Cari disini...
Seputar Kaltim
Waspada nyamuk Demam Berdarah Dengue. (Foto: Pinterest)
Tenggarong - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai 1.350.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2023-2024, kasus DBD di Kukar tertinggi se-Kaltim.
"Kasus ini terjadi pada 2023 lalu," kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar, Supriyadi, Selasa (2/7/2024).
Ia menyebut pada kasus ini, ada tiga kecamatan di Kukar dengan angka tertinggi, yakni Kecamatam Tenggarong, Sebulu dan Muara Kaman.
"Kalau di pertengahan 2024, DBD masih stabil. Gejala DBD pasti ada, tapi tidak sampai meninggal," sebutnya.
Supriyadi mengaku Dinkes telah berupaya untuk melalukan survei dan eduksi kepada masyarakat terkait pencegahan DBD.
“Untuk pencegahan DBD ini, teman-teman dilapangan juga tetap aktif melakukan edukasi ke masyarakat,” ungkapnya.
Faktor tingginya angka DBD di Kukar dikarenakan pemukiman warga yang berada di atas rawa, kemudian musim penghujan.
"Pada kasus DBD ini, paling banyaknya anak-anak karena imun tubuh mereka ini belum kuat," jelasnya.
Ia mengimbau orang tua agar menjaga kebersihan, mengecek dan rajin mengganti air di dalam bak. Selanjutnya meakukan pencegahan saat ini memasuki musim penghujanan seperti sekarang ini.
"Kalau ada anak yang terpapar DBD jangan panik, segera bawa berobat ke puskesmas atau klinik kesehatan terdekat, jangan sampai lambat dalam penanganannya," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Waspada nyamuk Demam Berdarah Dengue. (Foto: Pinterest)
Tenggarong - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai 1.350.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2023-2024, kasus DBD di Kukar tertinggi se-Kaltim.
"Kasus ini terjadi pada 2023 lalu," kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar, Supriyadi, Selasa (2/7/2024).
Ia menyebut pada kasus ini, ada tiga kecamatan di Kukar dengan angka tertinggi, yakni Kecamatam Tenggarong, Sebulu dan Muara Kaman.
"Kalau di pertengahan 2024, DBD masih stabil. Gejala DBD pasti ada, tapi tidak sampai meninggal," sebutnya.
Supriyadi mengaku Dinkes telah berupaya untuk melalukan survei dan eduksi kepada masyarakat terkait pencegahan DBD.
“Untuk pencegahan DBD ini, teman-teman dilapangan juga tetap aktif melakukan edukasi ke masyarakat,” ungkapnya.
Faktor tingginya angka DBD di Kukar dikarenakan pemukiman warga yang berada di atas rawa, kemudian musim penghujan.
"Pada kasus DBD ini, paling banyaknya anak-anak karena imun tubuh mereka ini belum kuat," jelasnya.
Ia mengimbau orang tua agar menjaga kebersihan, mengecek dan rajin mengganti air di dalam bak. Selanjutnya meakukan pencegahan saat ini memasuki musim penghujanan seperti sekarang ini.
"Kalau ada anak yang terpapar DBD jangan panik, segera bawa berobat ke puskesmas atau klinik kesehatan terdekat, jangan sampai lambat dalam penanganannya," pungkasnya.
(Sf/By)