Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menegaskan pengawasan orang tua menjadi kunci dalam mencegah tawuran dan balap liar yang melibatkan remaja di Kutim. Ia menilai pendekatan persuasif dan peran keluarga penting untuk mencegah kenakalan remaja.
Menurutnya, keterlibatan dalam tawuran dapat berdampak terhadap masa depan remaja sehingga perlu dicegah sejak dini.
"Yang salah itu sebenarnya yang tawuran. Jadi harus ada antisipasi agar tawuran itu tidak terjadi. Kita juga libatkan orang tuanya untuk mengawasi anak-anaknya," ujar Jimmi.
Ia mengatakan pembinaan dan pengawasan keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah anak terlibat tawuran dan kenakalan remaja.
"Penekanannya lebih kepada prinsip persuasif dan kekeluargaan. Karena sumber-sumber tawuran ini biasanya karena kumpul-kumpul yang mungkin sudah di luar batas waktunya," katanya.
Jimmi juga menilai pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur jam malam bagi anak dan remaja sebagai salah satu upaya pencegahan tawuran.
Ia juga menilai penyebab tawuran perlu ditelusuri agar langkah pencegahan yang dilakukan lebih tepat sasaran.
"Kita ingin ada yang meneliti apa penyebab tawuran dan siapa-siapa orangnya. Dari situ bisa dilihat akar permasalahannya, kemudian keluarganya dilibatkan untuk melakukan pengawasan. Sayang kalau anak-anak yang masih punya masa depan justru terlibat tawuran. Jika sudah terdata karena tindakan seperti itu, tentu dapat berdampak pada masa depan mereka. Itu juga bisa menimbulkan trauma," ucapnya.
Selain tawuran, Jimmi turut menyoroti balap liar yang melibatkan pelajar dan menjadi perhatian masyarakat di Kutim. Ia menilai pengawasan orang tua penting untuk mencegah anak terlibat dalam aktivitas tersebut.
Untuk memberikan efek jera, Jimmi menilai pelaku balap liar perlu diberi sanksi yang tegas namun tetap bersifat mendidik.
"Kalau yang balap liar itu dihukum, cukup ambil kuncinya dan suruh dia dorong sendiri motornya sampai ke kantor lantas. Itu hukumannya," imbuhnya.
Ia berharap keluarga dapat meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sejak dini agar tidak terlibat dalam tawuran maupun balap liar.
"Yang perlu kita harapkan adalah keluarga memahami pentingnya pengawasan sejak dini. Supaya kejadian-kejadian seperti tawuran itu tidak terulang lagi," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menegaskan pengawasan orang tua menjadi kunci dalam mencegah tawuran dan balap liar yang melibatkan remaja di Kutim. Ia menilai pendekatan persuasif dan peran keluarga penting untuk mencegah kenakalan remaja.
Menurutnya, keterlibatan dalam tawuran dapat berdampak terhadap masa depan remaja sehingga perlu dicegah sejak dini.
"Yang salah itu sebenarnya yang tawuran. Jadi harus ada antisipasi agar tawuran itu tidak terjadi. Kita juga libatkan orang tuanya untuk mengawasi anak-anaknya," ujar Jimmi.
Ia mengatakan pembinaan dan pengawasan keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah anak terlibat tawuran dan kenakalan remaja.
"Penekanannya lebih kepada prinsip persuasif dan kekeluargaan. Karena sumber-sumber tawuran ini biasanya karena kumpul-kumpul yang mungkin sudah di luar batas waktunya," katanya.
Jimmi juga menilai pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur jam malam bagi anak dan remaja sebagai salah satu upaya pencegahan tawuran.
Ia juga menilai penyebab tawuran perlu ditelusuri agar langkah pencegahan yang dilakukan lebih tepat sasaran.
"Kita ingin ada yang meneliti apa penyebab tawuran dan siapa-siapa orangnya. Dari situ bisa dilihat akar permasalahannya, kemudian keluarganya dilibatkan untuk melakukan pengawasan. Sayang kalau anak-anak yang masih punya masa depan justru terlibat tawuran. Jika sudah terdata karena tindakan seperti itu, tentu dapat berdampak pada masa depan mereka. Itu juga bisa menimbulkan trauma," ucapnya.
Selain tawuran, Jimmi turut menyoroti balap liar yang melibatkan pelajar dan menjadi perhatian masyarakat di Kutim. Ia menilai pengawasan orang tua penting untuk mencegah anak terlibat dalam aktivitas tersebut.
Untuk memberikan efek jera, Jimmi menilai pelaku balap liar perlu diberi sanksi yang tegas namun tetap bersifat mendidik.
"Kalau yang balap liar itu dihukum, cukup ambil kuncinya dan suruh dia dorong sendiri motornya sampai ke kantor lantas. Itu hukumannya," imbuhnya.
Ia berharap keluarga dapat meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sejak dini agar tidak terlibat dalam tawuran maupun balap liar.
"Yang perlu kita harapkan adalah keluarga memahami pentingnya pengawasan sejak dini. Supaya kejadian-kejadian seperti tawuran itu tidak terulang lagi," pungkasnya.
(Sf/Lo)