Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi salah satu penyakit mematikan yang mengancam perempuan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur (Kaltim). Untuk mencegah dan mendeteksi dini kanker serviks, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengembangkan inovasi baru, yaitu tes urine.
"Kanker serviks menyebabkan kematian tertinggi kedua bagi perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Ini menjadi fokus kami di Kaltim untuk menangani masalah ini," ujar Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, Rabu (24/1/2024).
Ia menjelaskan bahwa data di Indonesia menunjukkan bahwa ada sekitar 36.633 kasus kanker serviks setiap tahun, dengan angka kematian mencapai hampir 18 ribu orang. Hal ini berarti, hampir setengah dari penderita kanker serviks meninggal dunia.
"Salah satu penyebab tingginya angka kematian ini adalah rendahnya cakupan pemeriksaan kanker serviks yang masih menggunakan metode lama, yaitu dengan cara membuka alat kelamin perempuan dan mengambil sampel cairan dari leher rahim dengan alat yang disebut cocor bebek," tutur Jaya.
Menurut Jaya, metode ini sangat tidak nyaman dan melanggar privasi perempuan, terutama yang belum menikah. Banyak yang merasa malu dan enggan untuk diperiksa dengan cara ini.
"Oleh karena itu, kami berinovasi dengan mengganti metode pemeriksaan kanker serviks dengan tes urine. Kami bekerja sama dengan Bio Farma, sebuah BUMN yang bergerak di bidang farmasi, untuk mengembangkan tes urine ini," kata Jaya.
Jaya mengatakan bahwa tes urine ini sangat mudah dan sederhana. Perempuan hanya perlu buang air kecil dan menaruh urine di dalam botol yang sudah disiapkan. Kemudian urine tersebut akan dianalisis dengan alat khusus yang dapat mendeteksi keberadaan virus HPV (Human Papilloma Virus), yang merupakan pemicu utama kanker serviks," ungkapnya.
Jaya menambahkan bahwa tes urine ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memerlukan tenaga kesehatan yang terampil. Selain itu, tes urine ini juga lebih cepat dan akurat dalam memberikan hasil, apakah seseorang positif atau negatif terkena virus HPV.
"Kami berharap dengan inovasi ini, kami dapat mencegah dan mendeteksi kanker serviks sejak dini. Kami ingin data yang ada sekarang dapat berkurang atau bahkan hilang di masa depan," harap Jaya.
Jaya mengatakan bahwa inovasi tes urine ini sudah mulai diterapkan di dua rumah sakit di Samarinda, yaitu RSUD AWS dan RSUD KJD, yang sudah memiliki fasilitas untuk diagnosis dan terapi kanker serviks.
"Kami mengajak perempuan di Samarinda, terutama yang berusia 30 tahun ke atas, untuk datang ke rumah sakit dan melakukan tes urine ini secara cuma-cuma. Jangan takut dan malu, karena ini untuk kesehatan dan keselamatan Anda," ajaknya.
Jaya juga menyampaikan bahwa ada testimoni dari salah satu pasien kanker serviks yang sudah merasakan manfaat dari tes urine ini. "Dia bilang, sekarang sudah lebih tenang dan tidak merasa kesepian lagi. Dia juga mendapat pengobatan yang sesuai dan tepat dengan kondisinya," bebernya.
Jaya berharap bahwa inovasi tes urine ini dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi daerah lain di Indonesia, yang juga ingin menurunkan angka kematian akibat kanker serviks.
"Kita harus bersatu melawan kanker serviks, yang merupakan musuh bersama bagi perempuan Indonesia. Kita harus peduli dan berani untuk memeriksakan diri, sebelum terlambat," tegasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi salah satu penyakit mematikan yang mengancam perempuan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur (Kaltim). Untuk mencegah dan mendeteksi dini kanker serviks, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengembangkan inovasi baru, yaitu tes urine.
"Kanker serviks menyebabkan kematian tertinggi kedua bagi perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Ini menjadi fokus kami di Kaltim untuk menangani masalah ini," ujar Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, Rabu (24/1/2024).
Ia menjelaskan bahwa data di Indonesia menunjukkan bahwa ada sekitar 36.633 kasus kanker serviks setiap tahun, dengan angka kematian mencapai hampir 18 ribu orang. Hal ini berarti, hampir setengah dari penderita kanker serviks meninggal dunia.
"Salah satu penyebab tingginya angka kematian ini adalah rendahnya cakupan pemeriksaan kanker serviks yang masih menggunakan metode lama, yaitu dengan cara membuka alat kelamin perempuan dan mengambil sampel cairan dari leher rahim dengan alat yang disebut cocor bebek," tutur Jaya.
Menurut Jaya, metode ini sangat tidak nyaman dan melanggar privasi perempuan, terutama yang belum menikah. Banyak yang merasa malu dan enggan untuk diperiksa dengan cara ini.
"Oleh karena itu, kami berinovasi dengan mengganti metode pemeriksaan kanker serviks dengan tes urine. Kami bekerja sama dengan Bio Farma, sebuah BUMN yang bergerak di bidang farmasi, untuk mengembangkan tes urine ini," kata Jaya.
Jaya mengatakan bahwa tes urine ini sangat mudah dan sederhana. Perempuan hanya perlu buang air kecil dan menaruh urine di dalam botol yang sudah disiapkan. Kemudian urine tersebut akan dianalisis dengan alat khusus yang dapat mendeteksi keberadaan virus HPV (Human Papilloma Virus), yang merupakan pemicu utama kanker serviks," ungkapnya.
Jaya menambahkan bahwa tes urine ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memerlukan tenaga kesehatan yang terampil. Selain itu, tes urine ini juga lebih cepat dan akurat dalam memberikan hasil, apakah seseorang positif atau negatif terkena virus HPV.
"Kami berharap dengan inovasi ini, kami dapat mencegah dan mendeteksi kanker serviks sejak dini. Kami ingin data yang ada sekarang dapat berkurang atau bahkan hilang di masa depan," harap Jaya.
Jaya mengatakan bahwa inovasi tes urine ini sudah mulai diterapkan di dua rumah sakit di Samarinda, yaitu RSUD AWS dan RSUD KJD, yang sudah memiliki fasilitas untuk diagnosis dan terapi kanker serviks.
"Kami mengajak perempuan di Samarinda, terutama yang berusia 30 tahun ke atas, untuk datang ke rumah sakit dan melakukan tes urine ini secara cuma-cuma. Jangan takut dan malu, karena ini untuk kesehatan dan keselamatan Anda," ajaknya.
Jaya juga menyampaikan bahwa ada testimoni dari salah satu pasien kanker serviks yang sudah merasakan manfaat dari tes urine ini. "Dia bilang, sekarang sudah lebih tenang dan tidak merasa kesepian lagi. Dia juga mendapat pengobatan yang sesuai dan tepat dengan kondisinya," bebernya.
Jaya berharap bahwa inovasi tes urine ini dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi daerah lain di Indonesia, yang juga ingin menurunkan angka kematian akibat kanker serviks.
"Kita harus bersatu melawan kanker serviks, yang merupakan musuh bersama bagi perempuan Indonesia. Kita harus peduli dan berani untuk memeriksakan diri, sebelum terlambat," tegasnya.
(Sf/Rs)