Cari disini...
Seputar Kaltim
Kegiatan menggambar yang dilakukan oleh anak asuh dari Panti Rumah Harapan yang didampingi oleh Komunita Teman Panti. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah banyaknya donasi materi yang mengalir ke panti asuhan, sebuah komunitas di Samarinda hadir dengan fokus berbeda yakni pendampingan psikologis bagi anak-anak panti.
Bernama Teman Panti, komunitas ini berupaya mengisi kekosongan perhatian emosional yang sering terabaikan.
Founder Teman Panti, Rega Armella, mengungkapkan bahwa gagasan ini bermula dari pengamatan pribadinya.
Ia melihat banyak pihak yang datang ke panti hanya untuk menyalurkan sumbangan materi, duduk sebentar, berfoto, lalu pergi.
"Meskipun kami bukan komunitas dengan dana besar, kami memilih fokus pada aspek psikologis. Kami datang untuk mendampingi, berdialog, dan memastikan adik-adik panti merasa diperhatikan, bukan hanya diberi sumbangan," jelas Rega di tengah kegiatan yang berlangsung di Panti Rumah Harapan, Samarinda, Minggu (22/6/2025).
Awalnya, Teman Panti bermula dari seminar keagamaan di salah satu panti asuhan. Namun, respons positif dari anak-anak dan pihak panti memicu ide untuk konsisten mengadakan kegiatan interaktif.
"Kami selingi dengan bermain, dan ternyata responsnya sangat bagus. Dari situ kami terpikir untuk menjadikannya komunitas dan melakukannya secara rutin," tambah Rega.
Sejak setahun terakhir, Teman Panti konsisten mengadakan kunjungan setiap satu bulan sekali ke berbagai panti asuhan di Samarinda. Pola kegiatannya selalu sama, yakni dengan bermain, bernyanyi, mendongeng, dan melakukan dialog intensif selama 2 hingga 3 jam.
"Kami benar-benar datang, duduk, bertanya kabar, dan berbicara dengan mereka. Kami ingin mereka merasa ada yang peduli dan mau mendengarkan," kata Rega.
Untuk memastikan kualitas pendampingan, Teman Panti bahkan menghadirkan pakar dongeng. Para relawan dari kalangan mahasiswa ini diberikan pelatihan read aloud (mendongeng nyaring) agar mampu berinteraksi dengan anak-anak secara efektif.
"Jadi, kami tidak datang tanpa bekal. Relawan kami dilatih bagaimana mendongeng yang baik dan benar, sehingga kegiatan bermain menjadi lebih terarah dan berdampak positif pada psikis anak," terang Rega.
Meskipun kunjungan panti sifatnya bergantian di berbagai lokasi di Samarinda, Teman Panti memastikan sentuhan emosional dan psikologis tetap merata.
Untuk mendanai kegiatan, Teman Panti mengandalkan donasi terbuka dari masyarakat umum, dosen, hingga pihak-pihak yang tidak bisa menyumbang uang, seperti pakaian layak pakai, buku anak, buku pelajaran, mainan, atau boneka. Sumbangan ini juga digunakan untuk membeli kebutuhan kegiatan seperti alat mewarnai atau bahan belajar.
"Alhamdulillah, meskipun dananya pas-pasan, kami sudah konsisten berjalan selama setahun lebih, sudah sekitar 12 batchkegiatan. Kami mulai sejak 2023 dan kini akan menginjak tahun kedua," tutup Rega.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kegiatan menggambar yang dilakukan oleh anak asuh dari Panti Rumah Harapan yang didampingi oleh Komunita Teman Panti. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah banyaknya donasi materi yang mengalir ke panti asuhan, sebuah komunitas di Samarinda hadir dengan fokus berbeda yakni pendampingan psikologis bagi anak-anak panti.
Bernama Teman Panti, komunitas ini berupaya mengisi kekosongan perhatian emosional yang sering terabaikan.
Founder Teman Panti, Rega Armella, mengungkapkan bahwa gagasan ini bermula dari pengamatan pribadinya.
Ia melihat banyak pihak yang datang ke panti hanya untuk menyalurkan sumbangan materi, duduk sebentar, berfoto, lalu pergi.
"Meskipun kami bukan komunitas dengan dana besar, kami memilih fokus pada aspek psikologis. Kami datang untuk mendampingi, berdialog, dan memastikan adik-adik panti merasa diperhatikan, bukan hanya diberi sumbangan," jelas Rega di tengah kegiatan yang berlangsung di Panti Rumah Harapan, Samarinda, Minggu (22/6/2025).
Awalnya, Teman Panti bermula dari seminar keagamaan di salah satu panti asuhan. Namun, respons positif dari anak-anak dan pihak panti memicu ide untuk konsisten mengadakan kegiatan interaktif.
"Kami selingi dengan bermain, dan ternyata responsnya sangat bagus. Dari situ kami terpikir untuk menjadikannya komunitas dan melakukannya secara rutin," tambah Rega.
Sejak setahun terakhir, Teman Panti konsisten mengadakan kunjungan setiap satu bulan sekali ke berbagai panti asuhan di Samarinda. Pola kegiatannya selalu sama, yakni dengan bermain, bernyanyi, mendongeng, dan melakukan dialog intensif selama 2 hingga 3 jam.
"Kami benar-benar datang, duduk, bertanya kabar, dan berbicara dengan mereka. Kami ingin mereka merasa ada yang peduli dan mau mendengarkan," kata Rega.
Untuk memastikan kualitas pendampingan, Teman Panti bahkan menghadirkan pakar dongeng. Para relawan dari kalangan mahasiswa ini diberikan pelatihan read aloud (mendongeng nyaring) agar mampu berinteraksi dengan anak-anak secara efektif.
"Jadi, kami tidak datang tanpa bekal. Relawan kami dilatih bagaimana mendongeng yang baik dan benar, sehingga kegiatan bermain menjadi lebih terarah dan berdampak positif pada psikis anak," terang Rega.
Meskipun kunjungan panti sifatnya bergantian di berbagai lokasi di Samarinda, Teman Panti memastikan sentuhan emosional dan psikologis tetap merata.
Untuk mendanai kegiatan, Teman Panti mengandalkan donasi terbuka dari masyarakat umum, dosen, hingga pihak-pihak yang tidak bisa menyumbang uang, seperti pakaian layak pakai, buku anak, buku pelajaran, mainan, atau boneka. Sumbangan ini juga digunakan untuk membeli kebutuhan kegiatan seperti alat mewarnai atau bahan belajar.
"Alhamdulillah, meskipun dananya pas-pasan, kami sudah konsisten berjalan selama setahun lebih, sudah sekitar 12 batchkegiatan. Kami mulai sejak 2023 dan kini akan menginjak tahun kedua," tutup Rega.
(Sf/Rs)