Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi menegaskan perlunya kemandirian pakan ternak ayam petelur untuk menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi daerah.
Menurutnya kini Kutim masih bergantung pada pakan dari luar daerah. Hal ini membuat biaya peternak menjadi lebih tinggi dan berdampak pada harga telur di pasaran.
“Kita masih bergantung pada pakan dari luar, bahkan impor. Ini yang memengaruhi harga telur,” ujar Jimmi.
Ia menjelaskan pakan sangat menentukan kualitas telur. Jika pakan tidak sesuai, kualitas telur bisa menurun, seperti kulit yang lebih rapuh dan warna yang kurang bagus. Hal itu juga membuat harga telur turun.
Di sisi lain, untuk menjaga kualitas tetap baik, peternak harus menggunakan pakan yang bagus, namun harganya lebih mahal.
Jimmi menilai, kondisi ini berbeda dengan di Pulau Jawa yang sudah bisa memproduksi pakan sendiri karena bahan bakunya tersedia.
“Di sana mereka sudah mandiri. Semua bahan tersedia, sehingga biaya bisa ditekan,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah mulai mencari solusi dan inovasi agar ketergantungan terhadap pakan dari luar bisa dikurangi, sekaligus menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi.
“Kita berharap pemerintah mulai menyiapkan langkah-langkah inovatif, termasuk untuk mengantisipasi inflasi dari sektor pangan,” katanya.
Menurutnya dengan jumlah penduduk Kutim yang tidak terlalu besar, kemandirian di sektor ini seharusnya bisa diwujudkan.
“Kalau kita bisa mandiri, ini justru menjadi peluang besar. Penduduk kita belum sampai setengah juta, harusnya lebih mudah dibanding daerah lain yang jumlah penduduknya puluhan juta,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi menegaskan perlunya kemandirian pakan ternak ayam petelur untuk menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi daerah.
Menurutnya kini Kutim masih bergantung pada pakan dari luar daerah. Hal ini membuat biaya peternak menjadi lebih tinggi dan berdampak pada harga telur di pasaran.
“Kita masih bergantung pada pakan dari luar, bahkan impor. Ini yang memengaruhi harga telur,” ujar Jimmi.
Ia menjelaskan pakan sangat menentukan kualitas telur. Jika pakan tidak sesuai, kualitas telur bisa menurun, seperti kulit yang lebih rapuh dan warna yang kurang bagus. Hal itu juga membuat harga telur turun.
Di sisi lain, untuk menjaga kualitas tetap baik, peternak harus menggunakan pakan yang bagus, namun harganya lebih mahal.
Jimmi menilai, kondisi ini berbeda dengan di Pulau Jawa yang sudah bisa memproduksi pakan sendiri karena bahan bakunya tersedia.
“Di sana mereka sudah mandiri. Semua bahan tersedia, sehingga biaya bisa ditekan,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah mulai mencari solusi dan inovasi agar ketergantungan terhadap pakan dari luar bisa dikurangi, sekaligus menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi.
“Kita berharap pemerintah mulai menyiapkan langkah-langkah inovatif, termasuk untuk mengantisipasi inflasi dari sektor pangan,” katanya.
Menurutnya dengan jumlah penduduk Kutim yang tidak terlalu besar, kemandirian di sektor ini seharusnya bisa diwujudkan.
“Kalau kita bisa mandiri, ini justru menjadi peluang besar. Penduduk kita belum sampai setengah juta, harusnya lebih mudah dibanding daerah lain yang jumlah penduduknya puluhan juta,” pungkasnya.
(Sf/Lo)