini depresi. Bahkan tidak sedikit dari warga net juga menolak atas keberadaan hasil survei tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, menanggapi atas hasil survei tersebut. Karena sempat diragukan atas kebenaran surveinya, Jaya mengatakan bahwa survei tersebut benar telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.
“Iya itu memang data survei kesehatan yang diambil bulan Oktober 2023,” ujar Jaya dihubungi di Samarinda, Rabu (16/10/2024).
Tak menafikan angka tersebut, Jaya mengajak sebagian masyarakat juga melihat data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim yang juga merekam angka kebahagiaan warga Kaltim.
“Jika kita bandingkan dengan lembaga survei lainnya, walaupun temanya berbeda, tetapi indeks kebahagiaan di Provinsi Kaltim, bahkan diatas rata-rata nasional yakni sebesar 73,49, sedangkan angka nasional itu 71, itu artinya kan bagus,” terang Jaya.
Indikator apa saja yang digunakan dalam survei tersebut, Jaya menjelaskan perlu waktu dua minggu untuk mengetahui orang bisa dinyatakan depresi dengan tanda-tanda merasa sedih, putus harapan, hingga tak berharga.
“Angka 2,2 itu jika diambil dari gambaran keadaan seseorang dalam kurun dua minggu, seperti tertekan kah, dan apakah sudah termasuk menggambarkan perasaan, atau mungkin pikirannya,” paparnya.
Ukuran dalam survei yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi sesungguhnya di masyarakat. Ia menilai jika lebih banyak yang dipotret atau digambarkan, menurutnya dalam kehidupan selama dua minggu saja tidak dapat menggambarkan kondisi depresi. Karena apa yang dirasakan dan dipikirkan dalam kegiatan sehari-hari itu bisa berbeda-beda.
Jaya juga menjabarkan karakteristik masyarakat Kaltim kebanyakan mengalami kondisi tersebut karena kondisi finansial keluarga yang tidak sesuai dengan biaya hidup. Sehingga perlu daya juang lebih untuk mendapatkan perekonomian yang layak.
Walaupun di Kaltim Pendapatan Asli Daerah (PAD) disokong oleh sektor pertambangan sebesar 50 persen, tak memungkinkan seluruh masyarakat bisa berada di sektor pertambangan untuk mendapatkan upah yang tinggi.
“Sementara yang di tambang hanya segelintir orang, nah itu pemerintah ingin bagaimana ekonomi kreatif masyarakat bisa menunjang, agar mereka bisa meningkatkan pendapatannya,” tuturnya.
Bukan hanya itu, ia menilik data yang diambil tersebut pada 2023, artinya satu tahun pasca Covid-19 sejak 2022 juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Perlu adanya penyesuaian kebiasaan di masyarakat.
Namun dalam menyikapi ini, Jaya menegaskan bahwa Dinkes Kaltim sudah komitmen dan berupaya lebih meningkatkan pelayanan konseling untuk masyarakat.
“Kita akan melakukan pelayanan umum dan semakin ditingkatkan, agar masyarakat merasa bahagia. Kita akan lebih memudahkan mereka untuk konseling, fasilitas yang dibutuhkan itu mudah diakses,” tukasnya.
(Sf/Rs)