Cari disini...
Seputar Kaltim
Potret RSUD RAPB PPU.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Gedung rawat inap baru kelas B di RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB), Penajam Paser Utara (PPU) belum difungsikan.
Bangunan yang rampung pada 9 Desember 2024 lalu itu belum dioperasikan karena kekurangan perawat untuk menjalankan operasional pelayanan kesehatan.
“Fasilitas, alat kesehatan, bahkan mebel sudah lengkap. Tapi kita masih menunggu kelengkapan ketenagaannya. Jadi sekarang kita masih kekurangan perawat dan setidaknya membutuhkan 19 orang,” ucap Direktur RSUD RAPB PPU, dr Lukasiwan Eddy Saputro.
Manajemen RSUD RAPB lantas membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mengisi kekurangan perawat melalui seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024.
“Kita tentu memprioritaskan putra-putri lokal untuk mengisi keterkosongan tenaga itu,” bebernya.
Namun hingga seleksi CPNS berakhir, pendaftar pada formasi kesehatan sepi peminat, sehingga RSUD RAPB mencoba berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU untuk memenuhi kebutuhan perawat.
“Apabila teman-teman di puskesmas barang kali kelebihan jumlah untuk pindah ke rumah sakit dan kami tentu akan menerima,” jelasnya.
Menurutnya kehadiran gedung rawat inap kelas B baru itu sangat dibutuhkan untuk mengurangi kepadatan pasien di ruang rawat inap yang lain.
Ia berharap dengan adanya kordinasi lintas sektor diharapkan dapat memenuhi kebutuhan untuk menjalankan operasional gedung rawat inap kelas B, sehingga mampu meningkatkan pelayanan ke masyarakat secara menyeluruh.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Potret RSUD RAPB PPU.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Penajam - Gedung rawat inap baru kelas B di RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB), Penajam Paser Utara (PPU) belum difungsikan.
Bangunan yang rampung pada 9 Desember 2024 lalu itu belum dioperasikan karena kekurangan perawat untuk menjalankan operasional pelayanan kesehatan.
“Fasilitas, alat kesehatan, bahkan mebel sudah lengkap. Tapi kita masih menunggu kelengkapan ketenagaannya. Jadi sekarang kita masih kekurangan perawat dan setidaknya membutuhkan 19 orang,” ucap Direktur RSUD RAPB PPU, dr Lukasiwan Eddy Saputro.
Manajemen RSUD RAPB lantas membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk mengisi kekurangan perawat melalui seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024.
“Kita tentu memprioritaskan putra-putri lokal untuk mengisi keterkosongan tenaga itu,” bebernya.
Namun hingga seleksi CPNS berakhir, pendaftar pada formasi kesehatan sepi peminat, sehingga RSUD RAPB mencoba berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU untuk memenuhi kebutuhan perawat.
“Apabila teman-teman di puskesmas barang kali kelebihan jumlah untuk pindah ke rumah sakit dan kami tentu akan menerima,” jelasnya.
Menurutnya kehadiran gedung rawat inap kelas B baru itu sangat dibutuhkan untuk mengurangi kepadatan pasien di ruang rawat inap yang lain.
Ia berharap dengan adanya kordinasi lintas sektor diharapkan dapat memenuhi kebutuhan untuk menjalankan operasional gedung rawat inap kelas B, sehingga mampu meningkatkan pelayanan ke masyarakat secara menyeluruh.
(Sf/Lo)