Seputar Kaltim

    Tekan Inflasi dari Hulu, Balikpapan Siapkan 96 Hektare Sawah Baru

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    10 Juni 2026 pukul 23:21 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui sektor pertanian. 

    Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan kawasan persawahan seluas 96 hektare di Gunung Binjai, Balikpapan Timur, guna meningkatkan pasokan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan dari daerah lain.

    Upaya tersebut dinilai penting karena sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, tomat dan beras masih menjadi penyumbang utama fluktuasi harga di Balikpapan. Dengan meningkatnya produksi lokal, pemerintah berharap kestabilan pasokan dapat terjaga, sehingga tekanan inflasi dapat ditekan.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan pengembangan lahan pertanian menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

    “Dari total 96 hektare lahan yang disiapkan, saat ini 42 hektare sudah berhasil dicetak menjadi sawah produktif. Sisanya sekitar 54 hektare akan terus kami dorong agar dapat segera dimanfaatkan,” ucap Bagus kepada awak media, Rabu (10/6/2026).

    Menurut Bagus, keberadaan lahan pertanian baru tersebut tidak hanya mendukung kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menopang program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan bahan pangan berkelanjutan.

    Namun, percepatan pengembangan lahan masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran daerah.

    “Karena itu, Pemkot Balikpapan berharap mendapat dukungan dari pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur pertanian,” jelasnya.

    Sejumlah fasilitas yang dibutuhkan antara lain jalan usaha tani, jaringan irigasi teknis, hingga pembangunan sumur dalam guna menjamin ketersediaan air saat musim kemarau.

    “Ketersediaan air menjadi faktor utama. Jika irigasi memadai, produktivitas pertanian bisa tetap terjaga sepanjang tahun,” katanya.

    Selain mengembangkan kawasan Gunung Binjai, pemerintah juga mulai memetakan potensi lahan pertanian baru di wilayah utara Balikpapan. Area di sekitar sisi kanan dan kiri jalan tol yang masih didominasi lahan gambut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui skema Kawasan Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan (KP2B).

    Melalui skema tersebut, pemerintah daerah berpeluang memperoleh dukungan pendanaan tambahan dari pemerintah pusat. 

    “Namun, pengajuan bantuan harus didukung perencanaan teknis yang memenuhi persyaratan program,” imbuhnya.

    Tidak hanya membuka lahan baru, Pemkot Balikpapan juga berencana mengusulkan bantuan alat dan mesin pertanian, pupuk, serta benih unggul untuk meningkatkan produktivitas petani.

    Bagus menegaskan, penguatan sektor pertanian menjadi investasi jangka panjang bagi perekonomian daerah. Selain menjaga pasokan pangan, peningkatan produksi lokal juga dapat membantu mengendalikan harga kebutuhan pokok yang selama ini rentan bergejolak.

    “Inflasi di Balikpapan masih dipengaruhi harga cabai dan tomat. Karena itu, produksi pangan harus diperkuat dari sekarang agar pasokan tetap tersedia dan harga lebih stabil,” tegasnya.

    Dengan pengembangan sawah seluas 96 hektare dan rencana perluasan kawasan pertanian di wilayah utara, Balikpapan berharap dapat membangun fondasi kemandirian pangan yang lebih kuat, sekaligus menciptakan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Tekan Inflasi dari Hulu, Balikpapan Siapkan 96 Hektare Sawah Baru

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    10 Juni 2026 pukul 23:21 WITA

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui sektor pertanian. 

    Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan kawasan persawahan seluas 96 hektare di Gunung Binjai, Balikpapan Timur, guna meningkatkan pasokan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan dari daerah lain.

    Upaya tersebut dinilai penting karena sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, tomat dan beras masih menjadi penyumbang utama fluktuasi harga di Balikpapan. Dengan meningkatnya produksi lokal, pemerintah berharap kestabilan pasokan dapat terjaga, sehingga tekanan inflasi dapat ditekan.

    Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan pengembangan lahan pertanian menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

    “Dari total 96 hektare lahan yang disiapkan, saat ini 42 hektare sudah berhasil dicetak menjadi sawah produktif. Sisanya sekitar 54 hektare akan terus kami dorong agar dapat segera dimanfaatkan,” ucap Bagus kepada awak media, Rabu (10/6/2026).

    Menurut Bagus, keberadaan lahan pertanian baru tersebut tidak hanya mendukung kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menopang program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan bahan pangan berkelanjutan.

    Namun, percepatan pengembangan lahan masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran daerah.

    “Karena itu, Pemkot Balikpapan berharap mendapat dukungan dari pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur pertanian,” jelasnya.

    Sejumlah fasilitas yang dibutuhkan antara lain jalan usaha tani, jaringan irigasi teknis, hingga pembangunan sumur dalam guna menjamin ketersediaan air saat musim kemarau.

    “Ketersediaan air menjadi faktor utama. Jika irigasi memadai, produktivitas pertanian bisa tetap terjaga sepanjang tahun,” katanya.

    Selain mengembangkan kawasan Gunung Binjai, pemerintah juga mulai memetakan potensi lahan pertanian baru di wilayah utara Balikpapan. Area di sekitar sisi kanan dan kiri jalan tol yang masih didominasi lahan gambut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui skema Kawasan Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan (KP2B).

    Melalui skema tersebut, pemerintah daerah berpeluang memperoleh dukungan pendanaan tambahan dari pemerintah pusat. 

    “Namun, pengajuan bantuan harus didukung perencanaan teknis yang memenuhi persyaratan program,” imbuhnya.

    Tidak hanya membuka lahan baru, Pemkot Balikpapan juga berencana mengusulkan bantuan alat dan mesin pertanian, pupuk, serta benih unggul untuk meningkatkan produktivitas petani.

    Bagus menegaskan, penguatan sektor pertanian menjadi investasi jangka panjang bagi perekonomian daerah. Selain menjaga pasokan pangan, peningkatan produksi lokal juga dapat membantu mengendalikan harga kebutuhan pokok yang selama ini rentan bergejolak.

    “Inflasi di Balikpapan masih dipengaruhi harga cabai dan tomat. Karena itu, produksi pangan harus diperkuat dari sekarang agar pasokan tetap tersedia dan harga lebih stabil,” tegasnya.

    Dengan pengembangan sawah seluas 96 hektare dan rencana perluasan kawasan pertanian di wilayah utara, Balikpapan berharap dapat membangun fondasi kemandirian pangan yang lebih kuat, sekaligus menciptakan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

    (Sf/Lo)