Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi Kantor Kepolisian Sektor Samarinda Kota. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Sebulan telah berlalu sejak Bertha Mini Jama (59), seorang guru, ditemukan tak bernyawa di gudang apotek berjaringan Kimia Farma, Jalan Hidayatullah. Kematian Bertha yang misterius ini masih menyisakan tanda tanya besar, terutama karena penyebab kematiannya yang belum terungkap.
Keluarga Bertha, yang masih berduka, kini menuntut Kimia Farma untuk membuka rekaman CCTV yang dapat memberikan petunjuk tentang kejadian sebenarnya. Namun, permintaan mereka terhenti oleh dinding ketidakpastian karena Kimia Farma mengklaim bahwa rekaman tersebut telah hilang.
Kepolisian Sektor Samarinda Kota, yang dipimpin oleh Kompol Tri Satria Firdaus, mengakui bahwa mereka masih menyelidiki insiden tersebut, termasuk CCTV yang dikatakan terhapus. "Kami telah mendalami kembali dan menemukan bahwa rekaman itu terhapus, yang kami duga karena batas waktu penyimpanan sistem," ujar Kompol Satria.
Langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kepolisian adalah melakukan pemeriksaan digital forensik. "Kami akan melanjutkan pembuktian melalui digital forensik dan akan mengumumkan hasilnya setelah terlihat," lanjut Kompol Satria.
Dalam penyelidikan yang telah dilakukan, kepolisian belum menemukan adanya unsur pidana dari hasil autopsi. "Autopsi telah kami lakukan dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," terangnya.
Sementara itu, kepolisian telah mengumpulkan keterangan dari pihak Kimia Farma dan keluarga korban. Masyarakat Samarinda menantikan kejelasan atas kasus ini, berharap bahwa keadilan akan segera terungkap bagi Jama dan keluarganya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi Kantor Kepolisian Sektor Samarinda Kota. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Sebulan telah berlalu sejak Bertha Mini Jama (59), seorang guru, ditemukan tak bernyawa di gudang apotek berjaringan Kimia Farma, Jalan Hidayatullah. Kematian Bertha yang misterius ini masih menyisakan tanda tanya besar, terutama karena penyebab kematiannya yang belum terungkap.
Keluarga Bertha, yang masih berduka, kini menuntut Kimia Farma untuk membuka rekaman CCTV yang dapat memberikan petunjuk tentang kejadian sebenarnya. Namun, permintaan mereka terhenti oleh dinding ketidakpastian karena Kimia Farma mengklaim bahwa rekaman tersebut telah hilang.
Kepolisian Sektor Samarinda Kota, yang dipimpin oleh Kompol Tri Satria Firdaus, mengakui bahwa mereka masih menyelidiki insiden tersebut, termasuk CCTV yang dikatakan terhapus. "Kami telah mendalami kembali dan menemukan bahwa rekaman itu terhapus, yang kami duga karena batas waktu penyimpanan sistem," ujar Kompol Satria.
Langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kepolisian adalah melakukan pemeriksaan digital forensik. "Kami akan melanjutkan pembuktian melalui digital forensik dan akan mengumumkan hasilnya setelah terlihat," lanjut Kompol Satria.
Dalam penyelidikan yang telah dilakukan, kepolisian belum menemukan adanya unsur pidana dari hasil autopsi. "Autopsi telah kami lakukan dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," terangnya.
Sementara itu, kepolisian telah mengumpulkan keterangan dari pihak Kimia Farma dan keluarga korban. Masyarakat Samarinda menantikan kejelasan atas kasus ini, berharap bahwa keadilan akan segera terungkap bagi Jama dan keluarganya.
(Sf/Rs)