Seputar Kaltim
Komoditas cabai rawit lebih banyak didatangkan dari luar daerah. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Harga cabai rawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai Rp100 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram. Kenaikan dipengaruhi ketergantungan pasar terhadap pasokan dari luar daerah, sementara produksi petani lokal belum mampu memenuhi kebutuhan.
Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) PPU, Marlina, mengatakan harga cabai di tingkat petani masih berkisar Rp75 ribu per kilogram. Sementara di tingkat pedagang, harganya sudah menembus Rp110 ribu.
Menurutnya, mundurnya periode tanam akibat pengaruh cuaca El Nino ikut memengaruhi ketersediaan cabai. Ini mengakibatkan pasokan pasar lebih banyak didatangkan dari luar daerah, utamanya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
"Ada kenaikan lagi untuk cabai karena pasokannya lebih banyak dari luar. Di tingkat petani masih Rp75 ribu, sedangkan di pedagang mencapai Rp110 ribu," kata Marlina, Sabtu (7/11/2026).
Ketergantungan pasokan dari luar daerah membuat harga cabai rentan terhadap kenaikan biaya distribusi.
Gangguan kelancaran distribusi dan antrean bahan bakar minyak (BBM) juga berpotensi menambah ongkos logistik yang dibebankan pada harga komoditas.
Marlina menyebut peningkatan kebutuhan pangan untuk operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut menambah permintaan sejumlah komoditas. Kondisi itu terjadi saat produksi pangan menghadapi tekanan akibat cuaca.
"Penambahan operasional dapur MBG atau SPPG ikut meningkatkan permintaan komoditas pangan, sementara pengaruh El Nino terhadap produksi juga semakin kuat," ujarnya.
Pemkab PPU berupaya menjaga kelancaran pasokan melalui pengawasan distribusi BBM, termasuk bio solar dan pertalite. Pengendalian distribusi dinilai penting agar aktivitas pengangkutan barang tetap berjalan dan biaya logistik tidak semakin membebani harga pangan.
Selain itu, masyarakat diajak menanam cabai di pekarangan rumah untuk menambah produksi pangan lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
"Kami juga mengampanyekan gerakan menanam cabai dengan memanfaatkan pekarangan rumah agar ketersediaan pangan lokal bisa meningkat," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Komoditas cabai rawit lebih banyak didatangkan dari luar daerah. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Harga cabai rawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai Rp100 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram. Kenaikan dipengaruhi ketergantungan pasar terhadap pasokan dari luar daerah, sementara produksi petani lokal belum mampu memenuhi kebutuhan.
Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) PPU, Marlina, mengatakan harga cabai di tingkat petani masih berkisar Rp75 ribu per kilogram. Sementara di tingkat pedagang, harganya sudah menembus Rp110 ribu.
Menurutnya, mundurnya periode tanam akibat pengaruh cuaca El Nino ikut memengaruhi ketersediaan cabai. Ini mengakibatkan pasokan pasar lebih banyak didatangkan dari luar daerah, utamanya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
"Ada kenaikan lagi untuk cabai karena pasokannya lebih banyak dari luar. Di tingkat petani masih Rp75 ribu, sedangkan di pedagang mencapai Rp110 ribu," kata Marlina, Sabtu (7/11/2026).
Ketergantungan pasokan dari luar daerah membuat harga cabai rentan terhadap kenaikan biaya distribusi.
Gangguan kelancaran distribusi dan antrean bahan bakar minyak (BBM) juga berpotensi menambah ongkos logistik yang dibebankan pada harga komoditas.
Marlina menyebut peningkatan kebutuhan pangan untuk operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut menambah permintaan sejumlah komoditas. Kondisi itu terjadi saat produksi pangan menghadapi tekanan akibat cuaca.
"Penambahan operasional dapur MBG atau SPPG ikut meningkatkan permintaan komoditas pangan, sementara pengaruh El Nino terhadap produksi juga semakin kuat," ujarnya.
Pemkab PPU berupaya menjaga kelancaran pasokan melalui pengawasan distribusi BBM, termasuk bio solar dan pertalite. Pengendalian distribusi dinilai penting agar aktivitas pengangkutan barang tetap berjalan dan biaya logistik tidak semakin membebani harga pangan.
Selain itu, masyarakat diajak menanam cabai di pekarangan rumah untuk menambah produksi pangan lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
"Kami juga mengampanyekan gerakan menanam cabai dengan memanfaatkan pekarangan rumah agar ketersediaan pangan lokal bisa meningkat," pungkasnya.
(Sf/Lo)