Seputar Kaltim

    Tepian Kurang Terlihat, Pemilik Wahana Taman Bebaya Keluhkan Penerangan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    04 Juni 2024 pukul 18:56 WITA

    Taman Bebaya Fair yang sepi pengunjung, minimnya penerangan yang menjadi keluhan dari pemilik wahan permainan anak-anak. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Tak seperti yang dulu, taman tepian kini bukanlah menjadi salah satu destinasi utama masyarakat Samarinda untuk mengisi waktu luang dan menikmati semilir angin di sungai Mahakam. 

    Perhatian dari pihak swasta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terhadap Tepian Mahakam sebenarnya sudah berlangsung lama. Dibukanya Mahakam Lampion Garden (MLG), Mahakam Riverside Market (Marimar), Taman bebaya dan yang terbaru Teras Samarinda menjadi bukti masih ada upaya yang dilakukan untuk menghidupkan pinggir Sungai Mahakam ini.

    Namun, beberapa wisata, seperti MLG sudah mulai tergerus. Ketika adanya pandemi pengunjung mulai turun drastis, dan tren buruk itu bertahan hingga saat ini. Di posisi lain, Taman Bebaya juga mengalami hal demikin.

    Melihat keadaan itu, Pemkot Samarinda mulai mengadakan kegiatan-kegiatan besar yang mengundang banyak pengunjung. Tentu tujuan ini tidak lain mengembalikan suasana Tepian Mahakam seperti 15 tahun lalu, yang selalu dikunjungi orang. 

    Akan tetapi, kegiatan besar yang mengundang banyak orang tak selamanya dilakukan. Pemkot Samarinda kemudian membuat Taman Bebaya Fair yang memang sebagai proyek jangka panjang untuk menghidupkan sektor ekonomi di lingkungan itu. Dibuka mulai 27 Februari 2024, terdapat puluhan tenant menjual berbagai kuliner dan permainan anak-anak.

    Seiring berjalannya waktu, Taman Bebaya Fair yang terletak di halaman parkir Taman Bebaya kini terhempas, penurunan jumlah pengunjung menjadi derita sendiri bagi pemilik wahana permainan anak dan tenan makanan. Seperti yang dirasakan oleh Henri, salah satu pemilik wahana permainan anak ini mengaku keadaan terjadi setelah bulan puasa. Selama hari kerja, ia hanya mendapatkan pendapatan kotor sebesar Rp300-Rp500 ribu saja.

    "Awal wahana ini buka di sini memang masih ramai, setelah bulan puasa mulai sepi, pendapatan hanya segitu saja, tapi tempat ini ramai kalau hari Sabtu dan Minggu, bisa mencapai Rp700 - Rp900 ribu," ungkapnya.

    Biaya sewa yang dibebankan oleh Henri itu sebanyak Rp2 juta, sehingga ia harus berusaha untuk menutupi itu dengan membuka wahana lebih dari satu, ia memiliki empat wahana permainan, seperti rumah balon, mewarnai, kereta mesin dan mancing ikan.

    Henri bersama pemilik wahana lainnya juga berinisiatif membuat sekitar Taman Bebaya lebih berwarna dengan menambahkan sejumlah lampu hias. Usahanya terasa sia-sia, karena hanya terdapat di bagian dalam tempat wisata. Ia hanya menyayangkan penerangan dari pinggir jalan masih minim.

    "Kami di sini penerangan hanya mengandalkan lampu panel surya saja, dan itu pun banyak yang mati, dari pinggir jalan tidak terlihat. Apalagi LPJU belum membantu membantu penerangan di sini," tuturnya.

    Warga Harapan Baru ini meminta masalah tersebut menjadi perhatian lebih pemerintah, karena Henri tidak ingin lagi kesulitan mencari tempat baru, yang mana sebelumnya ia selalu berpindah tempat, dari pasar malam satu ke pasar malam lainnya.

    "Sebenarnya sudah sangat bersyukur di tempat ini, tapi hal-hal yang kurang ini bisa segera di baikin, itu saja harapan kita," tutupnya,

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Tepian Kurang Terlihat, Pemilik Wahana Taman Bebaya Keluhkan Penerangan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    04 Juni 2024 pukul 18:56 WITA

    Taman Bebaya Fair yang sepi pengunjung, minimnya penerangan yang menjadi keluhan dari pemilik wahan permainan anak-anak. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Tak seperti yang dulu, taman tepian kini bukanlah menjadi salah satu destinasi utama masyarakat Samarinda untuk mengisi waktu luang dan menikmati semilir angin di sungai Mahakam. 

    Perhatian dari pihak swasta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terhadap Tepian Mahakam sebenarnya sudah berlangsung lama. Dibukanya Mahakam Lampion Garden (MLG), Mahakam Riverside Market (Marimar), Taman bebaya dan yang terbaru Teras Samarinda menjadi bukti masih ada upaya yang dilakukan untuk menghidupkan pinggir Sungai Mahakam ini.

    Namun, beberapa wisata, seperti MLG sudah mulai tergerus. Ketika adanya pandemi pengunjung mulai turun drastis, dan tren buruk itu bertahan hingga saat ini. Di posisi lain, Taman Bebaya juga mengalami hal demikin.

    Melihat keadaan itu, Pemkot Samarinda mulai mengadakan kegiatan-kegiatan besar yang mengundang banyak pengunjung. Tentu tujuan ini tidak lain mengembalikan suasana Tepian Mahakam seperti 15 tahun lalu, yang selalu dikunjungi orang. 

    Akan tetapi, kegiatan besar yang mengundang banyak orang tak selamanya dilakukan. Pemkot Samarinda kemudian membuat Taman Bebaya Fair yang memang sebagai proyek jangka panjang untuk menghidupkan sektor ekonomi di lingkungan itu. Dibuka mulai 27 Februari 2024, terdapat puluhan tenant menjual berbagai kuliner dan permainan anak-anak.

    Seiring berjalannya waktu, Taman Bebaya Fair yang terletak di halaman parkir Taman Bebaya kini terhempas, penurunan jumlah pengunjung menjadi derita sendiri bagi pemilik wahana permainan anak dan tenan makanan. Seperti yang dirasakan oleh Henri, salah satu pemilik wahana permainan anak ini mengaku keadaan terjadi setelah bulan puasa. Selama hari kerja, ia hanya mendapatkan pendapatan kotor sebesar Rp300-Rp500 ribu saja.

    "Awal wahana ini buka di sini memang masih ramai, setelah bulan puasa mulai sepi, pendapatan hanya segitu saja, tapi tempat ini ramai kalau hari Sabtu dan Minggu, bisa mencapai Rp700 - Rp900 ribu," ungkapnya.

    Biaya sewa yang dibebankan oleh Henri itu sebanyak Rp2 juta, sehingga ia harus berusaha untuk menutupi itu dengan membuka wahana lebih dari satu, ia memiliki empat wahana permainan, seperti rumah balon, mewarnai, kereta mesin dan mancing ikan.

    Henri bersama pemilik wahana lainnya juga berinisiatif membuat sekitar Taman Bebaya lebih berwarna dengan menambahkan sejumlah lampu hias. Usahanya terasa sia-sia, karena hanya terdapat di bagian dalam tempat wisata. Ia hanya menyayangkan penerangan dari pinggir jalan masih minim.

    "Kami di sini penerangan hanya mengandalkan lampu panel surya saja, dan itu pun banyak yang mati, dari pinggir jalan tidak terlihat. Apalagi LPJU belum membantu membantu penerangan di sini," tuturnya.

    Warga Harapan Baru ini meminta masalah tersebut menjadi perhatian lebih pemerintah, karena Henri tidak ingin lagi kesulitan mencari tempat baru, yang mana sebelumnya ia selalu berpindah tempat, dari pasar malam satu ke pasar malam lainnya.

    "Sebenarnya sudah sangat bersyukur di tempat ini, tapi hal-hal yang kurang ini bisa segera di baikin, itu saja harapan kita," tutupnya,

    (Sf/Rs)