Cari disini...
Seputar Kaltim
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud saat menghadiri kegiatan di Kabupaten PPU, Rabu (24/6/2026). (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud menyoroti persoalan pencemaran lingkungan saat menanggapi tingginya beban penyakit jantung di daerah. Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya memperkuat layanan kesehatan, tetapi juga harus menyentuh faktor lingkungan.
Pernyataan itu disampaikan Rudy saat menghadiri kegiatan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Rabu (24/6/2026).
Rudy menyinggung operasional Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan yang dibangun untuk memperkuat layanan kardiovaskular di Kaltim. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya perhatian terhadap sumber pencemaran.
Menurut dia, yang menjadi sorotan bukan aktivitas batubaranya secara langsung, melainkan dampak lingkungan yang ditimbulkan, termasuk residu hasil pembakaran.
"Yang saya sampaikan itu soal pencemarannya, berkaitan dengan FABA," kata Rudy.
Ia menjelaskan FABA atau fly ash dan bottom ash merupakan residu pembakaran yang dihasilkan dari aktivitas pembangkit maupun industri berbasis batubara.
Rudy menegaskan langkah pencegahan terhadap risiko lingkungan harus menjadi perhatian dan tidak boleh menunggu persoalan berkembang lebih jauh.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perhatian pemerintah terhadap tingginya kasus penyakit jantung di Kalimantan Timur.
Berdasarkan data kesehatan nasional per Desember 2025, prevalensi penyakit jantung di Kaltim mencapai 1,07 persen, menempatkan provinsi ini pada peringkat lima tertinggi secara nasional sekaligus tertinggi di Pulau Kalimantan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan fasilitas layanan jantung juga terus dilakukan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat.
Meski demikian, keterkaitan langsung antara paparan pencemaran dan tingginya kasus penyakit jantung memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut karena penyakit tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, pola hidup hingga kualitas lingkungan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud saat menghadiri kegiatan di Kabupaten PPU, Rabu (24/6/2026). (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud menyoroti persoalan pencemaran lingkungan saat menanggapi tingginya beban penyakit jantung di daerah. Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya memperkuat layanan kesehatan, tetapi juga harus menyentuh faktor lingkungan.
Pernyataan itu disampaikan Rudy saat menghadiri kegiatan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Rabu (24/6/2026).
Rudy menyinggung operasional Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan yang dibangun untuk memperkuat layanan kardiovaskular di Kaltim. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya perhatian terhadap sumber pencemaran.
Menurut dia, yang menjadi sorotan bukan aktivitas batubaranya secara langsung, melainkan dampak lingkungan yang ditimbulkan, termasuk residu hasil pembakaran.
"Yang saya sampaikan itu soal pencemarannya, berkaitan dengan FABA," kata Rudy.
Ia menjelaskan FABA atau fly ash dan bottom ash merupakan residu pembakaran yang dihasilkan dari aktivitas pembangkit maupun industri berbasis batubara.
Rudy menegaskan langkah pencegahan terhadap risiko lingkungan harus menjadi perhatian dan tidak boleh menunggu persoalan berkembang lebih jauh.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perhatian pemerintah terhadap tingginya kasus penyakit jantung di Kalimantan Timur.
Berdasarkan data kesehatan nasional per Desember 2025, prevalensi penyakit jantung di Kaltim mencapai 1,07 persen, menempatkan provinsi ini pada peringkat lima tertinggi secara nasional sekaligus tertinggi di Pulau Kalimantan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan fasilitas layanan jantung juga terus dilakukan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat.
Meski demikian, keterkaitan langsung antara paparan pencemaran dan tingginya kasus penyakit jantung memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut karena penyakit tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, pola hidup hingga kualitas lingkungan.
(Sf/Rs)